Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Kehidupan Mawar di Pesantren


Mawar tampak termenung. Dia memilih untuk duduk di teras depan kamarnya. Dia terlihat pendiam selama di pesantren. Kesedihan yang dia rasakan belum hilang.


"Mawar, kenapa kamu di luar? Apa kamu belum mengantuk? Ini sudah pukul 21.00, ayo kita tidur! Besok jam 03.00 pagi, kita harus bangun sholat tahajud!" Ana mengingatkan Mawar.


Di pesantren, Ana adalah teman yang paling dekat dengan Mawar. Meskipun, Teman-teman di dalam sana pun, semuanya baik kepadanya. Mereka merasa satu perjuangan, sehingga menganggap Teman-temannya adalah keluarganya di dalam sana.


"Iya, sebentar lagi. Aku belum mengantuk, An. Kalau kamu mengantuk, tidur saja sana duluan! Nanti aku menyusul," sahut Mawar.


"Ya sudah, aku tidur duluan ya. Mataku sudah mengantuk. Kamu jangan tidur malam-malam! Angin malam tak baik untuk kesehatan!" Ana mengingat sahabatnya. Bisa dikatakan mereka bersahabat. Hubungan mereka sangat dekat, dibandingkan dengan Teman-teman lainnya.


Mawar terpaksa harus masuk ke dalam kamar, karena ustadzah yang kebagian piket mereka patroli keliling. Mereka menyuruh untuk segera tidur. Kini Mawar sudah berada di kamarnya, dia pun sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Di melihat sekeliling kamarnya, banyak yang sudah tertidur. Ada beberapa teman satu kamarnya, yang masih membaca buku.


"Mawar kangen Mama," ucap Mawar lirih.


Mawar berusaha memejamkan matanya, berharap dirinya bisa segera tertidur nyenyak. Namun, saat dia memejamkan matanya. Mawar teringat wajah sang mama, saat terakhir kalinya dia melihat di rumah sakit.


"Mama ...."


Air mata Mawar jatuh satu persatu dan mulai membasahi wajahnya. Meskipun dia sudah mengusapnya berkali-kali. Dia berharap, sang mama tenang di sana.


Kehidupan dia saat ini tentu saja lebih baik, dia tak hidup terlantar di jalan. Mendapatkan fasilitas yang layak. Mawar pun merasa betah hidup di sana, di merasa bersyukur. Tentu saja mengucap terima kasih kepada Jihan, karena telah menolongnya. Meskipun sang mama telah membuatkan sebuah kesalahan.


Perlahan, akhirnya Mawar tertidur. Karena dia merasa lelah, terlalu banyak menangis. Sampai alarm berbunyi, para penghuni pesantren harus terbangun. Untuk melaksanakan sholat tahajud, dan melakukan ibadah lainnya sampai subuh tiba.


Kini para santriwati sudah berkumpul di mesjid yang berada di pondok pesantren itu. Mereka berkumpul untuk sholat tahajud, tadarus Al-Quran, dan sholat sunah lainnya sampai subuh tiba. Mawar menjadi rajin beribadah, selama di sana.


"Mata kamu kenapa? Semalaman kamu menangis ya?" tanya Ana kepada sang sahabat.


"Aku teringat mamaku yang sudah meninggal, saat aku ingin tertidur tadi. Aku sedih, aku kangen sama dia," ungkap Mawar.


"Kalau kamu merindukan dia, kirimkan doa untuknya! Insya Allah, doa anak yang sholehah akan diterima Allah. Kalau kamu menangis terus, mamanya kamu akan ikutan sedih di sana! Semakin berat saja, dia meninggalkan kamu. Sabar ya! Semoga kamu bisa melewati semua itu! Aku yakin kamu kuat," Ana mengingatkan sahabatnya kembali.


Penampilan Mawar selama di pesantren tentu saja sangat berbeda. Kini Mawar memakai hijab, lebih banyak memakai gamis. Jihan yang membelikan semuanya, karena ini menjadi ketentuan yang harus dipatuhi Mawar untuk bisa mondok di sana. Mawar banyak berhutang budi kepada Jihan.


Jihan baru saja terbangun dari tidurnya, hendak sholat tahajud. Kehidupannya sekarang, dia hanya menjadi ibu rumah tangga. Affan tak mengizinkan dia bekerja. Affan yang memenuhi kebutuhan hidupnya, dia juga yang membantu orang tua Jihan setiap bulannya. Affan ingin, Jihan fokus pada kehamilannya.


"Sayang, kamu sudah bangun?" ucap Affan yang baru saja terbangun dari tidurnya. Jihan membalasnya dengan senyuman.


Affan merasa beruntung memiliki istri yang cantik, lembut, dan juga istri yang sholehah. Terlebih, Jihan akan memberikan dua orang anak untuknya. Sebagai pelengkap di rumah tangganya.


Sama halnya dengan Jihan, Affan pun semakin rajin beribadah. Dia pun melawan rasa kantuknya, untuk sholat tahajud. Kehidupannya setelah menikah, menjadi terarah, membuat dia lebih bersemangat mencari rezeki. Namun, untuk sementara waktu. Dia tak mengambil job di luar daerah. Dia tak ingin terpisah jauh dari istrinya.


"Mas, geli! Jangan digusel-gusel gini," protes Jihan. Suaminya terus saja menciuminya, membuat dia kegelian. Masih ada waktu satu jam, untuk bermanja-manjaan di ranjang. Sebelum dia berangkat bekerja.


"Main dulu yuk sebentar, Yang! Mas pengen, biar semangat habis ini kerjanya," rayu Affan.


Jihan pun tak menolaknya. Dia ingin selalu membahagiakan suaminya, berharap sang suami tak tergoda dengan wanita lain. Percintaan panas akhirnya terjadi. Sebelum bersiap-siap kerja. Affan ingin menuntaskan hasratnya dulu.


Desa*han mengiringi percintaan pagi itu. Keduanya sama-sama menikmati sentuhan lembut dari pasangannya. Namun, Affan tidak mengeluarkannya di dalam. Dia tak ingin memacu keguguran. Sebelum mencapai kli*maks dia terpaksa harus mencabut miliknya, dan menembakkan di luar. Di perut istrinya. Dia membiarkan sang istri mendapatkan pelepasan lebih dulu, barulah dia mencabut miliknya.


Mawar tampak termenung, saat mereka berkumpul untuk sarapan pagi. Sebelum mereka menuntut ilmu. Dia masih kepikiran semalam, saat dirinya teringat sang mama.


"Mawar kenapa? Apa kamu sedang sakit?" tanya seorang ustadzah. Dia melihat sejak tadi Mawar terlihat sedang melamun.


"Gak, Ustadzah Sholehah. Aku gak sakit kok. Hanya saja sejak semalam, aku kepikiran mamaku yang sudah meninggal," ungkap Mawar.


"Oh gitu? Ustadzah pikir, kamu sedang sakit! Jika seperti itu, dia sedang berharap doa dari anaknya yang sholehah. Mawar jangan lupa berdoa ya, jika sholat! Sabar ya! Jangan bersedih! Kematian seseorang itu, sudah menjadi takdir Allah. Manusia tak bisa mengubahnya," jelas Ustadzah Sholehah.


"Iya, Ustadzah. Mawar akan selalu mendoakan mama. Semoga Mama tenang di sana. Mawar akan berdoa, semoga Mama bisa diampuni dosa-dosanya sama Allah," sahut Mawar sambil tersenyum.


Dia terlihat sudah tak sedih lagi. Dia sudah terlihat lebih tenang. Ustadzah Sholehah, menyuruh Mawar makan. Mawar pun akhirnya mau menuruti perkataan Ustadzah Sholehah. Akhirnya, dia pun makan.


"Aku gak boleh sedih lagi. Agar Mama di sana gak merasa sedih. Mawar akan selalu merasa bahagia, agar Mama ikut bahagia. Mawar sayang Mama," ucap Mawar dalam hati.


Dia terlihat ceria, bermain dengan Teman-temannya. Dia juga berusaha belajar dengan sungguh-sungguh. Agar Tante Jihan merasa bangga dengan prestasinya. Dia ingin memberikan kejutan untuk Jihan.


"Sayang, aku berangkat!" ucap Affan.


Dia sudah selesai sarapan. Jihan mengantarkan sang suami sampai depan teras. Seperti biasa, Jihan selalu mencium tangan suaminya, dan Affan memberikan kecupan di pucuk kepala dan kening istrinya. Tak lupa mencium perut Jihan.