Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Dua Garis Merah


Jihan langsung meneteskan air matanya. Dia benar-benar tak percaya, saya melihat alat tes kehamilan itu menunjukkan dua garis merah. Kedua alat itu hasilnya sama.


"Ya Allah, apa hasil ini benar? Kalau aku benar sedang hamil? Rasanya, masih seperti mimpi. Terima kasih ya Allah, engkau telah mengabulkan doa-doa kami, dan membuktikan kalau ucapan mantan mertua aku itu salah. Aku bukan wanita mandul, buktinya aku bisa hamil. Hanya saja, saat bersama suami pertamaku. Engkau tak mengizinkan aku hamil," ucap Jihan.


Affan merasa khawatir dengan keadaan sang istri, yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Hingga akhirnya, dia mengetuk pintu kamar mandi, dan berteriak memanggil sang istri dari luar. Jihan pun akhirnya membuka pintu kamar mandi itu, dan langsung di sambut sang suami yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Sayang, kenapa kamu lama sekali? Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Affan menunjukkan kekhawatirannya.


"Iya, aku baik-baik saja. Maaf, karena sudah membuat kamu menunggu," sahut Jihan.


"Ya, Sayang tak apa-apa. Hanya saja, aku sangat mengkhawatirkan kamu. Gimana hasilnya tadi?" tanya Affan lagi. Dia begitu penasaran.


Jihan langsung memberikan dua alat tes kehamilan itu kepada Affan. Alat itu sengaja Jihan masukkan kembali ke dalam bungkusnya. Affan mengambil alat itu dari dalam bungkusnya, secara perlahan. Matanya membulat sempurna, saat melihat alat itu menunjukkan dua garis merah.


"Kamu benar sedang hamil?" Affan bertanya untuk memastikan. Saking senangnya, dia menjadi tak jelas seperti orang bodoh. Jihan pun menganggukkan kepalanya. Sebagai tanda mengiyakan ucapan suaminya itu.


Affan langsung bersujud, sebagai bentuk rasa syukurnya. Akhirnya Allah mengabulkan do'anya, untuk memiliki keturunan. Sampai-sampai dia meneteskan air matanya, karena merasa terharu. Setelah sekian lama Jihan menunggu dua garis merah, pada hari ini Allah menunjukkan kuasanya. Jika Allah sudah berkehendak. Bagi manusia tak mungkin, bagi Allah sangatlah mungkin.


Affan bangkit berdiri dan memeluk sang istri dengan erat. Rasa sayangnya kini semakin besar. Setelah itu, dia langsung merenggangkan pelukannya, dan mencium pucuk kepala, kening, dan kedua pipi sang istri.


"Makasih ya, Sayang! Aku sangat bahagia sekali," ucap Affan dan Jihan menganggukkan kepalanya.


Affan menarik tangan sang istri, dan mengajaknya duduk di sofa. Kemudian dia berjongkok mensejajarkan dengan perut sang istri. Affan langsung menciumi perut sang istri.


"Assalamualaikum. Akhirnya, kamu hadir di rahim mama. Hadirnya kamu, menambah kebahagiaan kami. Kehadiran kamu sudah sangat dinantikan. Semoga kamu selalu sehat di rahim mama, sampai akhirnya kamu terlahir ke dunia dengan selamat. Mama Jihan juga selalu sehat. Papa sayang banget sama kamu dan Mama Jihan," ucap Affan.


Tak henti-hentinya Affan meluapkan rasa cintanya kepada sang istri. Dia menciumi sang istri kembali. Hal itu membuat Jihan merasa mual kembali.


"Waduh dek, jangan siksa papa dong! Masa iya, papa gak boleh dekat-dekat sama mama. Setiap papa cium mama, mama pasti muntah," protes Affan kepada sang anak.


Meskipun mereka sudah tahu, kalau saat ini Jihan sedang hamil. Affan tetap mengajak sang istri ke dokter untuk memastikan kondisi anaknya, berkonsultasi mengenai kehamilan, dan meminta obat mual dan vitamin kepada dokter. Affan akan memperhatikan kesehatan istri dan juga anaknya. Dia akan berperan penting dalam hal itu.