
Jihan sudah sampai di rumah, tetapi mobil sang suami belum juga ada. Padahal, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Tak biasanya, suaminya seperti itu. Selama ini sang suami, paling malam pulang jam 21.00 WIB. Namun, lagi-lagi Jihan berusaha untuk menepis perasaannya. Dia yakin, kalau semua ini hanya perasaannya saja.
Kini dirinya melangkahkan kakinya memasuki rumah, dan langsung menuju kamarnya. Meskipun saat itu sudah sangat malam, dia tetap memilih untuk mandi. Agar nanti, tidurnya terasa nyenyak.
Wildan baru saja sampai di rumah, dia langsung memarkirkan mobilnya, dan barulah dia masuk ke dalam rumah. Seperti biasanya, keadaan rumah tampak sepi. Wildan memilih langsung naik ke kamarnya,
"Baru pulang kamu, Mas? Kok tumben banget si kamu pulang malam banget? Tak seperti biasanya," tanya Jihan. Dia baru saja selesai mandi, dan sudah kini sudah mengenakan daster.
"Ya, tadi ada pertemuan dadakan sama klien. Kliennya rewel banget, banyak yang ditanyakan. Ya sudah sana, tidur! Aku lelah, malas membahasnya," sahut Wildan cuek. Dia memilih untuk langsung mandi, karena tubuhnya terasa lengket.
Jihan terkejut melihat sikap suaminya yang seperti itu kepadanya, selama ini suaminya selalu yang lebih dulu bercerita tentang pekerjaannya. Namun, Jihan mencoba berpikir positif. Kalau suaminya memang benar sedang merasa lelah seperti yang suaminya katakan.
Wildan sudah selesai mandi, dan langsung memakai pakaian. Kemudian langsung naik ke ranjang, tidur di sebelah sang istri. Lagi-lagi dirinya dibuat bingung. Saat sang suami, langsung memejamkan matanya. Tak ada kata-kata selamat tidur atau pun kecupan di keningnya, yang biasa sang suami lakukan kepadanya.
Jihan melirik ke arah sang suami yang sudah tertidur nyenyak, suara dengkuran begitu terdengar. Jihan kini menatap lekat wajah sang suami, ada perasaan hati yang berbeda.
Berbeda halnya dengan Jihan yang sedang bertanya-tanya, tentang perubahan suaminya. Melisa justru sedang merasa bahagia. Dia masih terjaga, mengingat kenangan percintaan dirinya tadi dengan Wildan. Wildan memang perkasa di ranjang, membuat dirinya menjerit merasa nikmat.
Hari terus berlalu, Jihan merasa suaminya semakin banyak berubah. Hampir setiap hari, dia beralasan pulang malam kepada Jihan. Hanya demi bisa bersama Melisa. Melisa benar-benar membuat Wildan berubah. Bukan hanya waktu dan sikap, Wildan juga berubah dalam memberikan uang kepada Jihan. Berbagai macam alasan dia utarakan.
"Mas, besok kan weekend. Aku ingin banget jalan-jalan ke Puncak atau Bandung. Bosan Mas di kosan terus mainnya. Sekali-kali cari suasana baru. Aku kan juga ingin merasakan tidur di hotel mewah," rayu Melisa yang kini tidur di dada bidang Wildan.
"Iya, nanti aku bilang sama Jihan dulu ya! Kalau Sabtu ini, aku harus pergi ke luar kota. Kamu memangnya tak apa-apa sering izin enggak kerja?" Tanya Wildan sambil tangannya mengusap lembut rambut Melisa. Keduanya kini masih sama-sama dalam keadaan polos, baru saja selesai bercinta.
"Kamu tenang saja, dalam urusan itu. Aku akan usahakan. Hotelnya yang bagus ya mas, kalau bisa yang ada privat kolam renang. Asyik kali ya bercinta di kolam renang. Mas sama Jihan sudah pernah coba belum?" Tanya Melisa yang kini menatap lekat wajah Wildan. Tentu saja belum, sensasi se*ks Jihan tak seliar dia.