
“Mohon bertanya dengan sopan!” pinta Xena ke wartawan.
Akhirnya satu persatu wartawan itu mulai menanyakan perihal berita yang beredar. Xena tidak mau menanggapi perihal lahan tambang yang dinilai bermasalah, dia hanya ingin membahas soal dana CSR yang membuat nama Evan menjadi buruk.
Demi melindungi pria itu, Xena pun tidak mengakui bahwa Evan adalah suaminya. “Kami tidak memiliki hubungan, kami sudah bercerai satu tahun yang lalu, jika kalian tidak percaya coba tanya ke firma hukum yang menangani perceraian kami.”
“Brttt …” Rudi Tabuti yang sedang minum pun menyemburkan cairan di dalam mulutnya sesaat setelah wawancara itu muncul di televisi. Pria itu kaget karena namanya dibawa-bawa oleh Xena. Ia tak percaya mantan kliennya itu akan menyeretnya.
“Apa ini? kenapa dia berbicara seperti itu?” gerutu Rudi.
Sementara itu, Evan yang melihat tergesa-gesa pulang ke rumah. Ia langsung mencari keberadaan Xena. Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajahnya, terlebih mendapati Xena malah dengan tenang sedang melukis di ruang kerjanya.
“Xen!” Panggil Evan. Ia melangkah tanpa menutup pintu kamar mendekat ke arah sang istri yang ternyata sedang melanjutkan lukisan dirinya.
“Sudah pulang?” tanya Xena, sikapnya biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. “Aku belum menyiapkan makan malam, aku ingin menyelesaikan lukisanmu.”
“Menyelesaikan? Apa setelah itu kamu ingin meninggalkanku lagi?” Evan benar-benar cemas, dia bahkan mendekat dan mencekal pergelangan tangan istrinya yang sedang memegang kuas. “Katakan! Apa kamu akan meninggalkanku lagi?”
Bukannya memberi penjelasan, Xena malah tersenyum dan menangkup pipi sang suami. “Aku ingin memberikannya sebagai hadiah, siapa yang ingin meninggalkanmu?”
“Wawancara itu, di media,” ucap Evan kebingungan.
“Aku ingin berita buruk tentangmu mereda, satu-satunya cara adalah mengakui bahwa kita tidak memiliki hubungan. Aku sudah menghubungi Pak Rudi, aku memintanya mengiyakan jika wartawan bertanya tapi hanya sampai di situ saja dia boleh berbicara, dia tidak boleh membuka info lain.”
“Apa yang kamu berikan kepadanya sebagai imbalan?” Evan memindai wajah Xena, dia tak menyangka bahwa wanita yang dinilainya lugu, ternyata bisa melobi orang.
“Aku tidak memberikannya apa-apa, aku mengancamnya.” Xena tersenyum dan entah kenapa Evan tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum.
“Kamu memang sudah berubah,” gumam Evan. Ia letakkan kuas Xena dan membungkukkan badan. “Lalu apa kita harus melanjutkan sandiwara berpura-pura menjadi istri dan suami palsu?”
“Lalu bagaimana kalau aku rindu? Aku harus bagaimana?” Evan merajuk.
“Kita bisa diam-diam bertemu, tapi sebelum itu tidak ada salahnya kita menghabiskan waktu bersama.”
Evan menegakkan kembali punggungnya, mungkinkah Xena sedang memberinya kode untuk berlayar mengarungi samudera. Sepertinya iya karena tepat setelah memikirkan hal itu di dalam otaknya, Xena menarik dasi yang masih melingkar di lehernya hingga dia membungkuk kembali. Wajah mereka bahkan sangat dekat, hingga membuatnya menahan napas.
“Ev, aku ingin melakukannya seperti saat pertama kali kamu melakukannya di ruang kerjamu, tapi kali ini jelas aku tidak akan memberontak.”
“Kamu ternyata nakal, jika kamu seperti ini terus. Aku tidak akan segan memintanya setiap malam,” ucap Evan mesum.
“Tapi kita harus bertemu diam-diam, sepertinya kita kena tulah ucapan sendiri untuk menjadi istri dan suami selama empat puluh hari,”ucap Xena. Ia mencium pipi Evan lantas meniupkan udara ke telinga suaminya itu. “Aku suka bau tubuhmu,” bisik Xena yang seketika membuat bulu kuduk Evan menari-nari.
“Xen, kamu membuatku merinding. Kamu tidak kesambet setan pohon murbei ‘kan?”
"Tidak! aku hanya sedang merindukanmu.”
_
_
_
like
komen
happy Saturday nite 😘