Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Aku Tak Peduli!


Jihan baru saja selesai perawatan, dan langsung menuju kasir untuk membayarnya. Setelah itu, barulah dia mengecek ponselnya. Ternyata, ada pesan chat dan beberapa panggilan telepon dari sahabatnya. Ada juga pesan dan panggilan telepon dari suaminya. Hari ini, entah mengapa dia merasa ingin membahagiakan dirinya sendiri. Tak peduli dengan suaminya.


"Kamu enggak tahu kan mas, kalau aku kecewa denganmu. Aku memang tak ingin ikut bersama kalian. Tetapi, paling tidak kamu ada sekadar basa-basi untuk mengajakku ke acara keluarga kamu. Biasanya, kamu selalu ingin aku ikut denganmu. Meskipun, mamamu menolak, dan tak suka padaku. Ya sudahlah, aku enggak mau ambil pusing. Aku selalu ingin, hidupku bahagia."


Tak ada yang Jihan balas, baik sang suami, maupun sang sahabat. Terlebih, Melisa sudah banyak berhutang padanya. Yang lama saja, belum dia bayar. Meskipun, dia berlebih. Jihan seorang yang perhitungan, karena dia harus menyisihkan uang untuk ibu mertuanya yang jahat, untuk sang ibu di kampung, dan juga tabungan untuk anaknya nanti. Semua sudah tersusun rapi.


"Yach, kok di baca doang si Jihan. Aku coba whatsapp lagi deh. Kacau ini, kalau si Jihan enggak pinjamkan uang. Kok dia enggak balas ya?" Melisa bermonolog. Hingga akhirnya, Melisa mengirimkan pesan lagi ke Jihan.


Saat itu Jihan sedang makan bakso di ruko deretan salonnya. Wildan tampak gelisah, karena sang istri yang tak kunjung pulang. Sama halnya dengan Melisa, Wildan pun merasa kesal karena Jihan tak membalas pesan darinya. Hanya membaca pesan chat darinya.


Hingga akhirnya Wildan menyusul Jihan ke salon dengan sepeda motor. Benar saja, mobil itu memang terparkir di depan salon. Namun, saat dia masuk ke dalam salon, dia tak menemukan sang istri. Dia sempat rusuh di dalam sana, meminta untuk masuk ke dalam. Tentu saja di tolak, karena salon itu khusus salon muslimah. Laki-laki tak boleh masuk.


"Kemana si ini orang? Nyebelin banget sih!" gerutu Wildan.


Tanpa rasa bersalah, Jihan keluar dari warung bakso dengan santai. Dia langsung mengerutkan keningnya, saat melihat sang suami berada di depan salon.


"Kamu ngapain mas di sini? Sudah pulang? Aku kira kamu masih di luar," ucap Jihan dengan cueknya.


"Kamu tanya kenapa aku di sini? Kamu sadar gak sih ini jam berapa? Apa pantas, seorang istri tak berada di rumah, saat suaminya pulang? Aku enggak melarang kamu, untuk melakukan perawatan. Tetapi, tahu waktu dong. Ditambah lagi. Kenapa kamu enggak balas pesan dari aku? Bisa-bisanya, kamu hanya read pesan dari aku, dan kamu juga enggak menghubungi aku balik. Di saat, kamu sudah selesai ke salon, dan bukannya langsung pulang. Ini justru makan bakso," cerocos Wildan.


Jihan tampak bingung, memperhatikan sikap suaminya itu. Dia seperti tak mengenal suaminya yang sekarang. Dia merasa suaminya sekarang, telah berubah. Berani bersikap keras kepadanya. Padahal, sang suami sangat tahu sifat Jihan. Dia paling tak suka di kerasin, apalagi di bentak. Dia akan semakin keras.


"Mas, selama ini aku sabar loch. Mama kamu bicara apapun, aku tanggapi. Aku pun selalu menjalankan kewajiban aku sebagai seorang istri, di tengah-tengah kesibukan aku. Aku selalu berusaha untuk imbang. Jika membahas kewajiban seorang istri dan suami, semua ini bukan murni kesalahan aku. Aku hanya ingin bersikap masa bodo, tak peduli dengan apa yang kamu lakukan dengan mama kamu. Apa pantas, kamu pergi dengan mama kamu tanpa berbasa-basi kepada aku. Aku sadar, mama kamu itu sudah tak menyukai aku. Makanya, dia tak menganggap aku sebagai menantunya. Oke, aku tak peduli! Toh, aku masih bisa hidup tanpa dia. Justru bagus dong, berarti dia sudah tak membutuhkan aku dan uangku. Mulai detik ini, aku enggak akan memberikan dia uang lagi. Terserah, kamu mau terima atau tidak! Tugas itu menjadi kewajiban anaknya, bukan aku yang orang lain. Lebih baik, yang itu untuk kebutuhan aku. Sudahlah, aku sudah lelah! Kalau kamu memang mau pisah sama aku, oke aku setuju! Mungkin aku bukan istri yang baik, dan benar apa yang di ucap mama kamu, kalau aku hanyalah wanita mandul yang tak bisa memberikan kamu keturunan," ucap Jihan tegas.


Jihan langsung pergi meninggalkan Wildan yang masih dia terpaku, dia langsung masuk ke dalam mobilnya, dan melajukan mobilnya menuju rumah. Mungkin, ini yang dikatakan lelah dalam menjalani rumah tangga. Dia merasa, perjuangannya selama ini tak ada artinya, dan saat ini dia hanya ingin mencari kebahagiaannya sendiri. Tanpa suaminya pun, dia bisa menjalani kehidupan.


"Gawat ini, kalau Jihan minta pisah. Gimana ini? Aku tak mungkin cerita ke mama, permasalahan ini. Dia nanti jadi tahu, kalau rumah itu rumah Jihan, dan uang yang biasa aku berikan itu sebenarnya dari Jihan. Duh, gimana ini? Gajiku enggak akan cukup untuk menanggung semuanya. Harus bayar cicilan rumah, kasih uang ke mama, harus nafkahi Melisa juga." Wildan tampak pusing. Dia terlihat mengacak-acak rambutnya, dan mengusap wajahnya dengan kasar.