
Pengalaman yang terjadi pada dirinya dengan Adel, menjadi pengalaman berharga untuk Affan dalam memilih klien. Dia tak ingin kejadian waktu itu terulang kembali. Untungnya, kasus yang dia tangani sekarang bukanlah klien wanita. Affan mulai membatasi ruang kerjanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas. Mas di mana?" tanya Jihan saat menerima panggilan telepon dari suaminya.
"Ini udah mau pulang, Sayang. Kamu lagi apa?" Affan balik bertanya.
"Baru selesai makan. Bi Sumi masakin aku balado cumi asin sama tumis kangkung. Alhamdulillah aku mau makan," jawab Jihan.
Senyuman melengkung di sudut bibirnya. Seperti itu saja, dia sudah senang. Cukup mendengar istrinya bercerita kepadanya. Affan senang, istrinya mau makan.
"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Nanti kita lanjut lagi ngobrolnya di rumah!" ujar Affan dan Jihan mengiyakan.
Mulai sekarang, jika pekerjaannya sudah selesai. Affan akan memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia mengurangi aktivitas di luar rumah. Kini Affan sudah dalam perjalanan pulang.
"Assalamualaikum." Affan mengucap salam. Melakukan panggilan telepon dengan sang istri.
"Waalaikumsalam." Jawab Jihan.
"Yang, aku sekarang udah di jalan. Ada makanan yang kamu inginkan gak? Biar sekalian aku beliin, sebelum aku pulang ke rumah," Affan menghubungi sang istri.
"Apa ya?" Jihan tampak sedang berpikir makanan apa yang dia inginkan.
Hingga akhirnya dia bilang menginginkan seblak dan es teler.
"Aku ingin, kamu segera sampai aja. Gak bawa makanan juga gak apa-apa. Perut aku udah kenyang juga," Jihan berkata kepada sang suami.
"Cie ... ada yang kangen ya sama aku? Berarti nanti bisa dong ehem-ehem. Semalam 'kan gak jadi, kita langsung tidur," goda Affan.
"Udah, sekarang Mas lebih baik fokus dulu menyetir. Biar cepat sampai. Hati-hati di jalan!"
Akhirnya, mereka mengakhiri panggilan telepon mereka. Affan ingin segera sampai di rumah. Mobil Affan melesat membelah jalanan ibu kota. Kini dia sudah sampai di rumah. Setelah memarkirkan mobilnya, dia langsung masuk ke dalam. Kemudian mencari keberadaan sang istri.
"Istriku ternyata ada di kamar. Temani aku mandi yuk!" rayu Affan yang sudah melingkarkan tangannya dari belakang.
"Mas genit ih sekarang," protes Jihan.
Affan terus merayu sang istri. Sampai akhirnya, Jihan pasrah menikmatinya. Dia ingin membahagiakan suaminya. Mereka akhirnya bercinta di kamar mandi. Menuntaskan hasrat yang sempat terpendam. Desa*han mengiring percintaan mereka. Affan semakin mempercepat permainannya, karena dia sudah mau mencapai kli*maks.
Dia langsung mencabut miliknya, saat dirasa sudah mau pelepasan. Dia tak boleh membuangnya di dalam. Sper*ma dapat menyebabkan resiko keguguran, saat kandungan istri masih muda.
Berbeda halnya dengan Affan dan Jihan yang sedang menikmati indahnya bercinta. Wildan sang mantan suami justru sedang menangis. Akhirnya, semuanya jelas. Bahwa yang dia adalah laki-laki mandul.
Wildan masih penasaran, hingga akhirnya dia memutuskan untuk memeriksa kesuburannya. Ternyata benar, dia tak subur.
"Itu tandanya, aku tak akan pernah bisa memiliki keturunan. Aku laki-laki tak berguna," Wildan bermonolog dalam hati.
Perasaannya kala itu begitu hancur. Semua sudah terbukti, kalau yang mandul itu dia bukan Jihan. Jihan terbukti hamil. Dalam kondisi seperti saat ini, apa mungkin ada wanita yang mau padanya.