Suami Palsu - 40 Days Husband

Suami Palsu - 40 Days Husband
Bab 83


"Xena?" gumam Evan. Dia yang keheranan pun mendekat, tapi di tepis Xena dengan kasar. Istrinya itu juga memberi tatapan sengit, bahkan tak hanya padanya, Devgan juga sama terkena imbas.


"Loh, Xen. Tumben ke sini tidak bilang-bilang," tegur Dimitri. Melihat kedatangan sang menantu membuat atmosfer ruangan berubah dingin. Dimitri pun menyadarinya ada yang tak beres di sini.


Xena yang mukanya sudah merah padam pun menatap Dimitri yang mengerjap keheranan.


"Maaf, Pa. Maaf kalau kedatangan aku ke sini membuat keributan. Tapi aku benar-benar tidak bisa menahannya lagi," sahut Xena.


Mata Dimitri langsung terarah ke Evan. Dia menduga kalau anaknya telah berbuat salah atau mungkin berselingkuh lagi, maka dari itu sang menantu murka.


"Xen, sebenarnya ada apa?" tanya Evan. Hatinya gusar. Tak biasanya Xena memberinya tatapan sebenco itu. Bukankah seharusnya Xena berterima kasih karena lukisannya telah terjual habis.


"Ada apa katamu?" ulang Xena. Nada suaranya melengking dan membuat papa mertuanya spontan terduduk-kaget, untung tidak terkena serangan jantung.


"Xen, tenang," ucap Evan lagi. Dia tuntun Xena ke sofa tapi Xena menepisnya.


"Kamu tega!" sentaknya. Kini mata Xena yang merah juga terarah ke Devgan. "Kamu juga sama, kalian kejam! Teganya kalian begini ke aku."


"Xena, ada apa. Tolong jelaskan alih-alih marah begini. Aku tidak tahu," sambar Devgan.


"Oh tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu? Aku tahu kalian sudah memborong semua lukisanku. Iya, 'kan? Jawab!"


Baik Evan maupun Devgan langsung terbeku. Jakun mereka naik turun. Mereka juga sempat saling tatap.


Sementara itu Dimitri yang terduduk hanya bisa mengerjap. Sekarang dia baru paham kalau Aililea De Luna itu adalah Xena. Si pelukis yang karyanya diborong Evan dan Devgan.


"Xena, dengarkan dulu penjelasan aku," ucap Devgan.


"Apa? Apa yang harus aku dengarkan, Dev? Apa aku harus mendengar betapa menyedihkannya aku? Atau, apa aku harus mendengar betapa jeleknya lukisanku makanya kalian borong semua, begitu?" cecar Xena. Kini air matanya menetes. Tak sanggup dia tegar kalau nyatanya hatinya perih. Harga diri terluka amat dalam dan itu dilakukan oleh dua orang yang dikenalnya.


Sekarang mata Xena yang merah terarah ke Evan. "Kamu juga, Ev. Apa aku meminta kamu buat melakukan ini? Aku hanya minta kamu beli satu, bukan semua? Kamu pikir aku pengemis?"


Evan sontak gelagapan, begitu juga Devgan. Mereka tak menyangka niat baik malah berakhir begini.


"Kalian beli lukisan sebanyak itu untuk apa? Untuk apa?" Xena semakin histeris. Raungannya semakin kencang dan membuat tiga lelaki di sana jadi bingung harus apa.


"Kalian kejam! Kalian jahat! Apa aku pengemis di mata kalian?"


Evan dan Devgan kompak menggeleng.


"Bukan seperti itu, Xen," sela Devgan. "Aku membeli itu bukan karena itu. Aku membeli itu karena ... karena ...."


"Karena aku akan membuka kafe dan rencananya akan memasang lukisan kamu di sana," sahut Devgan spontan. Sebuah kebohongan yang membuat Xena menghapus air mata.


"Aku benar, Xen. Aku memang berencana membuka kafe," timpal Devgan lagi. Dia berharap kebohongannya ini dipercaya Xena.


Ajaibnya Xena percaya karena berpikir itu masuk akal. Tak ayal, Evan yang melihat itu jadi gelagapan. Dia tidak punya alasan yang masuk akal seperti Devgan.


Sekarang mata Xena terarah ke Evan. Nyalang. Sangat tajam. Dia kecewa pada Evan. Suami yang dicintainya bahkan tak mengerti apa yang dia inginkan.


"Aku kecewa padamu, Ev."


Setelah mengatakan itu Xena pun memutar tumit. Dia hapus air matanya lalu keluar dari ruang rapat dengan perasan hancur lebur. Xena beranggapan kalau Evan tak menghargainya, Evan tak mengerti apa-apa. Dia kecewa, amat kecewa. Tak seharusnya lukisan yang dia buat dengan kesungguhan menjadi lelucon untuk dua bersaudara itu.


"Xena!" teriak Evan. Kini mereka sudah ada di parkiran.


Xena yang kesal terpaksa memutar badan. Dia tatap Evan dengan matanya yang sembab.


"Apa? Apa yang ingin kamu katakan, Ev?"


"Aku minta maaf. Aku tidak berniat begitu. Aku hanya ingin membantu, itu saja. Aku rasa kamu tidak perlu semarah ini, Xen."


"Apa katamu? Jadi kamu pikir aku berlebihan?" Air mata meluruh lagi, tapi cepat Xena menghapusnya.


"Ev, andai kamu tahu harga sebuah karya. Andai kamu tahu bagaimana sulitnya proses aku melukis. Andai kamu tahu betapa banyak yang aku curahkan ke sana. Kamu tidak akan mengatakan hal semenyakitkan ini."


Melihat kilatan kemarahan Xena, Evan pun membeku.


"Asal kamu tahu, Ev. Aku menjual lukisan itu untuk dihargai. Aku mengubur keinginan besar dan memutuskan menjualnya itu karena aku berharap ada segelintir orang yang menghargai hasil karyaku. Aku berharap ada orang yang benar-benar menyukai lukisanku. Walaupun satu aku pasti akan bersyukur. Karena apa, karena itu yang aku inginkan. Itu kepuasan batin yang tidak akan bisa kamu bayar dengan uang."


"Xen." Evan meraih tangan Xena. Tapi Xena menepis dan segera masuk mobil. Dia abaikan teriakan Evan dan terus mengemudi. Hatinya masih sakit. Amat sakit.


_


_


_


Besok Crazy UP lagi


makasih udah mau nunggu 🥰🥰