
"Nee... minna maaf ya, gara-gara keinginanku kita jadi seperti ini." ucap Chopper yang sekarang berumur 12 tahun lebih muda karena dia menerima serangan dari Ain Neo Angkatan Laut.
Mereka singgah di pulau terdekat untuk memperbaiki kapal. Luffy berbincang dengan penduduk sekitar sedangkan Franky memperbaiki kapal.
"Oi oi, kau tidak usah meminta maaf Chopper, lagi pula kami baik-baik saja." ucap Sanji untuk membuat Chopper tidak terlalu bersalah.
"Lagi pula sudah tugasmu sebagai dokter untuk menyelamatkan orang yang sedang sekarat." lanjut Robin yang berumur 18 tahun setelah di muda kan oleh Ain sedang mengendong Zayn yang sedari tadi terus melihat muka ibunya yang sedikit berbeda.
Chopper, Robin, Nami dan Brook. Kembali ke usia 12 tahun lebih muda, Chopper menjadi umur 5 tahun, Robin berumur 18 tahun, Nami berumur 8 tahun dan Brook berumur 78 tahun.
"Perasaanku saja atau memang benar." ujar Usopp dan membuat mereka semua bingung.
"Ada apa Usopp?" tanya Nami sambil menghitung uang mereka yang masih bisa di selamatkan.
"Dari tadi Zayn, terus melihat ke arah Robin." jawab Usopp dan mereka melihat Zayn yang tersadar pun menjadi salah tingkah karena menjadi pusat perhatian.
"Mama." ucap Zayn sambil bersembunyi di ceruk leher ibunya karena merasa malu.
"Yohoho dia malu." ujar Brook.
"Berbeda sekali dengan ayahnya." lanjut Sanji mengejek Zoro.
“Kita harus mencari Neo angkatan laut itu!” tekad Chopper.
"Kenapa kita harus bertemu dengan Neo angkatan laut itu lagi sih?" tanya Usopp dengan lesu.
"Tentu saja, karena dia yang bernama Ain itu harus membuat tubuhku kembali normal." jawab Nami sambil memajukan bibirnya.
"Aku juga." sahut Chopper sambil meloncat.
"Iya aku tau tapi kan--"
"Aku juga harus kembali ke usiaku yang semula." ujar Robin sambil menepuk pelan punggung Zayn karena ingin tidur.
Kau ini memang seperti ayahmu, tukang tidur batin Robin menepuk agar Zayn tidur dengan nyaman.
"Nee.. bukannya, kau senang tampak 12 tahun lebih muda." goda Usopp dan dihadiahkan kekuatan buah iblis Robin.
“Tolong maafkan aku!” jerit Usopp.
"Dasar kau ini ada saja. Jika ladies kita ada masalah jangan bikin buat mereka marah." ucap Sanji sambil menghembuskan rokoknya. "Tapi tunggu dulu..."
"Jika begitu aku bisa melihat perkembangan tubuh Nami-san dari masa kecil sampai dewasa." Pipi Nami memerah dan mencoba untuk menahan amarah.
"Aku akan melihat perkembangan ulat menjadi kupu-kupu yang indah. Aku sangat beruntung." ujar Sanji dengan mata berbentuk hati.
"Bodoh." komentar Zoro.
"Hah? Jika saja kau anak kecil. Pasti sudah ku tendang kau."
"Oh baiklah, aku bahkan kecil sudah bisa menendang mu walau pun masih kecil."
"Bahkan, di umurku 3 tahun pun bisa mencincang mu."
"Sudahlah, kalian berdua jangan bertengkar!" bentak Nami sambil memisahkan Zoro dan Sanji.
"Sepertinya kita harus segera pulau itu." ujar Robin sambil menunjuk sebuah pulau gunung berapi yang bisa di lewati dengan kereta berjalan di atas air. Zayn juga menunjuk ke arah pulau itu mengikuti Robin.
"Kau benar Robin, kita harus ke sana sesuai kata-kata bapak tadi." sahut Zoro.
"Tunggu sebentar." teriak Nami dan membuat seluruh teman-temannya menoleh dan memberhentikan perjalanannya.
"Ayo kita jalan-jalan dulu." ucap Nami dan membuat teman temannya bingung.
"Kita tidak punya waktu Nami." bentak Usopp.
"Tenanglah Usopp, lagi pula aku sangat yakin kalau mereka yaitu Neo itu ada di pulau itu." timpal Nami sambil menunjuk pulau yang tadi Robin tunjuk.
"Kenapa kau sangat yakin Nami-san?" tanya Brook.
"Feeling Ku itu selalu benar." jawab Nami dan melangkah di ikuti yang lain.
"Entah kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan Nami." ujar Zoro di samping Robin sambil menggandeng sebelah tangan Robin yang tidak mengendong Zayn.
"Tingkahnya seperti Luffy, maksudmu?" tanya Robin sambil berbisik dan di angguk i oleh Zoro.
"Sudahlah lupakan saja hal itu, lagi pula kita jadi ada waktu buat berkreasi keluarga sebentar." ucap Zoro yang mengambil kesempatan dalam suasana genting.
"Kau ini." sahut Robin sambil memukul pelan bahu tegap Zoro.
"Aku benar bukan?" Robin hanya mengangguk.
"Hei tukang tidur, bangun." ujar Zoro sambil mengusili anaknya yang tengah tertidur beberapa saat yang lalu dan akhirnya terbangun.
"Huaa."
"Zoro, sekarang gara-gara kamu dia bangun."
"Dia tidur mulu sih." bela Zoro.
"Kan dia seperti ini, karena kamu."
"Kok aku?"
"Kan kamu bapaknya." jawab Robin dan itu membuat Zoro terdiam.