Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Marah


Ibunya Melisa langsung menghubungi sang anak, untuk melakukan klarifikasi tentang ucapan Ibunya Jihan tentang Wildan. Dia ingin tahu yang sebenarnya. Saat itu Melisa sedang menunggu Ibunya Wildan di rumah sakit. Melihat sang ibu menghubungi dirinya, Melisa langsung pamit keluar kepada Ibu mertuanya. Dia langsung meninggalkan ruangan Mama Risma. Agar dia bisa berbicara santai dengan sang Ibu. Tanpa harus sang Ibu mertua tahu.


"Ya Bu, ada apa?" Ujar Melisa saat menerima panggilan telepon dengan sang Ibu.


"Ibu minta kamu bicara jujur! Apa benar si Wildan itu laki-laki kere? Selama ini dia hanya menumpang hidup sama si Jihan. Tadi Ibunya Jihan datang ke rumah, dan mempermalukan Ibu di depan para tetangga. Dia mengatakan kalau kamu sudah menggoda Wildan, merebut Wildan dari Jihan. Wildan menikahi kamu, karena kamu sedang hamil anaknya," ungkap sang ibu.


Melisa sempat diam, dia pun tak menyangka kalau nasibnya akan seperti ini. Dalam hal ini, dia sempat menyalahkan Allah. Mengapa Allah selalu membuat hidupnya selalu menderita. Sedangkan Jihan, selalu unggul darinya. Dia pikir dulu, kehidupannya akan bahagia setelah berhasil menikah dengan Wildan. Tapi ternyata, dia salah. Kini dia harus menanggungnya.


"Jawab pertanyaan Ibu! Kenapa kamu diam saja? Berarti benar 'kan apa yang dikatakan Ibunya Jihan tentang kamu? Bodoh! Bikin malu Ibu saja! Selalu saja, Jihan lebih unggul darimu. Ibu 'kan sudah bilang sama kamu! Hidup itu, bukan hanya makan cinta. Kita itu butuh uang untuk bertahan hidup. Sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Kamu sudah hamil anak si Wildan. Mau tak mau kamu, kamu terpaksa harus bertahan. Ya paling enggak, si Wildan enggak buruk-buruk banget seperti mantan suami kamu. Dia 'kan kerja, pasti punya gaji dong?" Ujar sang Ibu.


Ibunya Melisa tampak shock, saat mendengar semua penuturan sang anak. Dia tampak memegangi dadanya yang terasa sesak. Dia tak terima, akan hidup susah lagi. Ibunya Melisa, saat itu terlihat sangat marah. Dia terus mengumpat sang anak dengan kata-kata yang kasar. Dia benar-benar kecewa dengan sang anak.


"Kamu berhasil, membuat Ibu malu di kampung. Bahkan tetangga terdekat kita saja, tak menyukai kita. Mereka mengatakan kalau kamu seorang pelakor, perebut suami orang. Ibu benar-benar tak ada muka lagi," ucap sang Ibu.


"Maafin Melisa, Bu! Melisa ngaku salah. Melisa pun tak tahu, kalau akhirnya seperti ini. Dulu, Melisa pikir. Setelah Melisa berhasil menikah dengan Mas Wildan, kita akan hidup senang. Tapi ternyata, Melisa salah. Selama ini, Jihan 'lah yang lebih besar untuk memenuhi keuangan rumah tangga mereka. Melisa terpaksa harus menikah dengan Mas Wildan, demi anak dalam kandungan Melisa. Melisa tak mungkin membesarkannya sendiri. Ini juga Mas Wildan ada niat ingin menceraikan Melisa, setelah anak ini lahir," ungkap Melisa di iringi isak tangis. Dia mengungkapkan perasaannya kepada sang Ibu.