
Robin termenung di dek kapal melihat lautan lepas. Para kru SHP telah berlayar setelah melakukan pesta di Pulau Punk Hazard.
Sebelum menuju pulau berikutnya mereka akan menepi sebentar di pulau terdekat, tentu saja untuk menguburkan Zayn yang sudah meninggalkan mereka beberapa jam yang lalu.
Langkah kaki berat mendekati wanita berambut raven sepinggang itu. "Robin, makan dulu."
Robin melihat ke belakang dan mendapati Zoro membawa makanan, mereka duduk sebelahan sambil memandang.
"Aku tidak marah kok, bukan salah Keshin-san," ucap Robin sebelum Zoro membuka mulut.
"Kau yakin tidak marah?" tanya Zoro dan Robin mengangguk kepala.
"Jika kamu tidak marah, maka jangan sebut itu lagi!"
"Aku tidak ingin berdebat," amarah Zoro perlahan mereda.
Di lubuk hatinya tentu dia merasa sangat menyesal tidak bisa menjaga Robin dan Zayn.
"Makan ya," bujuk Zoro tetapi Robin menggelengkan kepala.
"Isi perutmu, setidaknya sedikit saja," ujar Zoro dan Robin menerima suapan Zoro dengan mata penyesalan dan wajah datar.
"Marah saja padaku Robin, jangan dipendam karena itu membuatku sakit." Robin hanya diam dan menerima suapan makanan dari Zoro.
Beberapa saat kemudian mereka menemukan pulau dan para awak mengubur Zayn di sana. Mereka memberikan penghormatan kepada Zayn, dengan bunga serta perasaan kerelaan agar Zayn tenang di sana.
"Maafkan Papa Zayn, tapi Papa janji. Mama akan di jaga dengan baik sama Papa." Zoro memberikan bunga dan penghormatan kehormatan kepada Zayn seperti yang ia lakukan untuk Kuina sahabatnya.
Robin hanya diam dan memberikan bunga, ia di samping Zoro. Mereka hanya diam sambil memperhatikan nama Zayn melalui batu nisannya.
"Minna, ayo kita pergi!" ujar Luffy yang suara berbeda dari biasanya.
Mereka menganggukkan kepala tetapi Zoro dan Robin tetap di posisi yang sama.
"Zoro, Robin!" Zoro mendengar hal itu dan memberikan kode kepada Luffy dan semuanya untuk ke kapal nanti mereka menyusul.
10 menit di tempat yang sama. Zoro bangun dan segera menggendong Robin ala bridal style tanpa pikir panjang.
Robin sama sekali tidak memberontak, malah ia menenggelamkan kepalanya di bahu Zoro. Zoro merasakan bahu kirinya basah, Zoro mencium dahi Robin untuk memberikan sedikit kekuatan.
"Kalian lama sekali!" komentar Luffy sambil memakan daging yang baru dibuat Sanji.
"Luffy berhenti makan, atau kau tidak akan mendapatkan daging untuk makan malam!" ujar Sanji memberikan makanan camilan kepada yang lain.
"EHHHHHH YANG BENAR SAJA KAU SANJI!" teriak Luffy yang tidak terima perkataan Sanji. Sanji memukulnya dengan kaki "Jika kau terus makan, dagingnya habis bodoh!"
Robin hanya tersenyum simpul melihat pertikaian di kapal. "Aku mandi dulu."
Robin pergi keatas untuk mandi agar badannya menjadi sedikit relaks.
"Kenapa menjadi salahku?" tanya balik Luffy bingung.
"Setidaknya kau bisa berperilaku sedikit peduli kepada Robin, dia sedang berduka." Nami datang dari belakang meminta Luffy peduli terhadap kondisi Robin.
Luffy hanya termenung sebentar. Nami menghela napas dan mulai berjalan ke arah Momonosuke.
"Momo chan, kamu mau melihat-lihat kapal bersamaku?" tanya Nami, segera Momonosuke menganggukkan kepala.
"Iya tentu saja."
"Yohoho Nami san apakah saat ini aku boleh melihat-"
"TIDAK SEKARANG DAN TIDAK AKAN PERNAH!"
"Yohoho gomennasai Nami san."
Zoro menggelengkan kepala dan mulai menghampiri Luffy yang sedang duduk di atas kepala singa sambil memakan daging asap.
"Oi Luffy," panggil Zoro.
"Yaaa, apa Zoro?" tanya Luffy sambil mengunyah. Zoro melihat Luffy dengan wajah datarnya.
"Ada hal yang harus kubicarakan denganmu, dan hanya kita berdua yang tahu." Luffy terlihat bingung.
Tes tes dresss
Robin membasahi tubuhnya di depan shower, ia masih termenung dan terlebih ia masih mengenakan pakaian yang tadi.
"Mama nanti kita ke festival ya,"
"Kamu ingin ke festival?" Zayn menganggukkan kepala.
"Tapi kamu masih kecil sayang, gak bisa banyak naik wahana." Zayn cemberut ketika Robin masih sibuk mengganti popoknya.
"Tapi Zayn mau ke sana!"
"Baiklah jika Zayn mau ke sana, nanti kita pergi bareng papa."
"Papa Law?" Robin menggeleng.
"Papa Zoro, dia papa mu." Mata Zayn berbinar dan ia tertawa riang karena tidak sabar bertemu dengan ayahnya.
Air mata Robin menetes diderai air shower, "Maaf Zayn, mama dan papa tidak bisa ke festival."
Robin menangis sambil jongkok dengan isak kan kecil.