Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Kebahagiaan Jihan, Penderitaan Melisa dan Wildan


Melisa tampak lelah, wajahnya terlihat pucat. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Dia memutuskan untuk mampir dulu ke warung nasi, untuk membeli makanan. Sejak tadi dia menahan rasa laparnya, dan saat ini perutnya sudah tak sanggup menahannya lagi.


"Bu, saya pesan nasi pakai kikil dan sambal kentang ya. Kasih kuah sayur sama sambal ya! Minumnya, air putih es Bu!" ucap Melisa kepada sang penjual.


Dia harus bisa mengatur uang sebaik mungkin. Tak boleh boros-boros. Dia tak tahu, sampai kapan suaminya akan mendekam di penjara. Melisa belum mengunjungi sang suami, yang saat ini mendekam di penjara. Melisa makan dengan lahap. Dia begitu kelaparan. Setelah selesai makan, dia memutuskan untuk pulang. Besok, dia akan mencari pekerjaan kembali.


Kini Melisa baru saja sampai di kontrakannya. Dia langsung membaringkan tubuhnya di kasur busa berukuran kecil. Tubuhnya terasa begitu lelah. Melisa memutuskan untuk tidur, beristirahat. Tak butuh waktu lama. Kini, dia sudah terpejam.


Di tempat berbeda, Wildan terlihat begitu terpuruk. Hidupnya benar-benar hancur. Sampai-sampai dia harus merasakan hidup di balik jeruji. Tak ada yang dapat membantunya. Perselingkuhannya dengan Melisa, membuat rumah tangganya dengan Jihan harus hancur.


"Ya Allah, aku mohon kepadamu! Tolong bebaskan aku dari tempat ini! Aku benar-benar menyesali perbuatanku. Jika aku tak mengkhianati Jihan, aku tak akan seperti ini. Aku kehilangan apa yang pernah aku miliki. Kini, Jihan sudah hidup bahagia dengan laki-laki itu. Sedangkan aku, justru harus hidup menderita," ucap Wildan. Dia begitu kehilangan Jihan.


Wajah Wildan terlihat lesu, tak bercahaya. Dia tak bersemangat. Separuh nyawanya, seakan pergi meninggalkan dirinya. Dia tak memiliki kekuatan, Wildan terlihat rapu.


Mantan istrinya saat ini justru sedang menikmati masa pengantin baru. Menikmati indahnya berumah tangga. Jihan merasa beruntung mendapatkan Affan.


Setelah puas berbelanja. Baik Affan maupun Jihan, memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Sebelum mereka kembali ke hotel. Besok, mereka akan melanjutkan perjalanan mereka.


"Tidak! Aku ingin segera kembali ke hotel saja," sahut Jihan.


Kini mereka sudah berada di hotel. Jihan memutuskan untuk langsung mandi. Baru saja dia hendak membuka pakaian dia kenakan saat itu. Terdengar suar pintu ketukan kamar mandi. Membuat dia akhirnya, mengurungkan niatnya. Dia justru membuka pintu kamar mandi kembali.


Affan langsung masuk ke dalam kamar mandi, dengan cueknya dia langsung melepaskan pakaian yang dia kenakan. Secara spontan, Jihan langsung menutup matanya. Membuat Affan terkekeh. Dia langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Mengapa kamu seperti itu? Mengapa harus malu? Kamu 'kan sudah merasakannya," ucap Affan sambil melepaskan tangan sang istri.


Affan langsung melahap bibir Jihan, dan tangannya perlahan membuka resleting pakaian yang Jihan kenakan.


"Kita mandi bersama!" ucap Affan saat menghentikan ciumannya.


Kini, Affan sudah berhasil membuat tubuh sang istri dalam keadaan polos. Menunjukkan tubuh indahnya sang istri. Dia langsung mencium bibir istrinya kembali. Perlahan, ciuman itu menjadi bergairah. Affan menarik tengkuk sang istri, untuk memperdalam ciuman mereka.


Affan mengajak sang istri, untuk masuk ke dalam bathtub. Kini Jihan duduk di atas pangkuannya. Mereka melanjutkan aktivitas percintaan mereka. Percintaan panas pun akhirnya terjadi, keduanya tampak begitu menikmati.