Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Memilih Mengakhiri Nyawanya


Kondisi Wildan semakin memprihatinkan. Tubuhnya pun terlihat kurus, wajahnya juga terlihat suram tak ada semangat hidup.


Jika dia boleh memilih, Wildan akan lebih memilih pergi meninggalkan dunia. Dia tak tega terus menerus menyusahkan sang kakak. Meskipun sang kakak tak mempermasalahkannya.


"Aku hanya menjadi orang yang tak berguna! Ambil saja nyawaku, daripada aku harus tersiksa seperti ini."


Wildan tampak meneteskan air matanya, saat melihat ke bawah, dan tak memiliki kaki sebelah kanan. Tak ada yang dia harapkan lagi di hidupnya.


Setelah bercerai dari Jihan, hidupnya begitu menderita. Cobaan silih berganti. Hingga dia kini harus kehilangan kakinya, dan berbaring lemah di ranjang.


Dia sudah gelap mata, pikirannya benar-benar sempit. Saat memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Wildan terlihat begitu frustasi. Tak ada jalan yang indah, bisa dia tempuh. Dia tak ingin terus menerus merepotkan sang kakak.


"Maafin Wildan Kak, selama ini Wildan selalu menyusahkan kakak. Tak ada gunanya Wildan hidup di dunia ini. Aku hanya menambah beban kakak saja," ucap Wildan dalam hati.


Dia tampak begitu sedih, sampai meneteskan air matanya. Saat dirinya mulai menyayat tangannya. Darah segar mulai mengalir. Wildan tak henti-hentinya menangis. Menahan rasa sakit luar biasa yang dia rasa saat itu.


Wildan kehabisan darah. Hingga akhirnya dia jatuh pingsan. Saat itu sang kakak sedang mengantarkan anak dia sekolah. Dia terpaksa meninggalkan Wildan sendiri.


Nyawa Wildan tak tertolong lagi. Sang mantan suami pengkhianat, akhirnya menghembuskan nyawa terakhirnya. Wildan sudah pergi meninggalkan dunia. Dia tak sanggup menahannya lagi.


"Wildan!"


Sang kakak begitu histeris melihat sang adik dalam keadaan sudah tak bernyawa. Darah segar terus mengalir. Dia masih tak percaya, kalau sang adik akan berbuat senekat itu.


Air mata Vanya terus mengalir secara deras. Dia merasa sesak di dada. Vanya langsung menemui tetangganya, untuk meminta pertolongan untuk proses pemakaman sang adik. Dia ingin sang adik dikuburkan secara syariat.


"Selamat jalan adikku. Semoga tenang di sana, dan Allah mengampuni semua dosa-dosa kamu, dan juga dilapangkan kubur kamu," ucap Vanya dalam hati.


Vanya tampak menatap wajah sang adik yang sudah terluka pucat, karena memang sudah menjadi mayat. Nasib sang adik begitu menderita di akhir perjalanannya.


Wildan segera dimakamkan. Vanya tak ingin menundanya, dia ingin menyegerakan pemakaman sang adik. Untungnya, Vanya masih menyimpan uang. Uang itu akan dia gunakan untuk membiayai pemakaman sang adik.


Sayangnya, Vanya tak bisa menghubungi Jihan. Dia tak tahu nomor telepon Jihan. Dia ingin meminta, agar Jihan mau memaafkan kesalahan yang diperbuat sang adik waktu itu.


Belum lama dia kehilangan sang mama, kini dia harus kehilangan sang adik untuk selama-lamanya. Dia harus tetap semangat, membesarkan kedua anaknya dari suaminya dulu.


"Akhirnya, aku tahu nomor telepon Jihan. Aku ingin menghubungi dia," ucap Vanya yang saat itu sedang mengotak-atik mencari nomor telepon di ponsel Wildan.


Sayangnya, Jihan sudah blokir nomor telepon Wildan. Dia memang sudah tak ingin berhubungan lagi dengan mantan suaminya itu. Vanya mencoba menghubungi Jihan dari nomor ponselnya. Dia berhasil, karena dia bisa menghubungi Jihan.


"Nomor telepon siapa ya?" Jihan bermonolog. Saat melihat nomor tak dikenal menghubungi dia.