
Affan dan Jihan sudah sampai di Jakarta. Mereka langsung di jemput supir pribadi keluarga Affan. Sang mami pun ikut menjemput mereka di bandara. Jihan bersyukur, karena memiliki ibu mertua yang baik kepadanya. Tak seperti mertuanya yang sebelumnya. Padahal Affan berasal dari keluarga terpandang.
"Bagaimana acara bulan madu kalian? Apa menyenangkan? Gimana Affan, apa dia bermain galak?" bisik sang mami.
Membuat wajah Jihan memerah. Sang mami berbicara seperti itu, karena mengingat sang anak yang belum pernah merasakan surga dunia. Pastinya, sekali mencoba akan ketagihan. Terlebih, bercintanya dengan istrinya tercintanya. Meskipun Jihan hanya seorang janda.
"Hayo, bisik-bisik apa? Yang, jangan lupa nanti oleh-oleh untuk mami! Menantunya sayang banget sama mami, ingat beliin oleh-oleh setiap pindah tempat," ucap Affan.
Affan bersyukur, karena hubungan sang mami dengan istrinya harmonis. Semoga selamanya akan seperti itu. Affan tak menyangka, kalau sang mami bisa langsung menerima Jihan dengan baik. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang menuju rumah Affan dan Jihan. Affan duduk di depan, Jihan dan sang mami duduk di barisan kedua.
"Kamu mulai masuk kerja kapan?" tanya sang ibu mertua.
"Lusa Mi, besok aku masih libur. Masih ingin istirahat dulu. Tapi, hari Jumat. Aku harus terbang ke Medan selama dua atau tiga hari. Schedule perjalanan dinas aku cukup padat bulan ini," ungkap Jihan.
"Apa? Kamu mau ninggalin Mas? Tega banget sih, bikin Mas tidur sendiri. Kalau dulu Mas bisa tahan, karena emang belum punya istri. Sekarang, Mas gak yakin bisa tahan," protes Affan.
"Emang lainnya, kalau sudah merasa enak. Kamu harus sama-sama mengerti tuntutan profesi kalian masing-masing. Rumah tangga itu kuncinya saling mengerti, dan komunikasi harus lancar. Kalau kamu yang tugas luar, Jihan juga 'kan harus mengerti. Kecuali, kalau Jihan tidak bekerja. Kalian bisa bersama. Jihan bisa mendampingi kamu, kalau kamu ada kunjungan ke daerah lain. Sekarang, jalanin saja dulu! Jangan mengekang keinginan pasangan! Jika Jihan enjoy menjalaninya, kamu harus dukung! Dia juga 'kan gak mudah berada di posisi itu," jelas sang mami dan Affan akhirnya mengiyakan. Dia hanya butuh beradaptasi.
"Mami mau makan apa? Jihan ikut yang mami inginkan saja!" Jihan justru bertanya kepada ibu mertuanya.
Mereka memutuskan untuk makan di restoran Sola*ria, sesuai permintaan maminya Affan. Jihan menjadi teringat kenangan dulu bersama Wildan. Wildan sangat tahu, makanan kesukaan dia. Restoran itu menjadi restoran favorit untuk Jihan dan Wildan.
Hari ini dia datang, dengan suami yang baru. Mereka baru saja sampai di restoran Sola*ria. Jihan memesan nasi ayam goreng rica-rica, Affan nasi goreng spesial, dan sang mami memesan kwetiaw rebus. Untuk minumnya, ketiganya memesan es teh manis.
"Mas besok mau off lagi kerjanya. Masih ingin bermalas-malasan di rumah sama kamu. Selama ini, Mas selalu sibuk dengan pekerjaan. Ingin lebih bersantai, saat kamu di rumah. Apalagi lusa kamu mau berangkat, ninggalin Mas. Mas sudah bilang sama asisten Mas, untuk tidak menerima job dulu untuk sementara. Dia yang handle kasus yang masih bisa di handle dia. Kecuali kasus berat. Mau tak mau, Mas yang harus nanganin," ucap Affan kepada Jihan.
"Pengantin baru maunya nempel terus," goda sang mami.
"Biar cepat jadi Mi, Affan junior. Makanya, harus kerja keras," sahut Affan sambil nyengir.
Obrolan mereka harus terhenti sejenak, karena makanan mereka sudah datang. Mereka langsung menikmati makanan mereka. Jihan memilih diam, dia tak menanggapi ucapan sang suami karena dia tak ingin mengecewakan suaminya. Jihan pun berharap, dirinya bisa segera hamil. Dia ingin membahagiakan suaminya, dan membuktikan kepada semua orang kalau dirinya tidak mandul.