Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Kebahagiaan Jihan, Penderitaan Wildan


Hari ini Jihan sudah mulai menempati rumah yang dibelikan Affan untuknya. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah mereka. Besok, pihak kepolisian akan melakukan penangkapan Wildan di kantornya. Affan tak akan main-main. Dia tetap akan memberikan pelajaran untuk Wildan. Meskipun, tuntutannya tak lama. Paling tidak, akan membuat Wildan di pecat dari tempat kerjanya.


Mobil yang membawa mereka telah sampai di rumah yang akan menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, dan kisah rumah tangga mereka. Affan langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, mereka turun bersama. Rumah itu, tentu saja lebih mewah dari rumah yang Jihan miliki dulu.


"Ayo Sayang, kita masuk ke dalam! Apa kamu suka dengan rumah ini? Jika ada yang kurang pas, kamu bisa bicara kepadaku! Aku akan menggantinya, dengan yang kamu suka!" ucap Affan kepada sang istri.


"Suka semua kok, Mas! Justru, ini sangat mewah. Pemilihan barang-barang untuk rumah ini sudah pas. Terima kasih ya!" ucap Jihan kepada sang suami.


Affan mengajak sang istri berkeliling rumah mereka. Memasuki ruangan satu persatu. Rumah itu berlantai dua. Affan mempekerjakan seorang ART, dan Jihan tetap mempekerjakan Bi Sumi sebagai orang kepercayaannya.


"Sekarang, kita ke kamar yuk Sayang!" ajak Affan.


Mereka langsung memasuki kamar mereka. Sebuah kamar yang luas dan mewah berada di lantai dua. Affan tampak melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Kini posisi mereka saling berhadapan, netra mereka saling bertemu.


"Aku ingin, kita menua bersama di rumah ini! Sampai kapanpun aku akan selalu mencintai kamu," ucap Affan dan Jihan mengiyakan. Tujuan Jihan sama seperti sang suami. Berharap, rumah tangganya akan terus harmonis.


"Semoga, akan segera hadir buah hati kita di rahim kamu! Aku yakin, kamu pasti hamil. Meskipun butuh waktu," ucap Affan. Dia langsung memberikan kecupan di perut sang istri, sambil mengusapnya.


Jihan berharap, kalau dia akan segera memberi keturunan untuk Affan. Berharap, Allah mendengar suara hatinya yang sudah sangat menginginkan seorang anak di rumah tangganya dengan Affan. Dia juga ingin membuktikan, kalau dirinya tak mandul. Seperti yang dikatakan mantan ibu mertuanya.


"Kita istirahat dulu ya! Nanti setelah itu, baru makan siang! Mata aku ngantuk. Temani aku ya!" ucap Affan kepada Jihan.


Jihan menganggukkan kepalanya. Dia pun akhirnya naik ke ranjang, dan ikut berbaring di sebelah sang suami. Affan tampak memeluk tubuh sang istri. Awalnya, Jihan merasa agak risih karena harus berpelukan dengan laki-laki lain. Termasuk saat malam pertama mereka semalam.


Tak butuh waktu lama, Affan langsung memejamkan matanya. Jihan tampak menatap wajah suaminya lekat. Dia bisa melihat ketulusan suaminya kepadanya.


"Semoga, kamu adalah suami terakhirku. Cukup sekali, aku merasakan kegagalan dalam rumah tangga. Semoga kamu adalah cinta terakhir di hidupku. Meskipun aku belum mencintai kamu sepenuhnya," ucap Jihan dalam hati.


Perlahan, Jihan pun ikut tertidur nyenyak. Dia merasa nyaman tidur dalam pelukan suaminya. Berbeda halnya dengan Jihan yang sedang menikmati masa indahnya menjadi pasangan pengantin baru. Wildan justru sedang sang marah dengan Melisa.


"Aku tak mengenal dia! Aku yakin dia berbohong, karena ingin mendekati aku! Dasar laki-laki miskin!" ucap Melisa. Melisa terlihat panik, saat dirinya bertemu dengan salah seorang pemer*kosa dia waktu itu. Dia berpura-pura tak mengenal laki-laki itu, karena dia tak ingin Wildan tahu. Tamat sudah riwayatnya, jika anak yang dia kandung saat ini. Bukanlah anak Wildan. Tetapi anak si pemer*kosa.


"Memangnya lo lupa ya, saat kejadian malam itu? Kalau gue sih, ingat banget wajah lo. Meskipun waktu itu gue setengah sadar. Gue buang dalam, saat bercinta sama lo. Jangan-jangan, itu anak gue ya? Eh, apa anak teman gue ya? Masalahnya, dulu 'kan gue enggak sendiri waktu bercinta sama lo," ucap Herman sang pemer*kosa waktu itu.


"Sekarang kamu jawab dengan jujur! Apa benar apa yang dikatakan laki-laki ini? Kalau kamu pernah melakukan dengan dia dan juga teman-temannya. Kamu menjebak aku 'kan? Seolah-olah anak itu, anak aku? Benar-benar keterlaluan! Aku benar-benar kecewa sama kamu. Gara-gara kamu bilang hamil anakku, aku sampai menikahi kamu, dan bercerai dari Jihan. Ah, benar-benar gila ini! Kamu menipu aku! Aku tak terima," ucap Wildan.


Wildan terlihat sangat marah. Melisa langsung berlutut di kali Wildan. Dia memohon, agar Wildan tak menceraikan dia.


"Aku memang di perko*sa mereka. Tetapi, kita juga 'kan sering melakukannya. Jadi, bisa saja itu anak kamu. Aku sama mereka hanya 1x saja bercinta. Sedangkan sama kamu berkali-kali. Berarti jelas, kalau anak itu adalah anak kamu Mas! Aku masih ingin bersama kamu! Tolong kasih kesempatan kepada aku, untuk tetap bersama kamu," ucap Melisa dengan wajah mengiba.


"Ya, terus gimana? Kalau anak itu memang anak gue? Gue juga 'kan kepengen punya anak! Kalau memang anak itu, anak gue. Gue akan menikahi lo, jadi istri kedua," ucap Herman.


"Gue bilang sama lo, tutup mulut lo! Mendingan, lo buang jauh-jauh deh pikiran lo itu yang enggak mungkin akan terjadi! Gue enggak akan mau menikah sama lo! Dasar laki-laki miskin! Tak punya apa-apa saja, berani mau nikahi gue. Berani-beraninya lo mengaku-ngaku" umpat Melisa.


"Bagaimana, kalau kita melakukan tes DNA untuk membuktikan. Siapa anak itu?" tantang Herman.


"Tidak! Gue takut, kalau nantinya akan terjadi sesuatu sama anak ini! Lagi pula, gue yakin kok. Anak ini, anak suami gue! Bukan anak lo! Sudah sana! Lebih baik, lo pergi dari sini! Jangan ganggu kehidupan gue lagi!" ucap Melisa.


"Ya sudah, kalau mau lo seperti itu! Gue enggak akan mengganggu hidup lo lagi! Orang mau tanggung jawab, dia malah nolak. Ya sudah, tanggung saja sendiri!" Cerocos Herman sambil meninggalkan Melisa dan juga Wildan.


Herman sudah pergi, dan kini hanya tinggal Melisa dan Wildan. Wildan diam membeku. Dia terlihat shock, karena mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya. Sebelum dia menikah dengan Melisa.


"Mas ...," ucap Melisa.


"Aku minta sama kamu! Jangan ganggu aku dulu! Aku butuh waktu untuk sendiri! Aku benar-benar tak menyangka! Kamu tahu? Betapa shocknya aku mendengar penuturan Herman? Kenapa kamu enggak bilang sama aku, sebelum kita menikah? Kamu sengaja 'kan menjebak aku, agar aku menikahi kamu?" Wildan terlihat begitu marah.


"Mas, aku mohon! Aku mohon maafkan aku! Aku memang salah. Aku terpaksa menutupinya dari kamu, karena aku tak ingin kehilangan kamu! Aku takut, kamu akan meninggalkan aku. Jika kamu tahu, aku diperko*sa. Aku mohon, Mas! Aku butuh kamu! Bisa saja, anak ini adalah anak kamu. Karena kita kerap melakukannya," ucap Melisa di iringi isak tangis.


"Pergi! Aku kecewa sama kamu! Aku mohon, jangan dekat aku dulu! Aku ingin sendiri!" Bentak Wildan.


Dengan perasaan kecewa dan sedih, akhirnya Melisa langsung ke kasur. Dia tampak menangis. Dia takut, kalau akhirnya Wildan meninggalkan dirinya. Lantas, bagaimana nasibnya dia dan anak dalam kandungannya. Jika Wildan menceraikan dia.


Mampir yuk ke karya temanku, dan berikan dukungan untuk ituπŸ˜πŸ™