
"Ayo kita masuk, pintu teater udah dibuka!" ajak Affan.
Mereka langsung mencari tempat duduk, sesuai nomor yang dipilih oleh Affan. Affan membuktikan kepada publik, kalau hubungan dia dengan istrinya baik-baik saja, dan terlihat mesra. Dia tak peduli, Orang-orang yang melirik ke arahnya.
"Kita nonton dulu ya, Dek! Kamu jangan rewel! Kasih kesempatan untuk papa berduaan sama mama ya" ucap Affan kepada sang anak sambil mengusap perut sang istri.
Affan mengatur posisi duduk yang nyaman untuk sang istri, selama menonton. Dia juga menyiapkan orange jus, air mineral, popcorn, French fries untuk istrinya dan juga dia. Selama menonton, Affan kerap menggenggam tangan sang istri. Sesekali dia juga mengecup pipi istrinya.
"Mas, nonton ih! Katanya mau nonton, kok malah godain aku terus sih," protes Jihan.
"Habisnya. Istri aku lebih menarik dibandingkan filmnya. Tadi mah lebih baik kita yang bikin film," goda Affan terkekeh.
Affan langsung menarik tangan istrinya, agar posisi sang istri menghadap ke arahnya. Perlahan, Affan pun mencium bibir istrinya. Dia menjadi kecanduan semua yang dimiliki istrinya. Dia menggigit bibir bawah istrinya, agar istrinya membuka mulutnya. Dia sudah mahir berciuman, dan memuaskan istrinya di ranjang.
Jihan menggelengkan kepalanya, saat tangan suaminya mengarahkan tangannya untuk memegang milik suaminya dari luar. Affan menghentikan ciuman mereka.
"Nanti lanjut lagi ya di rumah," bisik Affan di telinga Jihan.
"Kenapa kamu jadi mesum banget sih, Mas? Sepertinya, karena kelamaan membujang jadi begini ya?" Jihan tertawa geli.
Mereka berdua menjadi heboh sendiri. Sampai orang di sebelah Affan berdehem. Bukannya menonton, malah mengobrol.
Berbeda halnya dengan Affan yang sedang berbahagia, karena akhirnya rumah tangganya dengan Jihan bisa terselamatkan. Adel justru sedang menangis. Bukan hanya merasakan hidup di penjara. Kariernya yang selama ini dia perjuangkan, akhirnya hancur.
Satu persatu kontrak kerja sama dengannya dibatalkan oleh pihak pengguna jasanya, karena Adel tak bisa menjalankan tugasnya. Mau tak mau, mereka terpaksa tak melanjutkan kontrak kerjasama dengan Adel.
"Semua, gara-gara dia! Hidupku benar-benar hancur. Aku kehilangan segalanya. Lantas sekarang, bagaimana aku bisa bertahan hidup? Semua yang memakai jasaku, membatalkannya," ucap Adel lirih.
Adel begitu frustasi. Sampai dia terpikir ingin mengakhiri hidupnya. Selama ini, dia selalu hidup enak, dan mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi kali ini, hidupnya justru menjadi hancur.
Jihan dan Affan baru saja sampai di rumah. Keduanya sudah sama-sama mengantuk. Setelah sholat isya berjamaah, mereka memutuskan untuk tidur. Tak ada olahraga ranjang, karena Affan sudah merasa lelah.
Affan tampak memeluk tubuh istrinya, dan melabuhkan kecupan di kening istrinya. Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah tertidur nyenyak.
Sedangkan Adel justru masih terjaga. Dia tak bisa tidur. Dia tak terbiasa tidur di lantai beralaskan koran. Tak pernah terbayang olehnya, nasibnya akan seperti saat ini
"Aku sudah tak tahan lagi! Lebih baik aku mati saja. Daripada harus hidup tersiksa seperti ini," ucap Adel dalam hati.
Padahal saat itu, Teman-teman yang satu sel dengannya sudah tertidur nyenyak. Adel mencari benda tajam di sekitar sana. Dia sudah berniat untuk bunuh diri.