
Di Kediaman Keluarga Shayne..
Angel tidak mau keluar dari kamarnya , karena semenjak kecil tidak memiliki seorang Ibu , jadi tidak ada yang mengerti dengan perasaan Angel.
Angel selama ini selalu menutup diri tentang perasaannya, Drake yang seorang Ayah pun tidak tahu tentang apa yang ada di dalam hati Angel, pasalnya walaupun Drake selalu memberi apapun yang Angel Minta , tapi kenyataannya dia hanyalah seorang Ayah yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.
Angel tidak pernah memiliki seseorang yang benar - benar bisa mendengarkan saat hatinya sedang hancur.
Wesley yang cemas dengan Angel , Karena Seharian Angel tidak keluar dari Kamarnya. pasalnya Wesleylah orang paling dekat dengan Angel, walau dia hanya bawahan Drake, tapi setidaknya Wesley lebih tahu tentang Angel daripada Ayahnya.
"Tok
"Tok
"Tok
Wesley mengetuk pintu, dan memanggil nama Angel tapi tidak ada sautan dari dalam.
Wesley menarik gagang pintu yang ternyata tidak di kunci, Wesley kemudian Masuk menghampiri Angel yang sedang duduk melamun di depan Jendela kamarnya.
Air matanya Membasahi pipinya, Matanya terlihat bengkak Karena terlalu lama menangis, tatapannya Kosong kedepan.
Wesley merasakan Hatinya sakit saat Melihat orang yang dia layani sejak kecil terlihat sangat menyedihkan.
Wesley Memeluk Angel dari samping, dia menyenderkan kepala Angel di tubuhnya sambil mengusap Puncak kepala Angel " Nona Angel , Percayalah semua masalah Ini untuk kebaikan Nona " Ucap Wesley lembut.
Angel berbicara dengan suara Parau " Tapi kenapa Harus seperti ini paman Wesley ?, apakah Leon begitu membenci Aku paman ?"
Wesley melepaskan pelukannya, dia jongkok di depan Angel, Menghapus Air matanya " Nona Angel , Masalah yang sedang di hadapi Tuan Leon sangat Besar , ini di luar Kendalinya , geng Dragon pun belum tentu bisa menyelamatkan anda jika anda terlibat dengan masalah Tuan Leon " Ucap Wesley serius.
" Tapi kenapa Leon tidak menjelaskannya langsung padaku , apakah aku sama sekali tidak ada Artinya bagi dia ?!" Angel berkata dengan nada tinggi.
Wesley menghela napas, awalnya dia tidak ingin menjelaskan masalah ini pada Angel, Karena Wesley takut Angel akan khawatir pada Leon.
tapi di sisi lain dia merasa kasihan dengan Angel, jika tidak di jelaskan sekarang takutnya malah memperburuk ke adaan Angel.
Wesley Memegang kedua bahu Angel " Dengarkan baik - baik Nona Angel , Tuan Leon melakukan ini Untuk menjaga anda agar tidak membahayakan keselamatan anda, Percaya pada saya ,Tuan Leon pasti akan menjelaskan semuanya pada anda setelah dia menyelesaikan semua masalahnya "
" Kenapa harus nanti ?, Kenapa tidak sekarang !?" Angel masih tidak percaya dengan Wesley.
" Karena dia tidak punya waktu untuk menjelaskannya, Nona Angel ,jika anda benar - benar peduli dengan Tuan Leon ,Saya rasa anda akan mengerti dengan perubahan sikapnya !" Ucap Wesley tegas, yang membuat Angel sedikit terbangun dari rasa frustasinya.
Angel Mulai sadar jika yang dikatakan Wesley Benar, Maka Leon sangat peduli padanya.
tapi jika yang di katakan Wesley salah, maka dia akan benar - benar sangat kecewa pada Leon.
Angel menghapus Air Matanya, dia memilih untuk percaya dengan Leon, dia akan menunggu saat Leon menceritakan masalah yang sebenarnnya.
Walau musuh mereka yang hadapi di atas Mereka, tapi setidaknya untuk memberikan informasi jika kelompok Tudung Merah mendekati Angel.
...****************...
di Halaman Vila Leon..
" Jin, Kamu harus segera meningkatkan Kekuatanmu !" Leon berkata dengan tegas.
Jin menghela napas ,dia berkata dengan tidak berdaya " Tuan Leon , saya sudah tidak muda lagi , bagaimanapun Aura Saya akan sangat Sulit untuk membuka tahap selanjutnya "
Leon sebenarnya Tahu akan tentang itu, tapi dia memiliki sebuah cara dari ingatan masa lalunya.
Leon ingin Anak buahnya bisa melindungi diri, pasalnya dari ingatan Masa lalunya , Jika dia dulu Mencoba melindungi orang di sekitarnya sendirian tanpa memikirkan untuk Meningkatkan kekuatan orang di sekitarnya.
Akhirnya malapetaka datang, Leon tidak bisa melindungi orang di sekitarnya sendirian , Mereka semua Mati karena Musuh menyerangnya secara bersamaan.
Memang benar Leon yang dulu di juluki Dewa Kematian ,berhasil membantai semua musuhnya , tapi sebenarnya ada perasaan menyesal yang mengganjal di hatinya , yang membuat dia terus menurus membunuh Orang.
Hingga Julukan Dewa Kematian Melekat padanya, tapi sebanyak apapun Leon membunuh Rasa sesal di hatinya tidak pernah Hilang.
Yang ada Rasa itu semakin besar dan menggerogoti Mentalnya, akibatnya Leon tidak Bisa mengendalikan dirinya dan Membantai apapun yang ada di hadapannya.
Leon memegang Dadanya saat mengingat kejadian itu, dia tidsk menyangka jika akan di hadapkan pada situasi yang sama Lagi seperti dulu.
" ada sebuah cara, Tapi Taruhannya nyawa kamu, apa kamu bersedia ?!" Leon menatap Jin dengan Tajam.
Jin yang dari awal memang Hidup untuk melindungi Leon , Tentu saja tanpa berpikir panjang dia langsung Mengangguk " Saya bersedia jika cara tersebut bisa membantu Tuan !" Ucap Jin Tegas.
Leon kemudian berkata Lagi " mungkin dengan cara ini ,jika kamu tidak mampu menerima kekuatan yang akan ku berikan jiwa kamu akan di makan Oleh kekuatan tersebut, bila itu terjadi aku akan langsung membunuhmu, Karena kekuatan tersebut tidak bisa aku kendalikan sepenuhnya !" Ucap Leon ingin memastikan Keputusan Jin.
Jin Sedikit Khawatir , dia tidak pernah tahu jika ada kekuatan yang seperti itu, tapi saat dia teringat jika Leon adalah Reinkarnasi Dewa Kematian di jaman Mitologi Kuno, mungkin itu semua ada benarnya, apa lagi Leon Menunjukan wajah serius.
'Jika aku tidak memiliki kekuatan Besar , bagaimana mungkin aku bisa melindungi Tuan Leon dan keluarganya , aku yang sekarang hanya beban baginya !' Gumam Jin dalam Hati.
Jin mengepalkan Tangannya " Saya Bersedia Tuan Leon , apapun resikonya !" Ucap Jin Tegas.
Leon mengangguk , dia sangat senang karena Jin bukan orang yang mudah menyerah " Jangan Khawatir ,aku juga akan mencoba membantu kamu !"
Leon kemudian Langsung mempersiapkan Semuanya , Dia membawa Jin Belakang Vila, yang Merupakan Tanah Kosong.
Karna Leon membutuhkan Area yang Luas untuk melakukan pemanggilan kekuatan Tersebut.
Leon Menggambar Sebuah Pola Di Tanah , dia kemudian menyayat Telapak tangan dan meneteskan Darahnya ke Pola tersebut.