
Jihan dan Affan sedang menikmati kebahagiaan menjadi pasangan suami istri. Mereka selalu mesra. Perlahan, Jihan pun mulai mencintai sang suami. Terlebih, Affan sudah banyak berperan di kehidupannya. Berbeda halnya dengan Melisa yang tampak bingung memikirkan kehidupan dia ke depannya, tanpa hadirnya Wildan di sisinya. Pastinya sangat berat baginya menjalankan kehidupan di kota besar, tanpa ada sanak famili.
Melisa memutuskan untuk mencari pekerjaan menjadi seorang pembantu atau menjadi pelayan toko. Demi bisa bertahan hidup di Jakarta dan memberikan uang untuk Ibu dan anaknya di kampung. Dengan tertatih, dia berusaha untuk kuat. Tak ada pilihan lagi untuknya. Tak ada lagi yang bisa membantunya.
Melisa mencoba mendatangi perumahan mewah yang berada di dekat perkampungan dia tinggal. Berharap, dia bisa segera mendapatkan pekerjaan. Satu persatu, dia datangi rumah di perumahan itu. Lelah? Itu sudah pasti, terlebih saat ini kondisinya sedang berbadan dua.
Berbeda halnya dengan Melisa yang begitu tersiksa. Jihan justru kini di jadikan ratu oleh Affan. Mereka kini sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di Singapura. Dengan setia, Affan menemani sang istri berbelanja. Jihan membelikan oleh-oleh untuk orang tuanya dan juga orang tua Affan. Jihan membeli oleh-oleh juga, untuk teman-temannya di kantor.
"Ke mana lagi, aku harus mencari pekerjaan? Sudah cukup jauh, aku berjalan. Tapi, tak satupun rumah yang mau menerima aku bekerja di rumahnya. Ya Allah, aku lelah dengan semua ini. Sampai kapan engkau menyiksa aku? Aku menyesal, karena aku begitu terobsesi dengan Mas Wildan. Padahal, harusnya aku sadar. Kalau Mas Wildan adalah suami dari Jihan sahabatku," ucap Melisa lirih.
Ponsel Melisa berdering. Melisa langsung tersadar, dan menghapus air matanya di wajahnya. Kemudian mengambil ponselnya, dari dalam tasnya. Ternyata, sang ibu yang menghubungi dia.
"Assalamualaikum.Ya bu. Ada apa?" Melisa mengawali pembicaraan dengan sang ibu melalui panggilan telepon.
"Waalaikumsalam. Mel, Mawar sakit. Sejak malam badannya panas. Ibu bingung, enggak pegang uang sama sekali. Kamu tolong transfer uang ya! Mawar juga enggak mau makan. Dia minta roti, kue, susu," ucap sang ibu.
Melisa tampak bingung, harus seperti apa. Alangkah terkejutnya sang ibu, saat mendengar kalau Wildan saat ini di penjara, karena tuduhan pencemaran nama baik kepada suaminya Jihan.
"Suaminya Jihan, pengacara cukup hebat. Mertua Jihan pengacara kondang. Kemarin pernikahannya di tayangkan di TV. Di gelar secara mewah. Aku juga enggak tahu, Mas Wildan dapat info dari mana bisa datang ke acara pernikahan Jihan sama suaminya. Di sana, Mas Wildan berulah. Membuat suaminya Jihan marah, dan melaporkan Mas Wildan ke polisi. Hingga akhirnya, Mas Wildan di tangkap saat dia bekerja kemarin. Mas Wildan langsung di tahan. Aku belum tahu, sampai berapa lama Mas Wildan di penjara. Namun, pihak kantor tidak terima. Mas Wildan di pecat, Bu!" Ungkap Melisa di iringi isak tangis. Dia tak mampu menahan perasaannya lagi.
Melisa juga mengatakan, kalau saat ini dia sedang berkeliling mencari pekerjaan untuk bisa bertahan hidup. Selama Wildan di penjara, karena tak ada lagi yang membantu dia.
"Aku sudah mendatangi rumah satu persatu di perumahan dekat aku tinggal. Tetapi, sampai saat ini. Tak ada satupun pekerjaan. Aku ingin melamar menjadi pembantu. Kalau memang tak dapat juga, aku ingin melamar ke toko atau tempat makanan. Melamar menjadi pelayan," ucap Melisa.
"Mel—Mel! Ibu heran sama kamu, hidup kamu kok menderita banget sih. Enggak kaya si Jihan yang selalu hidup beruntung mendapatkan apapun yang dia inginkan," ucap sang ibu.
"Emangnya, Mel mau hidup seperti ini? Mel juga inginnya bahagia. Makanya, Melisa ingin menikah dengan Mas Wildan. Melisa kira, nanti Melisa bisa hidup bahagia setelah menikah dengan Mas Wildan. Tapi ternyata, semua di luar dugaan Melisa. Mas Wildan tak seperti yang Melisa bayangkan. Ternyata, selama ini dia banyak bergantung kepada Jihan," ungkap Melisa.
"Bu, aku transfer 500 ribu ya untuk biayai hidup Ibu dan Mawar di sana! Tolong di irit-irit dulu ya, Bu! Soalnya, uangnya harus di bagi-bagi dulu. Aku belum mendapatkan pekerjaan lagi!" ucap Melisa kepada sang Ibu.
Tentu saja sang ibu langsung protes. Uang segitu mana cukup. Namun, Melisa tak bisa berbuat apa-apa. Dia pun harus mengirit, untuk bisa bertahan hidup.