
Melisa baru saja sampai di rumah sakit tempat mayat sang ibu. Untungnya, dia masih ada sisa-sisa uang yang diberikan Wildan. Saat Wildan di penjara. Tapi, setelah itu dia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan Mawar sang anak. Melisa memutuskan kembali ke Jakarta, untuk bertahan hidup. Karena kehidupan di kampung serba sulit.
"Mama ..., nenek ... mah!" Mawar masih saja bersedih. Dia begitu kehilangan. Meskipun, saat ini sudah ada sang mama.
"Ya, Kak! Ikhlaskan nenek pergi! Semoga nenek tenang di alam sana! Sekarang, kita hanya bertiga. Sama adik di dalam perut mama. Mama akan berjuang keras untuk kalian berdua," ucap Melisa kepada sang anak.
"Mawar ikut mama ke Jakarta ya! Mama harus berkerja, agar kita bisa bertahan hidup. Kehidupan di kampung serba sulit. Lebih baik kita kembali ke kota. Terpaksa, kita harus meninggalkan rumah," ucap Melisa lagi kepada sang anak Hi
"Tapi ..., bagaimana sekolah aku Ma? Apa aku di sana bisa sekolah? Aku masih ingin sekolah," ungkap Mawar di iringi isak tangis.
...Semakin bertambah rasa bersalah Melisa kepada sang anak. Dia teringat akan tujuan awalnya dia ke Jakarta, yaitu ingin bekerja yang lebih baik. Agar kehidupanmu eeksentrisitas emang euiapdnjewlwejbaik lagi. Dia pun bisa menyekolahkan sang anak ke bangku SMP, dan sekarang harapannya musnah sudah. Karena obsesi dia menginginkan menjadi orang kaya, dan mengalahkan Jihan....
"Mawar sabar dulu ya! Do'akan mama! Mama akan berjuang, agar kamu bisa sekolah lagi. Untuk sekarang, mama gak punya uang. Sisa tabungan dari Papa Wildan, untuk biaya pemakaman nenek. Sisanya, untuk transport kita kembali ke Jakarta. Mama mau coba jual rumah nenek, berapa pun itu gak apa-apa. Lumayan, untuk kita bertahan hidup sampai mama mendapatkan pekerjaan. Barang-barang nenek pun tak ada yang bagus. Kita tak memiliki apapun yang bisa di jual lagi," jelas Melisa kepada sang anak.
Melisa mengurus pemakaman sang ibu, dengan bantuan pihak rumah sakit. Karena tetangganya tak ada yang menolongnya. Untungnya, dia memiliki uang milik Wildan. Kalau tidak, dia tak akan bisa menguburkan sang ibu. Setelah menguburkan sang ibu, Melisa pulang ke rumah sang ibu.
"Aku harus kuat, demi Anak-anakku! Aku mohon, ampuni dosaku ya Allah. Meskipun berat aku akan lewati."
Udara malam semakin dingin, menusuk hingga ke tulang. Melisa memilih masuk ke dalam rumah, hendak tidur. Sesampainya di kamar, dia melihat sang anak yang sudah tertidur nyenyak. Dia merasa tak tega membangunkan sang anak.
Gara-gara dia, kehidupan anaknya hancur. Sang anak harus berhenti sekolah, karena dia harus kembali ke Jakarta.
"Maafkan mama, Mawar! Mama janji akan menyekolahkan kamu lagi. Sabar ya! Do'akan mama! Semoga mama ada rezekinya untuk membahagiakan kamu," ucap Melisa dalam hati.
Melisa pun akhirnya ikut membaringkan tubuhnya di sebelah sang anak. Dia merasa begitu lelah. Tak butuh waktu lama, dia pun akhirnya tertidur nyenyak. Berbeda halnya dengan Melisa yang sudah tertidur nyenyak, Wildan justru masih terjaga. Dia belum bisa tidur.