Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Pelakor?


"Sayang, Mas harus segera berangkat ke Bali. Mas, dapat klien baru orang sana. Kamu tak apa-apa 'kan Mas tinggal. Kemungkinan, Mas dua hari di sana. Terpaksa deh dua hari kamu harus tidur sendiri. Kalau urusan Mas di sana sudah selesai, Mas akan segera pulang," ucap Affan kepada sang istri.


Affan baru saja menerima panggilan telepon dari asistennya. Kliennya meminta Affan sendiri yang menangani kasusnya. Mau tak mau Affan harus terbang ke sana, untuk bertemu dengan kliennya. Usut demi usut, kliennya seorang wanita. Dia ingin Affan mengurus kasus perceraiannya dengan suaminya.


Bagi Affan tak masalah. Dia hanya ingin bersikap profesional, menjalankan tugasnya sebagai seorang pengacara yang banyak mengurus kasus perceraian. Bisa dikatakan, dia selalu sukses mengurus kasus perceraian kliennya. Meskipun kasusnya begitu kompleks.


"Mas berangkat dulu ya! Pasti Mas kangen deh sama kamu, seperti biasanya," ujar Affan sambil memeluk tubuh Jihan erat, dan melabuhkan kecupan di kening sang istri.


Seperti biasanya, dia akan merasa berat. Jika harus meninggalkan istrinya sendiri. Affan gak mungkin membawa Jihan pada perjalanan dinas ini, mengingat kondisi Jihan saat ini sedang hamil muda.


Affan sudah pergi meninggalkan rumah, dan sudah dalam perjalanan menuju bandara. Dia berangkat sendiri, tanpa di dampingi asistennya. Mereka memang kerap berbagai tugas, dalam menyelesaikan tugas dari klien yang menggunakan jasa kantor advokatnya.


Kini dia sudah dalam penerbangan menuju Bali. Setelah menikah, aura wajah Affan lebih bersinar cerah. Dia terlihat lebih bahagia, dibandingkan hidup sendiri. Lebih terlihat kharismatik.


"Saya ke hotel dulu, simpan koper. Setelah itu, saya ke Kafe Anyelir," tulis Affan kepada kliennya.


"Maaf ya Mbak, saya datang terlambat. Mbaknya jadi harus menunggu saya," ucap Affan.


Mereka pun berjabat tangan. Affan tak merasa tergoda, meskipun wanita itu berpakaian begitu seksi. Begitu terbuka, menunjukkan payu*daranya yang padat berisi. Affan justru merasa risih, jika harus berhadapan secara langsung seperti saat ini.


Affan mulai melakukan interogasi terhadap kliennya, agar dia tahu letak permasalahan kliennya. Sebut saja wanita itu Adelia. Diam-diam dia tertarik pada Affan. Namun, Affan masih terlihat biasa, tak memiliki curiga sama sekali. Dia pikir, wanita itu hanya bersikap ramah, dan meminta bantuan kepadanya.


"Mas Affan menginapnya di hotel mana?" tanya Adel kepada Affan.


Affan menjawab jujur. Dia tak berpikir jauh, kalau Adelia akan bertindak nekat. Padahal dia tahu, kalau Affan sudah menikah. Dia pun terlihat selalu memakai cincin pernikahannya dengan Jihan di jarinya.


"Mengapa Mbak Adel menatap aku seperti itu ya? Ah, semoga saja ini hanya perasaanku saja. Aku gak boleh tergoda dengannya. Ingatlah Affan, istri kamu sedang hamil! Jangan buat kesalahan, yang nantinya akan membuat hidup kamu menderita. Jangan hancurkan rumah tangga kamu, dengan menghadirkan wanita lain di tengah-tengah pernikahan kamu dengan Jihan!" Affan mencoba mengingatkan dirinya sendiri.


Affan pamit, dan mereka akan bertemu lagi besok. Sampai permasalahan wanita itu, tuntas. Dia langsung meninggalkan tempat pertemuan tadi karena dia harus segera mengurus kasus itu.