
Jika harus memilih, Wildan pasti akan memilih untuk segera pulang ke rumah, dan menghubungi istrinya. Tetapi Melisa meminta Wildan untuk menjemput dirinya di tempat Melisa bekerja.
"Aku pulang dulu ya, ganti baju! Nanti kabarin saja ya, kalau mau pulang! Nanti aku jemput kamu." Tulis Wildan di pesan chat untuk Melisa.
Melisa belum menjawabnya, karena dia memang belum pegang ponsel. Masih di simpan di lokernya, kalau lagi kerja.
Wildan baru saja sampai di rumah. Dia langsung memarkirkan mobilnya. Setelah itu, langsung masuk ke dalam. Saking stresnya, dia sampai tak nap*su makan. Bahkan malam ini, dia belum makan.
"Assalamualaikum." Wildan mengucap salam dan langsung menghampiri sang mama. Setelah itu, dia mencium tangan sang mama, dan duduk di sebelah sang mama yang saat itu sedang menonton televisi.
Wildan terlihat lesu, dia tampak menyenderkan tubuh dan kepalanya di punggung sofa. Wajahnya terlihat tak bersemangat.
"Ma, aku tak bisa seperti ini. Aku merasa bersalah sama Jihan. Aku cinta sama Jihan, dan aku tak mau kehilangan dia," ungkap Wildan.
Wildan tak menyadari, kalau saat dia bicara. Ada Bi Sumi yang mendengar percakapan dia dengan sang mama. Membuat Bi Sumi merasa penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya, dengan majikannya.
"Kasihan Ibu Jihan. Pak Wildan juga terlihat sekali, kalau dia mencintai Ibu Jihan. Tapi, sepertinya. Ada masalah yang terjadi. Tak sepertinya Pak Wildan terlihat stres. Semoga, baik-baik saja. Rumah tangga mereka selalu harmonis," ucap Bi Sumi dalam hati.
Dia tak bisa berlama-lama di sana, untuk mendengar percakapan majikannya dengan sang mama. Karena dia harus masuk ke kamar, Mama Risma tahu kalau ada Bi Sumi. Saat dia menengok. Hingga akhirnya, Mama Risma mengeraskan ucapannya menyuruh Bi Sumi pergi. Hal itu membuat Wildan tersentak kaget. Dia merasa panik, takut Bi Sumi akan mengadu kepada Jihan.
"Sejak kapan mama mengajarkan kamu lepas dari tanggung jawab? Sebagai lelaki sejati, kamu harus menerimanya. Kamu harus segera menikahi dia! Khawatirnya, dia hamil anak kamu," ujar sang mama.
Tak ada jalan lain, kecuali menerima apa yang terjadi. Mau tak mau, Wildan harus menikahi Melisa, sebagai bentuk tanggung jawabnya. Meskipun hanya sekadar nikah siri, dan menutupi hubungannya dari Jihan.
Kini Wildan sudah berada si dalam kamarnya, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Setelah itu, barulah dia menunaikan ibadah sholat magrib.
Setelah sholat, Wildan memutuskan untuk membaringkan tubuhnya di ranjang. Permasalahan ini membuat dirinya berasa tak tenang.
Wildan mengambil ponselnya, berniat untuk menghubungi Jihan sang istri. Karena hari ini dia belum sama sekali menghubungi sang istri. Melihat sang suami menghubungi dirinya. Jihan terlihat senang, karena akhirnya sang suami menghubungi dirinya. Dia mengira sang suami sudah melupakan dirinya.
"Assalamualaikum." Jihan mengucap salam saat pertama kali menerima panggilan telepon dari sang suami.
"Waalaikumsalam. Kamu lagi apa? Maaf ya, aku baru sempat menghubungi kamu sekarang. Di kantor lagi banyak pekerjaan banget. Ini juga aku baru pulang. Baru sampai di rumah, makanya aku baru bisa menghubungi kamu. Kamu pulang kapan?" Tanya Wildan kepada sang istri.
"Insya Allah besok sore aku pulang, Mas. Mas besok jemput aku apa enggak? Kalau mas enggak sempat. Biar aku pulang sendiri saja. Tak apa-apa kok," sahut Jihan.
"Lihat besok ya! Besok aku kabarin ya! Kamu belum tidur?" sahut Wildan.
"Habis sholat Isya paling aku tidurnya. Ya sudah, besok aku tunggu kabarnya ya!" Ujar Jihan.
Wildan masih membaringkan tubuhnya di ranjang, dia berniat untuk memejamkan matanya. Perlahan dia pun tertidur nyenyak. Padahal dia berniat untuk menjemput Melisa di tempat kerjanya.
"Ya Allah, aku mohon! Jangan sampai masalah ini diketahui Jihan. Aku menyesal. Aku takut, kalau sampai Jihan tahu, dan akhirnya meminta pisah denganku. Aku tak ingin kehilangan dia. Aku berjanji untuk menjadi suami yang baik untuknya, yang tak akan tergoda dengan nap*su yang sesaat," ucap Wildan. Tak lama kemudian, dia pun terlelap.