
Sudah 1 minggu berlalu tetapi Robin masih di landa perasaan bersalahnya, ia masih merasa bahwa kematian Zayn akibat kelalaian dirinya yang tidak becus menjadi sosok seorang ibu.
Seharusnya mereka bisa sampai ke Dressrosa lebih cepat, namun mereka lebih memilih singgah dulu di negeri terdekat agar suasana hati Robin kembali. Akan sangat bahaya jika mereka melanjutkan petualangan tetapi salah satu kru masih berduka.
"Minna, aku melihat pulang!" Teriak Nami di atas menara pengawas, melihat pulau melalui teleskopnya.
"Yosh, kalau begitu mari kita ke sana!" Lanjut Luffy dengan penuh semangat dan begitu pula dengan teman-temannya. Robin hanya tersenyum seperti biasa seakan baik-baik saja sebenarnya dipikirannya benar-benar kosong.
"Tidak papa, kan Torao?" Tanya Luffy ke arah Law karena dia tahu Law ingin cepat-cepat menghajar Joker a.k.a Doflamingo.
"Tidak papa, lagi pula aku juga ingin liburan sebentar," jawab Law dan hal membuat Luffy nyengir kegirangan.
"Yosha, Franky kecepatan penuh!" Teriak Luffy dan segera dilaksanakan dengan Franky.
Robin bangun dari tempat duduk menuju ke arah perpustakaan untuk mengembalikan buku yang hanya ia bolak-balik, kan itu. Seakan rasa ingin membacanya benar-benar hilang seketika.
"Robin chuan, ini dia dessert kue teh hijau serta kopi hitamnya," ujar Sanji dengan tarian badai menghampiri meja Robin, namun sayang Robin telah pergi dan membuat dirinya kecewa.
"Oi Ero cook, biar aku saja," teriak Zoro dan bangun dari tidurnya, mencegah Sanji untuk pergi ke perpustakaan.
"Kurang ajar kau Marimo, baiklah. Pastikan kue ini dihabiskan oleh Robin chan, semakin lama porsi makanannya semakin sedikit." Zoro mengangguk pelan dan mulai melangkah menuju ke perpustakaan.
Setelah 15 menit berputar-putar tidak jelas di sekitar kapal akhirnya ia menemukan perpustakaan.
Bruk
"Benar-benar membuatku kesal saja, kenapa pula perpustakaan berpindah tempat dari tempat seharusnya!" Ketus Zoro sambil masuk ke dalam dan membuat Robin terbangun dari lamunannya.
"Kau ini, lebih baikkan begini," ucap Zoro setelah menaruh makanan di meja sambil mengelus rambut Robin dan mendekatkan dahi masing-masing.
Robin tersadar dan tanpa sadar air matanya turun padahal dirinya masih tertawa, Zoro duduk dan membawa Robin ke dalam pelukan hangatnya.
"Menangislah Robin, dan aku ingin ini adalah tangisan terakhirmu." Robin terdiam dan menangis dalam pelukan Zoro.
"Aku terluka Robin, semuanya tahu kamu sedih. Tapi, bisakah berhenti? Makan dengan porsi sedikit, sering melamun, menangis, kamu benar-benar sangat memprihatinkan. Kau ingin cepat-cepat tua ya?" Tanya Zoro dan segera Robin memukul Zoro dengan pelan.
"Aku belum tua Zoro, masih 30." Jawab Robin dengan pipi merona.
"Iya iya, tapi jika kau terus begini, lebih baik aku mencari wanita lain saja." Robin yang mendengar hal itu sangat marah. Ia menatap Zoro dengan amarah penuh di kedua matanya.
"Kenapa kau bicara begitu?!" Ketus Robin.
"Karena kau bukan Robin yang aku kenal," ujar Zoro dan membuat Robin terdiam.
"Memangnya Robin yang kau kenal seperti apa?" Tanya Robin dengan ketus.
"Ya sikap dewasa, sering tersenyum dan membaca." jawab Zoro dan Robin menangapi dengan deheman kecil.
"Kalau begitu, ya sudah CARI WA NITA LAIN SAJA?!" Robin bangkit dan keluar dari perpustakaan dan meninggalkan Zoro.
"Eh, apa aku telah melakukan kesalahan?" Tanya Zoro bingung.