Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Sikap Dingin Affan


Mawar baru saja sampai di rumah Jihan. Bi Sumi langsung mengajak Mawar ke kamarnya. Meskipun Bi Sumi tak menyukai ibunya, tapi dia tak tega kepada Mawar. Jika Jihan tak menolong, saat ini pasti dia sudah terlantar di jalan.


"Sudah jangan nangis terus! Do'akan saja ibu kamu! Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya," tegur Bi Sumi. Karena saat itu Mawar masih saja menangis sesenggukan. Dia begitu sedih, kehilangan sang mama.


Mawar langsung mengusinginap air mata di pipinya. Dia berusaha untuk tegar menghad yg gapi kenyataan yang ada. Dia harus sadar, di mana saat ini dia berada. Dia tak menggangu Bi Sum yang hendak tidur.


"Kalau mau tidur, naik aja ke kasur ya! Saya mau tidur," ujar Bi Sumi kepada Mawar, dan Mawar menganggukkan kepalanya.


Bi Sumi sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya terasa lelah, besok pagi dia harus bekerja kembali. Saatnya dia beristirahat. Mawar akhirnya pun ikut tidur di sebelahnya.


Dia mencoba menahan tangisnya, kala teringat wajah sang mama yang sudah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Sang mama memang telah menghancurkan harapannya. Namun, tak menjadikan dia menjadi membenci sang mama. Dia yakin, sang mama seperti itu karena ingin membahagiakan dia.


"Semoga mama tenang di sana. Mawar sayang mama. Do'akan Mawar, semoga Mawar kuat melewati semuanya. Do'akan Mawar, semoga Mawar bisa menjadi anak yang sukses, dan membanggakan," ucap Mawar dalam hati.


Akhirnya, Mawar pun ikut tertidur nyenyak. Mawar terbangun, saat mendengar Bi Sumi sholat subuh. Dia tampak mengucek-ngucek matanya, perlahan membuka matanya. Dia menjadi ingin sholat. Selama ini mama atau neneknya tak pernah mengajarkannya sholat. Dia ingin berubah menjadi anak yang baik.


Mawar duduk di tepi kasur, menatap ke arah Bi Sumi yang sedang sholat. Sampai akhirnya, Bi Sumi selesai sholat.


"Sudah bangun? Mau sholat?" tanya Bi Sumi kepada Mawar.


"Aku gak bisa. Gak pernah sholat. Gak ada yang mengajari aku sholat," ungkap Mawar.


"Ya udah, nanti di pesantren belajar ya! Jadi anak yang baik. Bu Jihan udah baik banget sama kamu. Jangan kecewakan dia! Kalau dia gak menolong kamu, kamu pasti akan terlantar di jalanan. Gak ada peduli sama kamu. Bapak kamu masih hidup gak? Punya nomor teleponnya gak? Biar dia jemput kamu," ujar Bi Sumi.


"Aku gak punya nomor telepon papaku. Setelah mama bercerai dari papa, aku tak pernah ketemu papaku lagi. Aku gak tahu papa aku di mana sekarang. Dia gak pedulikan aku. Aku ingin berubah, mau belajar sholat, mengaji di pesantren," jawab Mawar.


Mawar memilih ikut dengan Bi Sumi ke dapur, dia ingin belajar memasak. Melihat Bi Sumi masak. Dia sudah gak mengantuk lagi. Saat ini Mawar sudah berada di dapur, membantu Bi Sumi masak. Banyak hal yang dia tanyakan kepada Bi Sumi. Mawar merasa bersyukur, karena banyak orang yang baik padanya. Sehingga dia tak merasa sendiri. Bi Sumi pun sekarang menjadi baik padanya.


"Kamu taro sana makanan itu ke meja makan! Kamu susun makanan itu!" titah Bi Sumi. Mawar melakukannya dengan senang hati, menuruti perintah Bi Sumi.


Kini makanan sudah tersusun rapi di meja makan. Mawar pamit untuk mandi, karena dia harus bersiap-siap ke sekolah SDnya untuk pamit kepada guru dan teman-temannya. Ada perasaan sedih di benaknya. Padahal, dia baru saja dekat dengan teman-temannya, dan sekarang dia harus keluar dari sekolah itu. Dia akan tinggal di pesantren.


Jihan baru saja turun dari kamarnya. Dia langsung menghampiri Bi Sumi, untuk menanyakan keberadaan Mawar saat ini. Pagi ini Jihan menyuruh Bi Sumi mengurus Mawar mencari pesantren, dan pamit ke sekolah lamanya.


"Gimana keadaan Mawar, Bi? Pasti sedih terus ya kehilangan mamanya? Kasihan ya? Anak sekecil itu harus kehilangan mamanya untuk selamanya. Dia juga harus berjuang hidup, tanpa sang mama," ucap Jihan kepada Bi Sumi.


Affan sudah siap untuk berangkat bekerja. Kini dia sedang sarapan bersama Jihan. Mawar tak berani makan bareng dengan Affan. Jihan pun tak berani mengajak Mawar makan bersamanya. Dia tak ingin, suaminya marah karena merasa terganggu. Mereka baru saja selesai makan, Affan langsung pamit berangkat. Jihan mengantarkan sang suami sampai depan.


"Aku berangkat dulu ya! Ingat, kamu gak usah nganterin si Mawar ke pesantren. Suruh aja Mang Diman sama Bi Sumi yang mengurusnya. Kalau perlu, kamu telepon mama kamu, dan beritahu kalau Melisa sudah meninggal. Kali aja mama kamu tahu keberadaan bapaknya. Masih hidup apa gak. Kasih tahu, suruh urusin anaknya. Daripada menyusahkan kamu terus," cerocos Affan.


"Iya Mas, nanti aku coba telepon Bunda. Tapi, setahu aku. Bapaknya Mawar tak pernah peduli sama Mawar. Makanya selama ini, Melisa membanting tulang untuk membesarkan Mawar. Suaminya gak beres," jelas Jihan kepada suaminya.


"Ya itu 'kan dulu. Sekarang, ceritanya berbeda. Melisa udah meninggal. Lagi pula, Mawar masih menjadi tugasnya, sampai kapanpun. Karena Mawar anak kandungnya. Gak bisa lepas tangan gitu, meskipun sama ibunya udah pisah. Ya udah, coba bicarakan saja dulu sama bunda! Aku berangkat dulu ya," ujar ujar Affan dan Jihan mengiyakan.


Jihan tampak mencium tangan suaminya, kemudian suaminya mencium keningnya. Menunjukkan betapa cintanya dia kepada sang istri. Kini mobil suaminya sudah pergi meninggalkan rumah.


Setelah suaminya berangkat, Jihan langsung masuk ke dalam rumah, dan menemui Mawar. Saat itu Mawar sedang sarapan. Jihan ingin membicarakan kehidupan Mawar selanjutnya.