
“Fufu, aku tidak menyangka kita akan jalan-jalan ke kota bersama,” ucap Robin. Keluarga Roronoa berjalan di jalan kota.
Robin di samping Zoro dan merangkul tangan Zoro dengan senang tanpa rasa malu. Zoro tidak merasa keberatan sedangkan Zayn digendong Zoro ditangan kirinya.
Robin bingung ketika Zoro berhenti di depan toko bir. “Kamu mau masuk?”
“Boleh?” Robin menganggukkan kepala.
“Tenang saja, sepertinya Zayn juga mau masuk ke sana,” jawab Robin. Mereka masuk dan aroma bir tercium sangat kuat. Ada beberapa orang melihat mereka karena membawa bayi.
“Pertama kalinya aku menjadi bar tender, ada yang berani bawa masuk balita ke tempat seperti ini.” Komentar bar tender ketika mereka duduk di depan.
“Tidak ada plang pemberitahuan,” sahut Zoro cuek meminta sake.
“Nona mau apa?”
“Kalo dia mah pasti jus jeruk,” ejek salah satu wanita bayaran tiba-tiba di samping Zoro.
Tangan! Batin Robin geram melihat pelacur mulai menyentuh Zoro.
“Atau mungkin dia hanya bisa minum air mineral saja!” Semua orang tertawa kecuali Zoro dan Robin. Zayn yang melihat wanita di samping ayahnya dengan tajam. Zayn juga melarang tangan pelacur untUk menyentuh ayahnya.
“Tak boleh!” geram Zayn melindungi Zoro dari tangan-tangan nakal.
“Hai adik manis, namamu siapa? Aku Ria,” ucap Ria hendak menyentuh Zayn tetapi langsung digigit Zayn dengan kuat dan membuat tangan gadis itu berdarah.
“Haha.” Zoro tertawa melihat sikap Zayn kepada Ria.
“Kurang ajar!” Ria ingin memukul Zayn.
Plak!
“Maaf ya, tanganku sedikit terkilir.” Ucap Robin memegang tangannya, Ria terjatuh dilantai sambil memegang pipinya.
“KALIAN JANGAN BERHARAP BISA KELUAR DARI SINI HIDUP-HIDUP!” Bar itu mulai ricuh dengan Robin mulai menyerang, Zayn membantu sedangkan Zoro terus menikmati sake nya.
“Kau tidak membantu pacar-Mu?” tanya bar tender.
“Bahkan buah hati kalian juga ikut membantu ibu-Nya,” lanjut bar tender melihat Zayn menggigit kaki Ria dan para lelaki itu.
“Istriku itu tidak selemah itu,” jawab Zoro dan membalik badan melihat istri dan anaknya bertarung.
“Bukannya kamu bilang aku tidak bisa keluar hidup-hidup?” tanya Robin tanpa senyum dan nada horor. Ria melihat hal itu menjadi geram.
“Sayang, aku keluar dengan Zayn duluan.” Robin segera mengendong Zayn yang sedang menggigit kaki salah satu pengunjung.
Zoro terkekeh pelan tetapi dirinya berubah garang dan dengan cepat ke arah Robin.
Prang!
Robin menutup mata melindungi Zayn dengan dekapan dadanya, di belakang punggungnya ada Zoro yang menahan pedang yang ingin melukai Robin.
“Kau butuh 1000 tahun lagi jika ingin mencelakainya!” ucap Zoro intimidasi dan membuat Ria terjatuh ke lantai dengan ketakutan.
“Ini uangnya, terima kasih!” Zoro meletakkan uang di meja terdekat. Keluarga Roronoa keluar dengan Zoro menggandeng tangan Robin. Zayn melihat ke arah Ria dengan tajam tanpa senyum seakan-akan memperingati dia. ‘Jika kita bertemu lagi, KAU AKAN MATI!’.
...👒🍰🍙...
Saksikan lebih lengkap di Movie Pulau Tangan.
"Nee... Apa kita akan bertemu dengan paman itu?" tanya Brook melihat ke arah pulau yang akan pergi.
"Tentu saja, suatu hari nanti pasti!" jawab Luffy sambil ke arah langit sambil tersenyum.
"Lilin buatannya benar-benar sama persis." ujar Luffy sambil membayangkan replika patung lilin yang menyerupai Shanks yang masih menggunakan topi jerami yang dia titip kepada Luffy.
"Benarkah?" tanya Nami dan Luffy menganggukkan kepala "Nee.. Sepertinya aku sangat penasaran dengan paman itu."
"Mama." rengek Zayn yang berjalan menuju ke arahnya Robin sambil mengucek matanya dan satu tangannya memegang boneka Panda.
"Loh... Zayn, sudah bangun?" tanya Robin sambil mengelus rambut hijau Zayn yang memang mewarisi seluruh gen ayahnya.
"Papa?" tanya Zayn melihat ke sekeliling kapal diiringi kantuk yang masih ada.
"Benar juga, Papa ke mana ya?" tanya Robin.
"Nee.., Sanji-kun. Sepertinya kita ketinggalan sesuatu." ucap Nami yang menyadari sesuatu.
"Dasar si tukang tersesat itu, membuat kita terbeban saja." sahut Sanji.
"Tenang lah, nanti dia juga akan kesini." timpal Franky.