
Melisa sudah selesai melakukan panggilan dengan sang ibu. Wildan dan Mama Risma tampak diam, tak ada sepatah katapun terlontar dari bibir keduanya. Mendengar percakapan Melisa dengan ibunya, Wildan dan sang mama menjadi ilfeel dengan Melisa. Terlebih Mama Risma, dia tampak menyesal karena tak seperti yang dia bayangkan.
"Jangan bilang, kamu ingin menghindar dari aku ya Mas! Kamu harus tanggung jawab, aku ini hamil anakku! Jika kamu tak menikahi aku, aku akan bongkar hubungan terlarang kita ke Jihan! Biar Jihan tahu, kalau suaminya menghamili sahabatnya sendiri," ancam Melisa.
Sungguh pilihan yang sulit bagi Wildan. Di satu sisi, dia benar-benar menyesal telah menjalin hubungan dengan Melisa, di satu sisi lagi dia tak ingin Jihan tahu. Rumah tangganya dengan Jihan, akan hancur dalam sekejap. Dia yakin, kalau Jihan tak akan mau menerima di madu. Meskipun, madunya adalah sang sahabat.
"Ternyata, menikah sama kamu, Wildan semakin susah. Kasihan Wildan dong, jika dia menikah sama kamu," sindir Mama Risma.
"Mama jangan bicara seperti itu! Mama kan sejak dulu sudah tahu, kalau aku memiliki anak. Aku sampai bekerja ke Jakarta. Tapi, kondisi aku sekarang lagi hamil. Aku tak mungkin bekerja lagi, dengan kondisi aku seperti ini. Jika memang Mas Wildan tak menginginkan anak ini, ya sudah di gugurkan saja! Aku tak sudi menanggungnya sendiri. Yang ada, hidupku akan semakin sulit," sahut Melisa.
Tentu saja Wildan tak mau Melisa menggugurkan kandungannya. Dia akan tetap mempertahankan anak itu, karena selama ini dia sudah mendambakan seorang anak. Sayangnya, anak itu berasal dari Melisa. Bukan Jihan, wanita yang dia cinta.
"Ya, sudah! Tak usah di bahas lagi. Semua sudah terjadi. Kasihan anak itu, dia tak salah. Sesuai kesepakatan awal, aku akan segera menikahi kamu. Tapi dengan syarat, pernikahan ini jangan sampai Jihan tahu. Nanti perlahan, aku akan bicara sama Jihan! Kita jalanin bersama, demi anak dalam kandungan kamu! Kalau kamu setuju, kita akan lakukan secepatnya. Sebelum, perut kamu membuncit. Kalau sudah pasti, nanti kamu hubungi ibu kamu lagi agar dia datang ke Jakarta. Aku akan menyewa apartemen, saat ibu kamu akan ke Jakarta. Setuju kan kamu?" Ujar Wildan dan Melisa menganggukkan kepalanya.
Melisa mengiyakan, dia tak mungkin menolak. Tak ada pilihan lagi untuknya, saat ini dia sedang hamil, dan butuh suami untuk menanggung hidupnya. Hingga akhirnya Melisa menerima menjadi istri kedua. Melisa mencoba menahan dulu perasaannya, sampai dia resmi menjadi istri Wildan. Terlebih saat ini Wildan datang, dengan Mama Risma. Melisa tak bisa bicara bebas.
Setelah pembahasan masalah pernikahan mereka selesai. Mereka memutuskan untuk pulang. Wildan akan mengantarkan Melisa terlebih dahulu ke kosannya. Setelah itu, barulah dia pulang ke rumah.
"Aku nanti langsung pulang ya, enggak bisa mampir dulu. Soalnya di rumah lagi ada Jihan. Takut curiga. Tadi saja dia seperti wajah yang curiga, saat aku sama mama sudah terlihat rapi. Hari Senin aku ke kosan, kamu jaga diri baik-baik ya! Hari Senin nanti aku kabari lagi, masalah pernikahan kita!" Ujar Wildan, Melisa terpaksa mengiyakan saja.
Jihan saat ini masih di salon. Salon cukup ramai hari ini, jadi lebih lama dari biasanya. Jihan harus mengantri secara bergantian. Dengan tak tahu malunya, Melisa chat Jihan untuk meminjam uang 500 ribu dengan alasan anaknya membutuhkan uang di kampung.
Melisa tampak gelisah, karena Jihan belum juga membalas chat dari dia. Sedangkan dia tak memiliki uang sama sekali. Wildan tak memberikan dia uang lagi. Dia pikir, berhubungan dengan Wildan hidupnya akan sejahtera.
"Lo kemana si, Ta? Kok telepon dari gue enggak di angkat si? Gue butuh lo, Ta!" Sejak tadi dia mondar-mandir di kamarnya, karena sahabatnya tak kunjung membalas pesan chat dari dia. Tak ada kabar.
Jihan memang sengaja silent ponselnya, agar tak menggangu dirinya selama di salon. Dia pun tak peduli, kalau nantinya sang suami mencari dirinya. Dia memang ingin menyenangkan hatinya sendiri.
Wildan baru saja sampai di rumah, dan tak menemukan sang istri. Membuat dirinya panik. Dia langsung memarkirkan mobilnya, dan turun menghampiri sang ART. Wildan langsung menanyakan keberadaan istrinya.
"Ibu lagi ke salon, Pak. Dari enggak lama bapak jalan," ucap sang ART. Hingga akhirnya dia baru bisa bernapas lega. Dia takut, kalau istrinya sampai pergi meninggalkan rumah. Bagaimana dia nantinya, kalau sang istri pergi dari hidupnya. Dia tak akan bisa membayar semua cicilan-cicilan selama ini.
"Oh, ke Salon. Memangnya, ibu ke salon mana Bi?" Tanya Arga. Sang ART memberitahu, kalau Jihan pergi ke salon di dekat rumah.
"Kemana istrimu?" Tanya Mama Risma ketus. Dia menunjukkan wajah tak sukanya. Wildan menceritakan, kalau Jihan saat ini sedang ke salon, melakukan perawatan. Tentu saja membuat mama Risma merasa tak suka mendengar ucapan Jihan ke salon.