Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Kedekatan Jihan dan Affan


"Kalau sudah jodoh, pasti ada saja jalannya untuk dekat. Semoga saja, Jihan nantinya bisa menjadi istriku. Sepertinya, keberuntungan sedang berpihak kepadaku. Ada saja jalan untuk bisa dekat dengannya. Aku ke Bali bisa sekalian bertemu Jihan di sana," ucap Affan dalam hati. Dia terlihat begitu senang dan berbunga-bunga, karena bisa bertemu sang pujaan hati.


Affan langsung bergegas untuk pulang ke apartemennya, dia ingin menyiapkan pakaiannya untuk berangkat ke Bali. Nanti, setelah sampai di Bali. Barulah dia akan menghubungi Jihan. Dia harus bertemu kliennya dulu di Bali, dan jika nanti ada waktu senggang. Barulah dia akan menemui Jihan.


Affan sudah dalam penerbangan menuju Bali. Senyuman terukir di sudut bibirnya. Sejak tadi, senyuman terukir di sudut bibir wajah tampannya. Ya, Affan sangat tampan dan gagah. Dia adalah keturunan Arab. Affan memiliki alis yang tebal dan hidung sangat mancung. Dia juga memiliki tubuh yang atletis.


"Akhirnya, sampai juga di Bali. Aku harus langsung menemui Pak Bondan, untuk mengurus kasusnya," ucap Affan.


Affan berjalan keluar bandara, menghampiri supir pribadi Pak Bondan yang sudah menunggu dirinya. Dia langsung dibawa menemui Pak Bondan. Affan salah satu pengacara yang banyak memenangkan kasus, namanya cukup di kenal. Meskipun demikian, tak menjadikan dia besar kepala. Dia juga selalu bersikap profesional dalam bekerja. Itulah yang membuat dia bisa meraih kesuksesan di usianya masih terbilang muda. Sayangnya, di usianya kini yang sudah berkepala tiga. Dia masih belum mendapatkan tambatan hati.


Dulu, dia sudah memiliki tunangan. Tetapi akhirnya, pertunangan mereka berakhir di tengah jalan. Lidya tunangannya selingkuh. Inilah salah satu alasan dia yang termotivasi untuk menjadi pengacara kasus perceraian. Ada kesenangan tersendiri, jika dia bisa memenangkan kasus itu.


"Gimana ya caranya aku bisa berkomunikasi dengan Jihan, agar dia mau membatalkan rencana gugatan cerai kepadaku? Apa nanti aku datangi saja ya rumahnya sepulang kerja? Tapi, Jihan 'kan sering pulang malam. Apa aku datangi kantornya saja ya?" Wildan bermonolog. Wildan tak tahu, kalau Jihan saat ini sedang berlibur ke Bali.


Berbeda halnya dengan Wildan yang sedang merasa gelisah, Jihan justru sedang SPA yang berada di hotel tempat dia akan menginap. Dia ingin menikmati kehidupannya sendiri. Tak ingin merasa sedih lagi, dan mengikhlaskan apa yang terjadi dengannya. Dia anggap sebagai jalan takdir hidupnya.


Affan baru saja selesai bertemu dengan kliennya. Kemungkinan, dia akan di Bali selama tiga hari. Itupun kalau pekerjaannya di Bali sudah selesai. Affan berniat mencari hotel untuk tempat dia menginap selama di Bali. Sebenarnya, dia ingin menanyakan tempat Jihan menginap. Agar dia bisa lebih sering bersama. Namun akhirnya, dia mengurungkan niatnya. Dia takut Jihan justru merasa terganggu. Dia akan mendekati Jihan secara perlahan.


Jihan baru saja selesai SPA. Alangkah terkejutnya Jihan saat melihat Affan sedang berada di bagian resepsionis hotel. Saat itu Jihan baru memasuki hotel, dan melihat seorang laki-laki yang sangat mirip dengan Affan. Dia yakin kalau itu Affan, meskipun dia hanya melihatnya dari arah samping.


"Mas Affan ...," panggil Jihan. Mendengar namanya di panggil, Affan pun menengok ke arah sumber suara. Sama halnya dengan Jihan, Affan pun merasa terkejut melihat Jihan berada di hadapannya. Doanya untuk bisa dekat dengan Jihan, terkabul.


"Kamu menginap di sini juga?" Tanya Affan kepada Jihan.


"Iya, Mas. Tadi aku baru saja selesai SPA yang berada di hotel ini. Mas di sini juga? Kebetulan banget ya?" Ujar Jihan.


"Iya. Kebetulan aku ada klien di sini. Ini juga aku berangkat dadakan. Sesampainya di Bali, aku langsung ketemu klien. Kebetulan tempat klien aku, tak jauh dari hotel ini. Kemungkinan aku di sini selama tiga hari. Tapi, bisa juga lebih lama. Kita lanjut ngobrol di Kafe saja yuk!" Ujar Affan dan Jihan mengiyakan.


Mereka langsung menuju Kafe yang berada di hotel itu. Affan mengajak Jihan mengobrol, sebelum dia ke kamarnya. Affan terlihat bahagia, bisa memandang wajah Jihan. Jihan dapat merasakan, tatapan Affan yang tak biasa kepadanya.


"Mengapa aku merasa hal yang berbeda, dengan tatapan Mas Affan kepadaku? Ah, tapi rasanya tak mungkin. Ini hanya perasaan aku saja. Jangan geer Jihan! Kamu harus jaga sikap kamu!" Jihan bermonolog. Sebentar lagi dia menyandang status janda, dia harus bisa menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita.


"Kebetulan banget ya Mas Affan ada pekerjaan juga di sini. Aku jadi ada temannya deh di sini," ucap Jihan dengan malu-malu.


"Itu karena kita jodoh! Makanya, kita di dekatkan. Aku menjadi bersemangat untuk segera mengubah status kamu. Semoga saja kamu mau menerima aku," ucap Affan dalam hati.


Dia tak ingin melangkah terlalu jauh, agar orang-orang termasuk Wildan tak salah paham. Agar Jihan tak dituduh selingkuh dengannya, sehingga ingin bercerai dengan Wildan. Agar Wildan tak mempersulit perceraian Jihan dengan dirinya.


"Amin. Aku ingin cepat-cepat bercerai darinya. Bisa segera terbebas darinya," ungkap Jihan.


"Ya, Mbak. Semoga saja! Berdoa saja Mbak! Semoga Allah mendengar doa-doa Mbak! Semuanya di permudah," ucap Affan.


Kini sudah waktunya, Wildan pulang. Wildan memilih pulang on time, dengan alasan harus menunggu sang mama yang sedang di rawat di rumah sakit. Padahal tujuan dia sebenarnya, ingin ke kantor Jihan bekerja.


Wildan baru saja sampai di kantor Jihan. Dia langsung memarkirkan mobilnya, dan memasuki kantor Jihan. Dia langsung menghampiri bagian resepsionis kantor, dan mengatakan ingin bertemu Jihan.


"Mohon maaf Pak, Ibu Jihan sedang cuti selama tiga hari. Bapak bisa hubungi ke ponsel Ibu Jihan langsung, jika ada hal penting," ucap sang resepsionis.


Dengan perasaan lesu, Wildan akhirnya keluar dari kantor Jihan bekerja. Hingga akhirnya Wildan berniat untuk mendatangi rumah Jihan. Dia khawatir, kalau Jihan merasa shock karena perselingkuhan dirinya. Dia menjadi merasa bersalah.


Wildan melajukan kembali mobilnya menuju rumah Jihan. Sesampainya di rumah Jihan, Wildan langsung memarkirkan mobilnya di depan pagar. Setelah itu dia turun dari mobil, menghampiri rumah yang dia tempati selama ini bersama Jihan.


Mendengar bel rumah berbunyi, Bi Sumi langsung keluar menghampirinya. Ternyata, mantan majikan lakinya yang datang. Tapi sekarang, dia tak perlu menghargai Wildan lagi karena dia bukan majikannya lagi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Bi, Ibu Jihannya ada?" Tanya Wildan.


"Maaf, Ibu Jihan sedang tak ada di rumah," jawab Bi Sumi singkat.


"Ke mana ya Bi? Bi, apa Bapak boleh bertanya? Gimana keadaan Ibu sekarang? Ibu sedih ya? Shock ya, saat mengetahui kejadian ini? Bapak harus ketemu Ibu, Bapak ingin bicara dengan Ibu. Bapak ingin meminta maaf, semua kesalahan yang Bapak perbuat. Ibu benar sedang pergi? Apa sebenarnya ada di dalam?" Ujar Wildan dengan percaya dirinya.


"Ibu sedang liburan. Kalau saya lihat, keadaan Ibu baik-baik saja. Seperti tak terjadi apa-apa. Ibu wanita yang kuat, sepertinya dia sudah mengikhlaskan semuanya. Lebih baik Bapak jangan pernah ganggu Ibu lagi! Dia sudah bahagia dengan hidupnya yang sekarang. Bukannya sekarang Bapak sudah bahagia dengan Ibu Melisa. Ibu sedang mengurus gugatan cerai dengan Bapak! Lebih baik Bapak tunggu saja! Ibu sudah tak mau kembali dengan Bapak," ucap Bi Sumi.


Setelah mengungkapkan kepada Wildan, Bi Sumi langsung pamit untuk masuk ke dalam ke dalam meninggalkan Wildan yang masih berdiri di depan pagar. Dia tampak memandang rumah yang kini terlihat begitu sepi. Keserakahan menjadikan dia kehilangan wanita yang begitu berharga.


"Aku tahu, pasti kamu sedih! Pasti rasanya begitu berat menjadi kamu. Aku pun merasa berat kehilangan kamu. Makanya, aku ingin kembali kepadamu," ucap Wildan.