
Kenapa bayinya tidak bersuara? Batin Zoro tetapi ia segera sadar dan mencoba membantu Robin kembali.
"Gawat!" Teriak Chopper.
"Kenapa?" Tanya Zoro.
"Bayinya yang satu lagi terlilit tali pusar," jawab Chopper.
"Kita harus melakukan tindakan operasi!" Lanjut Chopper.
"Aku takutnya nanti bayi dan ibunya tidak selamat, jika tidak segera dilakukan operasi!" Zoro terkejut mendengar perkataan dari Chopper dan ia sangat tahu betul Chopper sedang meminta keputusan darinya.
"Aku...maunya... secara normal!" Bisik Robin terbata-bata dan lemah dekat telinga Zoro.
Zoro melihat ke arah Robin dan Robin meyakinkan Zoro agar diperbolehkan.
"Chopper, turuti keinginan dari Robin!" Chopper dan Nami terkejut.
"Zoro apa kau yakin?" Tanya Chopper yang masih ragu.
"Aku percaya pada Robin dan bayi itu!" Jawab Zoro dengan tegas dan Chopper segera melakukan tindakan agar bayinya bisa lepas dari tali pusar.
"Dia pasti akan lahir!" Ucap Robin dengan yakin di dalam hati.
...🍰🍙🍰...
Seluruh kru Mugiwara no ichimi sedang melihat 1 sosok bayi perempuan yang sedang tertidur didalam box bayi setelah disusui oleh sang ibu.
Bayi dengan bobot 2,5 kg itu berhasil lepas dari jeratan tali pusar yang mengikatnya 2 hari yang lalu, bayi perempuan dengan wajah masih merah itu benar-benar seperti 1 telapak tangan Zoro lebih sedikit.
Saudara kembar atau kakak dari bayi pertama tidak berhasil terselamatkan. Ia rupanya sudah mati ketika ada kegoncangan didalam perut Robin.
Bayi Robin lahir premature, dan semua orang tak henti-hentinya melihat bayi ini.
"Dia seperti monyet kecil," komentar Luffy.
"Hei! Kau yang monyet bukan bayi ini, bayi ini lebih tepat seperti Zoro ketika menangis," lanjut Usopp.
"Dia benar-benar kecil, bahkan telapak tanganku bisa menjadi tempat tidur untuknya."
"KALIAN MENYINGKIR LAH!" bentak Sanji dan menendang meeka satu persatu.
"SANJI APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!" bentak Usopp. Sanji menghembuskan asap rokok tersebut.
"Kalian menghalangiku untuk memberikan bubur ini kepada Robin chuan!" Semua melihat Sanji dengan tetapan kesal dan kembali mengerumuni bayi perempuan itu.
"Dasar mereka ini, maafkan mereka ya Robin chuan," ucap Sanji dan Robin membalas dengan senyuman.
"Tidak papa, asalkan Kuina baik-baik saja dan tidak rewel," sahut Robin.
"Kuina?" Tanya Sanji.
"Iya, nama itu diberikan oleh Zoro, nama yang indah bukan?" Tanya Robin sambil tersenyum.
"Seperti nama sahabat kecilnya, ya nama itu pasti punya arti," lanjut Sanji dan Robin menganggukkan kepala.
Robin mengelus rambut hijau Zoro yang tidur menjaga dirinya bahkan sudah 2 hari tidak tidur. "Zoro berharap anak perempuannya ini akan tumbuh menjadi wanita ahli pedang seperti sahabatnya dan jika bisa melampaui dirinya."
"Ya..." jawab Sanji tersenyum sambil melihat ke arah Zoro.
"Nami, aku ingin lihat bayi itu lagi!" Rengek Luffy yang berusaha masuk ke dalam ruangan Chopper.
"Gak boleh!" Larang Nami sambil menutup akses masuk Luffy ke dalam.
"Ehhhh kenapa?" Tanya Luffy dengan ekspresi sedih. Lingkar mulut Luffy menunjukkan alfabet v ke bawah.
"Kuina sedang minum susu!" Jawab Nami tetapi tatapan Luffy menjadi sangat bersemangat.
"Itu artinya didalam ada makanan?" Nami menepuk jidat dan kembali menahan Luffy.
"POKOKNYA TIDAK BOLEH!" jawab Nami dan menarik Luffy keluar dari dapur.
"Oi kalian kenapa selalu ribut sih?" Tanya Usopp kesal ke arah Nami dan Luffy. "Zoro kau tidak memarahi mereka?"