Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Serangan Jantung


"Wil ... dada Mama sakit," ucap Mama Ratih.


Kini mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah Mama Risma. Wildan dan Melisa memutuskan untuk mengantarkan Mama Risma pulang ke rumahnya. Tetapi di perjalanan, Mama Risma merasa sakit di dadanya. Tak lama kemudian, Mama Risma jatuh pingsan. Tentu saja hal itu membuat Wildan panik, dia khawatir dengan sang mama.


Hingga akhirnya, Wildan menyuruh Melisa untuk ke belakang melihat kondisi sang mama. Wildan langsung mencari rumah sakit terdekat. Dia berharap, nyawa sang mama bisa terselamatkan.


"Nanti kamu turun dan minta pertolongan untuk menurunkan mama dan membawa ke IGD! Aku harus memarkirkan mobil dulu," ucap Wildan kepada Melisa mengiyakan.


Mobil Wildan memasuki rumah sakit, dan langsung berhenti di lobby. Melisa langsung turun dari mobil, dan mencari pertolongan ke bagian IGD. Mama Risma langsung mendapatkan pertolongan. Mama Risma terkena serangan jantung.


Kini kondisinya sangat lemah, harus menggunakan peralatan medis. Berbagai alat medis terpasang di tubuhnya. Wildan terlihat bertambah pusing. Permasalahan hidupnya bertambah. Dia terlihat hanya diam, dia merasa begitu lemah. Seakan hilang separuh napasnya.


Perawat menyuruh Wildan bertemu dengan sang dokter yang merawat Mama Risma. Dokter menyarankan agar Mama Risma melakukan operasi pemasangan ring di jantungnya. Berharap hal ini akan membuat Mama Risma bisa bertahan hidup.


Wildan tampak bingung, ke mana dia harus mencari uang untuk menyelamatkan sang mama. Jika saat ini dia masih bersama Jihan, pasti dia tak akan merasa pusing seperti ini. Dia benar-benar menyesali perbuatannya, dan kini dia harus menanggung semua perbuatan yang dia lakukan.


"Apa kata dokter, Mas? Apa nyawa Mama bisa terselamatkan?" Tanya Melisa. Dia bicara begitu hati-hati kepada sang suami.


"Andai aku tak selingkuh dengan kamu, hubungan aku dengan Jihan pasti masih baik-baik saja," ucap Wildan.


"Jadi, kamu menyesal menikah dengan aku? Sama Mas, aku juga menyesal kalau tahu akhirnya akan hidup susah seperti ini. Andai aku tahu sejak dulu, Mas menumpang hidup sama Jihan. Aku pasti tak akan mau dengan kamu, sama saja seperti dulu. Hidup susah lagi! Aku capek hidup susah terus, aku ingin hidup menjadi orang kaya," cerocos Melisa. Dia merasa tak terima, dengan pernyataan Wildan.


"Aku memang bodoh, bisa-bisanya aku tergoda sama kamu. Padahal, Jihan begitu sempurna. Setelah anak itu lahir, aku ingin bercerai dari kamu!" sahut Wildan.


"Tega! Kamu benar-benar tega, Mas! Anak ini belum lahir saja, kamu sudah berencana seperti ini!" ucap Melisa.


"Loh, kata kamu. Kamu menyesal menikah dengan aku? Makanya, setelah anak itu lahir. Kamu akan aku bebaskan untuk menikah dengan laki-laki lain! Sudahlah, sekarang lebih baik kamu pulang saja ke apartemen! Aku lagi pusing, jangan menambah beban aku! Tolong besok ibu dan anak kamu pulang kampung ya! Soalnya, aku enggak mampu terus menerus membayar uang sewa apartemen. Lebih baik kamu istirahat! Ingat pikirkan anak dalam kandungan kamu!" ucap Wildan.


"Kamu benar-benar egois, Mas! Ok, aku pulang sekarang, sesuai keinginan kamu!" ucap Melisa. Melisa langsung pergi meninggalkan Wildan. Dia begitu kesal.


Author ingin ucapkan permintaan maaf🙏 Maaf, bulan ini aku banyak sakit. Ini pun sedang sakit, tapi aku paksaan🙏🙏 Terima kasih sudah setia dengan karya ini, terus beri dukungan untuk karya ini ya🙏