
Robin pun terus berlari tak tentu arah untuk mencari Zayn.
Ya ampun, kamu di mana Zayn? Batin Robin dan terus mencari keberadaan Zayn.
"Zayn!" teriak Robin dan terus mencari keberadaan anak semata wayangnya itu.
Ya tuhan, kumohon pertemukan aku dengan Zayn. Batin Robin dan terus mencari Zayn.
Robin membuka sebuah ruangan, tetapi sayangnya ia tidak menemukan Zayn di sana.
Ia pun mulai mencari di lain tempat lain, tetapi sayangnya pintunya terkunci.
Semoga Zayn berada di sini. Batin Robin dan mulai mendobrak pintu besi itu dengan bantuan tangan-tangan replikanya.
"Akhh," jerit Robin ketika tangannya tidak sengaja tertusuk sebuah besi yang cukup tajam.
Tidak, Zayn lebih membutuhkan diriku. Batin Robin dan mulai mencabut besi itu dan darah mengucur deras.
"Perih," gumam Robin tetapi dia tidak sama sekali menyerah.
Pengorbanan ibu itu memang berat.
Akhirnya Robin pun berhasil membuat pintu besi itu pun terbuka.
"Zayn!" jerit Robin dan mulai mendekati gundukan salju putih besar itu.
Robin pun degan sekuat tenaga mengeluarkan Zayn yang berada di dalam salju itu.
Zayn bertahanlah nak, mama datang. Batin Robin terus mengorek salju dengan tangan kosong. Tidak peduli seberapa dingin dan seberapa perihnya, demi sang anak selamat dari bahaya maka apa pun akan Robin lawan.
"Zayn!" jerit Robin memeluk tubuh anaknya ke dalam pelukan hangatnya.
"Mama datang Zayn, maaf mama telat." ujar Robin memeluk tubuh Zayn tanpa baju dan hanya popok saja.
Kenapa dari tadi Zayn tidak bergerak? Tubuhnya benar-benar dingin sekali. Batin Robin.
"Bertahanlah Zayn, kamu pasti kuat." ucap Robin dan mengendong Zayn dan berjalan keluar dari ruangan yang hampir di lahap oleh gas beracun itu.
...βππ...
Dari tadi Robin di mana ya? Batin Nami mencari sosok Robin yang belum terlihat sampai ke sini.
Nami, Zoro, Sanji beserta para Marine dan anak-anak telah sampai di tempat Luffy, Law dan juga Smoker.
"Luffy, apa kau melihat Robin?" tanya Nami kepada Luffy.
"Bukannya tadi dia bersama denganmu?" tanya Luffy
Robin kamu ada di mana sih? Batin Nami.
"Nee.. Zoro kenapa kau dari tadi diam saja?" tanya Nami kepada Zoro yang duduk di atas batu dengan bersilang tangan.
"Memangnya aku harus apa?" tanya Zoro acuh.
"Kau ini, apakah kau sama sekali tidak khawatir dengan Robin!" bentak Nami kesal dengan sikap Zoro.
"Tenanglah dia akan baik-baik saja." ucap Zoro dengan tenang.
"Kau!" geram Nami yang ingin menjambak Zoro tetapi di tahan oleh Luffy.
"Tenanglah Nami, apa yang di bilang Zoro ada benarnya juga. Bukankah Usopp berada di ruangan cctv." bujuk Luffy dan emosi Nami pun kian membaik.
"Apakah perlu aku menjemputnya?" tanya Sanji.
"Tidak perlu Sanji-kun. Aku percaya dengan Usopp." elak Nami.
Semoga kau baik-baik saja Robin. Batin Nami dengan sedikit menghapus air matanya.
Kemana lagi Dia, kenapa dari tadi dia tidak kelihatan?. Batin Zoro terus memandang ke arah pintu yang akan tertutup itu.
...πππ...
"Zayn, kenapa kamu dari tadi belum membuka matamu nak. Mama di sini." ucap Robin terus mengendong Zayn yang masih tertidur pulas.
Semoga kau hanya tertidur Zayn. Batin Robin dan mencium dahi anaknya yang masih dingin itu.
"Chopper!" teriak Robin ketika melihat gerombolan Chopper.
"Yohoho Robin-san, tidak ku sangka kita bisa bertemu di sini." ucap Brook dengan berlari membawa tubuh Kinemon yang telah berubah menjadi batu.
"Nee.. Robin kenapa kau ada di sini. Bukannya kau bersama dengan Nami dan lainnya?" tanya Chopper di atas tubuh Mika.
"Panjang ceritanyaΒ Chopper, lebih baik sekarang kita harus segera sampai di sana tepat waktu."
"Zayn kenapa Robin ?" tanya Chopper melihat Zayn yang terus di peluk erat dengan Robin di dalam pelukannya.
"Terus kenapa dengan tanganmu?"
"Ini tidak penting Chopper." ujar Robin ketika tangannya ingin di periksa oleh Zayn.
"Tolong lihat Zayn. Dari tadi dia tidak bergerak sama sekali." ucap Robin menyerahkan Zayn ke arah Chopper dan segera Chopper memeriksa kesehatan Zayn.
Ini tidak mungkin. Batin Chopper dengan syok ketika mengecek kesehatan Zayn.