
Affan sudah dalam penerbangan ke Jakarta. Dia akan menyuruh asistennya, untuk memantau apa yang akan terjadi setelah ini. Sesampainya di Jakarta, Affan akan langsung menghubungi asistennya. Dia tak ingin, permasalahan yang terjadi nantinya akan membuat rumah tangganya menjadi goyah. Karena kesalahpahaman.
Akhirnya, Affan sampai di Jakarta. Dia langsung menghubungi asisten advokat sekaligus orang kepercayaan dia. Affan menceritakan semuanya secara detail. Setelah selesai melakukan panggilan telepon. Dia langsung pulang menuju rumah, dengan menggunakan taksi online.
"Kenapa Mas Affan telepon dari aku gak diangkat ya? Dari semalam, dia juga tak ada kabarnya," Jihan bermonolog.
Affan memang sengaja menonaktifkan nada dering ponselnya, karena dia ingin beristirahat sejenak. Selama dalam perjalanan. Tubuhnya terasa lemas, dan matanya masih mengantuk. Mungkin, pengaruh obat dalam tubuhnya masih bereaksi.
Sampai akhirnya taksi yang membawanya sampai di rumahnya. Sang security langsung membuka pintu gerbang rumahnya. Dia pun langsung turun. Sang security yang akan membawa kopernya.
"Assalammualaikum. Ibu mana?" tanya Affan kepada Bi Sumi. Saat itu yang membuka pintu rumahnya yaitu Bi Sumi.
"Ibu di kamarnya, sedang beristirahat. Tadi habis makan siang, langsung naik ke atas lagi," jelas Bi Sumi.
Bicara tentang soal, makan siang. Affan menjadi teringat, kalau dia belum makan dari kemarin. Dia merasa kesal kembali kepada Adel, kala mengingat apa yang terjadi saat malam tadi.
"Semoga aku tak akan pernah lagi bertemu atau berurusan lagi sama kamu," ucap Affan dalam hati.
Dia mulai melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dia membuka pintu kamarnya secara perlahan, dan melihat sang istri yang sedang tertidur nyenyak. Saat itu jam menunjukkan hampir pukul 14.00 siang.
Affan langsung masuk ke kamar mandi, untuk mandi dan berwudhu. Dia ingin langsung sholat. Jihan terbangun, karena mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Jihan beranjak turun, dan berjalan mendekat kamar mandi. Namun, saat dirinya hendak membuka pintu kamar mandi. Affan membukanya lebih dulu.
"Mas Affan, kamu sudah pulang? Kok gak bilang, mau pulang cepat?" tanya Jihan kepada sang suami.
"Iya. Aku sengaja ingin memberikan kejutan untuk kamu. Nanti aku ceritakan ya! Sekarang, aku mau sholat. Sudah telat banget," ucap Affan lembut dan Jihan menganggukkan kepalanya.
Affan akan menceritakan semua yang terjadi semalam, dan meminta maaf kepada istrinya. Affan juga memohon ampun kepada Allah di dalam sujudnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama Mas Affan? Mengapa wajahnya terlihat sedih seperti itu?" Jihan bermonolog dalam hati. Dia duduk di tapi ranjang, menatap ke arah sang suami yang sedang sholat.
Affan sudah selesai sholat, dan masih menggunakan sarung dan kopiah. Dia berjalan menghampiri sang istri, dan berjongkok mensejajarkan dengan sang istri. Kemudian meraih tangan istrinya, dan menciuminya.
"Maafkan aku! Seharusnya, aku tak makan malam dengannya. Menerima tawaran makan bersamanya," ungkap Affan.
"Maksud Mas apa? Sebenarnya, apa yang terjadi dengan kamu, Mas?" Jihan bertanya kepada suaminya. Dia menjadi semakin penasaran dengan suaminya. Dia memang tahu, karena suaminya sempat bilang padanya sebelum berangkat.
Affan mulai menceritakan apa yang terjadi dengannya. Secara keseluruhan, tanpa ada yang dia tutupi dari istrinya. Dia juga meminta maaf, sempat terlintas bernap*su karena pengaruh obat pera*ngsang. Namun, Allah melindunginya. Saat kondisi dia tak karuan. Wajah istrinya hadir, membuat dia berusaha untuk kuat.
Affan menciumi perut istrinya sambil mengusap perut Jihan dengan penuh kelembutan." Maafkan Papa ya, Nak! Papa janji tak akan menyakiti Mama kamu, Papa sayang sama Mama kamu. Do'akan kami, agar bisa menjadi orang tua yang baik untuk kalian berdua!"
"Iya, Mas. Aku maafkan kamu. Terima kasih, karena kamu sudah berani untuk jujur, dan berjuang untuk tidak mengecewakan aku. Semoga semua ini, menjadi pelajaran berharga untuk kamu, dan semoga Allah selalu melindungi rumah tangga kita. Pondasi rumah tangga kita selalu kuat!" ucap Jihan.
"Makasih ya Sayang, sudah mau memaafkan aku dan memberikan kesempatan untuk aku bisa terus bersama kamu. Semoga saja berita ini tak viral. Tapi, paling tidak. Kamu sudah tahu semuanya, yang sebenarnya. Agar tak terjadi kesalahpahaman diantar kita. Bisa saja akan menjadi peluang, untuk mengambil keuntungan yang nantinya bisa menghancurkan rumah tangga kita. Sekali lagi, Terima kasih. Aku mencintai kamu, istriku!" Affan berkata kepada Jihan. Dia juga melabuhkan kecupan di pucuk kepala dan kening Jihan.
"Aku cinta banget sama kamu. Kalau dulu sih, aku merasa beruntung berurusan sama kamu saat kamu jadi klien aku. Akhirnya aku bisa mendapatkan kamu. Benar-benar gak aku duga dulu. Aku kaget juga dulu, saat kamu menghubungi aku, dan menceritakan apa yang terjadi sama kamu. Hingga akhirnya, aku membantu perceraian kamu dengan dia. Dari pengacara, akhirnya jadi suami kamu. Kalau sekarang sih, aku gak mau. Aku itu susah banget dapatkan kamu. Masa iya, aku buang sia-sia. Bodoh banget aku, kalau sampai hal itu terjadi. Dulu perasaan aku sempat pupus, saat aku mengetahui ternyata kamu sudah menikah, dan kamu tahu tidak. Aku pernah melihat keromantisan kamu sama mantan suami kamu. Terus aku pernah bilang, semoga saja aku masih ada kesempatan untuk memiliki kamu. Alhamdulillah Allah mengabulkan doa aku," ungkap Affan sambil terkekeh. Dia teringat apa yang terjadinya dengan dia dulu. Affan sudah bisa tersenyum, dia juga sudah bisa tertawa. Terlihat sekali kalau dia mencintai istrinya.
"Berarti, aku pisah. Karena doa kamu ya? Sengaja mendoakan aku pisah sama dia, agar aku jadi janda?" Jihan berpura-pura menggoda suaminya.
"Gak gitu juga! Memang sudah jalannya dari Allah. Kalau kamu itu jodohnya aku. Jodoh yang sempat tertunda. Apa yang dilakukan mantan suami kamu itu 'kan bukan karena aku yang merencanakan. Emang aja dia selingkuh dari kamu, tergoda sama si Melisa. Udah jelas-jelas kamu lebih unggul. Bodoh aja dia, lebih membela wanita murahan daripada kamu. Akhirnya menyesal deh sekarang. Apalagi, saat dia tahu kalau ternyata anak yang dilahirkan Melisa bukan anaknya. Tanpa lagi penyesalannya. Makanya, aku gak mau hal itu terjadi sama aku. Bisa gila aku, kalau sampai hal itu terjadi sama aku," sahut Affan dengan begitu semangat. Jihan tampak tersenyum mendengar ucapan demi ucapan suaminya. Dia merasa bersyukur, telah memiliki Affan. Laki-laki yang selalu memperlakukan dia dengan baik.
"Ngomong-ngomong, Mas belum makan dong sampai sekarang?" Jihan bertanya kepada sang suami.
"Iya, belum. Sampai gak terpikir untuk makan aku. Pikiran aku, gimana caranya agar aku segera sampai di Jakarta bertemu kamu dan meminta maaf. Aku sampai gak lapar," jawab Affan.
"Ya udah, ayo makan! Aku temani. Nanti Mas sakit lagi, karena gak makan," ajak Jihan.
"Iya. Habis makan, aku mau tidur sambil memeluk kamu. Oh iya, tadi kamu telepon aku ya? Maaf ya, aku gak dengar kamu telepon. Aku juga tidur nyenyak banget. Baru terbangun pas mau sampai. Aku memang sengaja silent, agar aku bisa tidur. Tadi lemas banget, dan ngantuk. Kayanya, masih ada pengaruh obat," Affan berkata lagi kepada Jihan dan Jihan mengiyakan.
Mereka turun bersama. Seperti biasanya. Affan tak mau lepas dari istrinya. Mereka turun sambil bergandengan tangan, menunjukkan kemesraan mereka. Saat di meja makan, Jihan langsung mengambilkan makanan untuk suaminya, dan menemani suaminya makan sambil menikmati salad buah makanan favorit selama dia hamil.
"Terima kasih ya Allah, karena engkau masih menyatukan aku dengan istriku. Aku masih bisa melihat wajah cantik istriku, dan melihat senyuman manisnya. Aku mohon, lindungilah aku dari pengaruh buruk! Jadikan aku selalu menjadi suami yang setia terhadap istriku, suami yang selalu mencintai istriku, dan suami yang selalu membahagiakan istriku. Aamiin," doa yang Affan ucapkan di dalam hatinya.
Affan makan begitu lahap. Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun, mereka tak langsung tidur. Mereka memilih duduk di sofa yang berada di kamar mereka. Saat itu Jihan sedang mengupas buah pear untuk dia dan suaminya.
"Yang, maafin aku ya! Aku kemarin belum sempat belikan kamu oleh-oleh. Belum bisa mengabulkan permintaan kamu. Tapi, kamu jangan khawatir! Aku sudah meminta tolong perawat yang merawat aku saat di rumah sakit. Aku minta sama dia tolong belikan pesanan kamu. Kue khas Bali. Nanti dia akan langsung paketkan melakukan cargo express. Sabar ya!" ucap Affan.
"Oh ini udah Yang, udah dikirim! Orangnya chat aku. Ini chat dia. Paling besok sampai. Dedek sabar dulu ya, jangan ngiler! Papanya nakal sih Dek, maafin Papa ya! Tapi Papa, ingat kok pesanan mama kamu. Papa akan wujudkan, meskipun harus tertunda sedikit," ucap Affan lagi sambil terkekeh.
"Iya, gak apa-apa kok Mas! Aku paham. Yang penting 'kan kamu udah usaha," sahut Jihan dan Affan menganggukkan kepalanya.
"Punya suami kere aja di rebut, apalagi punya suami standar tinggi. Udah ganteng, keren, kaya, profesinya bagus. Semoga saja Allah melindunginya, agar tidak pernah tergoda. Hal itu tak akan pernah terjadi lagi di hidupku. Terima kasih, karena engkau masih melindungi rumah tanggaku dengannya," ucap Jihan dalam hati.