Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Perhatiannya Affan Kepada Jihan


"Kamu mau makan apa? Kita makan dulu ya, sebelum kita pulang! Tadi, kamu banyak muntah. Pasti tubuh kamu lemas," ucap Affan kepada sang istri. Saat


Jihan tampak berpikir, makanan apa yang dia inginkan. Baru membayanginya saja, dia langsung merasa mual. Dia memilih ingin langsung pulang, ingin segera sampai di rumah. Namun, Affan terus memaksanya. Dia merasa khawatir dengan kondisi sang istri saat ini, yang terlihat begitu lemah.


"Tapi, kamu harus tetap makan. Meskipun, kamu muntah kembali. Gak apa-apa. Yang penting ada makanan yang masuk. Aku ingin, kamu dan Anak-anak kita selalu sehat! Ingat, sekarang ini. Sudah ada Anak-anak kita di dalam perut kamu! Kamu harus pikirkan itu! Mereka butuh asupan gizi," jelas Affan. Dia mencoba memberi pengertian kepada istrinya, dan akhirnya Jihan mengiyakan ucapan suaminya.


Kini mereka sudah berada di sebuah restoran makanan padang. Ini adalah sesuai permintaan Jihan kepada Affan. Tiba-tiba saja, dia menginginkan makan nasi padang. Affan sengaja mengajak Jihan ke restoran besar, agar Jihan memilih makanan yang dia inginkan. Kini, semua menu makanan sudah tersusun rapi di meja. Mereka hanya tinggal memilih makanan yang mereka inginkan.


"Paksain ya Sayang! Aku senang melihat kamu makan dengan lahap.Ya ... meskipun kamu lebih banyak makan lauknya, dibandingkan makan nasinya. Nanti, pulang dari sini. Kita langsung beli susu, buah-buahan, dan cemilan sehat ya," ujar Affan kepada sang istri dan Jihan hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah rasa sakit yang dia rasakan sebelumnya, kini dia bisa merasakan kebahagiaan. Affan kerap menunjukkan rasa cintanya kepadanya. Dia begitu perhatian kepada Jihan.


Affan mengatakan, kalau dia ingin menghubungi sang mami. Untuk memberitahu kondisi Jihan, yang saat ini sedang berbadan dua. Bahkan Jihan akan memberikan dua orang cucu sekaligus. Jihan juga mengatakan, kalau dia juga ingin menghubungi ibunya di kampung. Untuk memberitahu, kalau saat ini dia sedang hamil. Inilah, saat-saat yang dia nantikan. Yaitu, bisa merasakan hamil. Menjadi wanita yang sempurna.


"Ya sudah, nanti setelah makan. Kita hubungi kedua orang tua kita ya! Aku menghubungi mami dan kamu hubungi ibu kamu," ucap Affan kepada sang istri, dan Jihan mengiyakan.


Jihan sudah selesai makan. Dia berusaha untuk tidak muntah, dengan menarik napas panjang. Mencoba menenangkan diri. Affan pun sudah selesai makan.


"Kita mau telepon sekarang, apa nanti di rumah saja?" tanya Affan kepada sang istri.


"Di rumah saja kali ya? Biar ngobrolnya bisa bebas," sahut Jihan.


Akhirnya, mereka sepakat untuk langsung pulang. Affan ingin mengajak sang istri berbelanja dulu, membeli kebutuhan untuk sang istri. Affan melajukan kembali mobilnya menuju tempat untuk berbelanja. Dia menyuruh sang istri turun di lobby, dan dia berjanji akan menyusul sang istri langsung ke supermarket yang berada di Mall itu. Letak Mall itu tak jauh dari perumahan mereka tempati saat ini.


Setelah memarkirkan mobilnya, Affan langsung bergegas menyusul sang istri. Dia tak ingin membiarkan sang istri sendirian. Sebenarnya, dia ingin sekali sang istri berhenti bekerja. Kalaupun sang istri tetap ingin bekerja, dia ingin sang istri tak mendapat tugas ke luar kota. Mengingat sang istri saat ini sedang hamil muda. Kondisi sang istri pun saat ini sangat lemah.


Jihan mulai belanja yang dia butuhkan. Mulai dari buah-buahan. Dia ingin membeli buah jeruk, apel, pear, anggur, dan juga melon. Kemudian, langsung menuju tempat susu hamil. Dia membeli susu rasa coklat dan juga vanila. Setelah itu, dia langsung menuju tempat cemilan-cemilan.


Affan sudah berada di supermarket tempat sang istri berada. Dia langsung mencari keberadaan sang istri. Setelah berkeliling, akhirnya Affan menemukan sang istri. Dia langsung mengambil alih yang mendorong troli yang sudah terisi.


"Kalau sayur-sayuran, lebih enak belanja di pasar. Lebih murah juga. Sayang kalau belinya di supermarket. Harganya sangat jauh," jelas Jihan.


Affan langsung tersenyum. Istrinya, memang luar biasa. Meskipun dia kaya, tak menjadikan sang istri bersikap seenaknya. Pilihannya tak salah. Sang istri bukanlah wanita matre. Rasa cintanya sang istri kepadanya, sangat tulus. Bukan karena melihat dirinya seorang yang kaya raya.


Setelah selesai berbelanja, Jihan dan Affan memutuskan untuk pulang. Tubuh Jihan terasa sangat lemas. Wajahnya pun terlihat pucat. Membuat Affan merasa khawatir.


"Pusing ya? Sabar ya! Tahan dulu," ucap Affan kepada Jihan. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang.


Sesampainya di rumah. Affan langsung memarkirkan mobilnya sembarangan. Dia melarang sang istri berjalan sendiri. Dia yang akan menggendongnya.


"Aku kuat kok, gak usah di gendong," ucap Jihan kepada sang suami.


"Udah nurut saja! Aku tahu, pasti kamu lemas banget, aku takut kamu jatuh saat naik tangga," sahut Affan.


Affan langsung menggendong tubuh sang istri, dan membawanya ke kamar. Bi Sumi merasa bahagia dan bersyukur, melihat sang majikan hidup bahagia dengan suami barunya. Sikap yang dilakukan Affan kepada Jihan, menjadi pusat perhatian para pekerja di rumahnya. Affan menjadi lebih posesif. Setelah menurunkan sang istri di kamarnya, dia langsung turun kembali ke bawah untuk menemui para pekerjanya. Kini mereka sudah berkumpul.


"Di sini saya ingin menyampaikan, kalau Nyonya saat ini sedang hamil. Hamil anak kembar, dan kondisinya saat ini sedang lemah. Saya minta kepada kalian, tolong layani dia dengan baik! Jangan perbolehkan Nyonya bekerja apapun! Dia juga, jangan terlalu sering naik turun tangga! Kalian saja yang antar makanannya ke kamar, jika saya tak ada di rumah! Bi Sumi, tolong fokus mengurus Nyonya ya!" ucap Affan. Dia meragukan istrinya sendiri.


"Alhamdulillah ya Allah. Aku sangat bahagia. Akhirnya, saat ini Ibu Jihan sedang hamil. Aku yakin, Pak Wildan pasti sangat menyesal. Telah menyia-nyiakan dia. Tapi, Bu Jihan lebih cocok sama Pak Affan. Terlihat sekali, kalau dia begitu mencintainya," ucap Bi Sumi dalam hati.


Para pekerja di rumah itu, turut mendoakan Jihan. Mereka juga mengucapkan selamat kepada majikannya. Mereka turut senang mendengar majikan ceweknya saat ini sedang hamil anak kembar. Setelah selesai berbincang dengan para pekerjanya, Affan kembali ke kamar menemui istrinya. Dia melihat sang istri yang sedang membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Lemas ya? Sabar ya, Sayang!" ucap Affan kepada sang istri sambil mengusap kepala sang istri dengan kelembutan. Saat itu Affan duduk di tepi ranjang.


"Mau makan buah apa? Minum susu ya? Mas buatin. Mulai sekarang, Mas punya rutinitas baru. Yaitu, membuat susu saat pagi dan malam hari. Mas ingin menjadi suami yang siaga," ucap Affan membuat Jihan tersenyum.