
"Akhirnya, kamu sudah kembali Mas," ucap Melisa saat sang suami datang.
Melisa terlihat bahagia, karena akhirnya sang suami bisa berkumpul dengannya lagi. Namun, saat Melisa ingin memeluknya. Wildan langsung menolaknya.
"Aku ingin mandi! Tubuhku sangat kotor, bahkan kamu tak sudi menengokku di dalam penjara," ucap Wildan ketus.
Padahal Kemarin-kemarin, dia tak sabar ingin segera keluar dari penjara. Agar dia bisa menjadi suami yang bertanggung jawab, yang mencari nafkah untuk istrinya. Namun, semuanya berubah. Saat dia mendengar apa yang dikatakan Affan kepadanya, tentang kehamilan mantan istrinya itu.
Hati dan pikirannya, menjadi tak karuan. Dia menjadi uring-uringan. Merasa tak terima, dengan keadaan yang sebenarnya. Semua seakan seperti sebuah mimpi buruk untuknya.
Setelah selesai mandi, Wildan langsung meminta ponselnya kepada Melisa. Wildan terlihat dingin kepada Melisa, seakan tak ada rasa rindu di hatinya untuk sang istri. Bahkan, saat Melisa bertanya kepadanya. Wildan hanya menjawabnya dengan singkat. Tak sedikitpun dia bertanya tentang keadaan kandungan Melisa, dan kejadian apa yang terjadi, selama dia di dalam penjara.
Wildan merasa kecewa dengan Melisa, karena Melisa tak pernah menengoknya di penjara. Seakan Melupakan dirinya. Saat ini, Wildan justru memilih menghubungi sang mama. Untuk memberitahukan, kalau saat ini dia sudah keluar dari penjara.
"Iya, Ma. Besok Wildan ke sana ya!" ucap Wildan membuat mata Melisa membulat sempurna.
Saat Wlldan mengakhiri panggilan telepon dengan sang mamamMelisa langsung menegur Wildan. Hingga akhirnya terjadi pertengkaran antara mereka. Melisa tampak sedang menangis, karena Wildan bersikap kasar kepadanya. Dia tak merasa bahagia, setelah menikah degan Wildan. Sikap Wildan sangat berbeda, tak seperti sebelum menikah. Penyesalan Melisa dengan Wildan, bertubi-tubi. Entah sampai kapan dia mampu bertahan dengan kondisi Suaminya saat ini.
"Sementara waktu, aku ingin tinggal di rumah mama dulu. Sampai aku dapat pekerjaan. Jika aku di sini, pasti kita akan selalu bertengkar. Kondisi emosiku sedang tidak stabil, aku sedang kesal dengan hidupku yang seperti ini. Aku harap kamu mengerti dengan keputusanku! Aku harus putar otak, agar aku bisa menafkahi kamu," jelas Wildan.
"Tapi, aku ingin dekat kamu! Aku ingin diperhatikan kamu. Selama ini aku selalu sabar menanti, sampai akhirnya kamu keluar dari penjara. Namun ternyata, kamu justru memilih meninggalkan aku. Kamu tahu tidak? Betapa beratnya aku menghadapi semua ini tanpa kamu. Ibuku sampai meninggal, karena tetangga di sana sangat marah kepadaku, dan sekarang justru kamu seperti ini kepadaku. Banyak yang telah aku korbankan, demi bisa bertahan hidup," ungkap Melisa. Akhirnya, dia mengeluarkan uneg-uneg dalam hatinya. Dia sudah tak sanggup menahan rasa kecewanya kepada sang suami.
Wildan tampak terdiam. Akhirnya dia menyadarinya. Seharusnya, dia tak seperti itu kepada Melisa. Karena saat ini Melisa sedang mengandung anaknya. Harusnya dia memberikan perhatian, kepada sang istri. Bukan seperti saat ini yang justru bersikap kasar dan seolah tak peduli kepada sang istri.
"Sudahlah, aku sedang tak ingin bertengkar! Kita bicarakan nanti lagi! Aku masih sangat lelah. Makanya, aku ingin beristirahat dulu," ucap Wildan.