Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Membeli Rumah Melisa


"Semoga saja, rumah nenek segera laku. Agar kita bisa segera kembali ke Jakarta. Nanti, kalau mama punya uang lebih. Kita akan ke sini, menengok kuburan nenek," ucap Melisa kepada Mawar sang anak.


Berita Melisa ingin menjual rumahnya, sudah sampai di telinga ibunya Jihan. Dia berniat membeli rumah itu, yang pastinya dengan harga yang murah. Lagi pula, pasaran rumah di kampung memang murah. Di tambah lagi, rumah ibunya Melisa tak bagus. Harus di renovasi total, jika mau di tempati dengan layak.


"Ayo Pak, ikut Ibu ke rumah si Melisa! Ibu ada tabungan. Ibu ingin membeli rumah ibunya Melisa," ucap ibunya Jihan kepada sang suami.


Jarak rumahnya Jihan dan Melisa tak jauh. Hanya dengan berjalan kaki pun, sudah bisa. Tapi saat ini, ibunya Jihan pergi dengan sang suami menggunakan motor maticnya. Melisa terkejut, saat melihat siapa yang datang.


"Saya dengar, rumah ibu kamu mau di jual? Berapa? Rumah ini sebenarnya sudah tak layak, untuk di tempati. Palingan sebentar lagi juga akan rubuh. Kalau kamu mau, saya akan membelinya seharga 5 juta. Itu pun, kalau kamu mau karena butuh uang itu! Mel, Mel! Kasihan banget sih nasib kamu. Makanya, jadi orang itu jangan punya hati iri sama orang. Jadi seperti ini 'kan? Anak saya kurang baik apa sama kamu. Kamu masih saja gak tahu diri, merebut suaminya dari dia. Tapi, ada bagusnya juga sih. Jihan jadi punya suami yang kaya raya, dan hidup bahagia. Dari pada dia hidup terus menerus sama suami benalunya, yang hanya menumpang hidup sama Jihan. Gayanya selangit, padahal kere," ucap ibunya Jihan sinis.


"Yang benar saja, Bu! Masa iya, rumah ini di hargai hanya 5 juta. Paling tidak 50 juta bu, kalau ibu mau. Saya ingin kembali ke Jakarta, mau mencari pekerjaan di sana. Sambil menunggu Mas Wildan keluar dari penjara," sahut Melisa.


"Terserah kamu saja! Saya tak memaksa kok! Kalau kamu gak mau, ya sudah gak apa-apa. Saya tak ingin banget, hanya ingin investasi saja. Ya sudah, kalau kamu gak mau. Coba tawarin ke yang lain saja," ucap Ibunda Jihan.


Melisa tampak bingung. Nominal itu memang sang kecil, untuk ukuran harga rumah. Meskipun rumah di kampung. Tetapi, di satu sisi. Dia membutuhkan uang untuk dia bisa bertahan hidup bersama Mawar sang anak.


Kedua orang tua Jihan sudah kembali ke rumahnya. Kini hanya meninggalkan Melisa dan juga Mawar. Melisa masih ingin menunggu pembeli yang lainnya, yang harganya lebih tinggi dari ibunya Jihan.


Hari terus berganti, sudah tiga hari kepergian sang ibu. Namun, rumah sang ibu belum juga laku. Membuat Melisa merasa bingung. Sungguh, keputusan yang sulit baginya.


Berbeda halnya dengan Melisa yang sedang merasa bingung. Kebahagiaan justru selalu menghampiri pasangan Jihan dan Affan. Mereka selalu tampak mesra. Affan kerap memberikan kejutan-kejutan untuk sang istri. Menunjukkan rasa cintanya kepada sang istri. Mereka kerap mengabadikan momen kebersamaan mereka, dalam sebuah foto dan video.


Besok, mereka akan kembali ke Jakarta. Setelah melakukan perjalanan bulan madu. Mereka berharap, mereka akan membawa hasil pulang dari berbulan madu. Saat melakukan perjalanan ke luar negeri, Jihan dan Affan sempat melakukan pengecekan kesuburan. Dokter mengatakan, kalau kondisi keduanya tak memiliki masalah. Jihan dan Affan melakukan program kehamilan. Affan rela mengeluarkan nominal yang cukup besar, untuk bisa memiliki anak. Tentu saja di iringi doa dan usaha, berharap Allah akan segera mengabulkan permintaan mereka untuk memiliki anak.


"Gimana ya? Susah banget jual rumah ibu? Aku tak mungkin berlama-lama di sini. Stok uangku semakin menipis. Aku harus mencari pekerjaan secepatnya," ucap Melisa dalam hati.


Dulu, kehidupan mereka sangat prihatin. Untungnya Jihan selalu mendapatkan beasiswa. Sehingga bisa berkuliah. Jihan berjuang keras, demi bisa membahagiakan orang tuanya. Kini mereka bisa menikmati jeri payah hasil kerja keras mereka dulu.


Melisa terpaksa menerima tawaran ibunya Jihan.. Dengan perasaan malu, dia mendatangi rumah ibunya Jihan. Uang 5 juta bisa bermanfaat untuk kehidupannya, dari pada dia harus mempertahankan rumah itu. Tetapi, tak memiliki penghasilan.


"Yakin, kamu mau menjualnya sama saya? Gak menyesal di kemudian hari? Lebih baik jual sama orang lain saja, mungkin bisa berani mahal," ucap ibunya Jihan.


"Iya Bu, gak apa-apa. Lumayan uang segitu, untuk aku dan Mawar bertahan hidup. Sampai aku mendapatkan pekerjaan. Saya ikhlaskan rumah ibu. Saya ingin kembali ke Jakarta. Di sini, susah untuk mendapatkan penghasilan," jelas Melisa.


Rumah sang ibu sudah resmi menjadi rumah ibunya Jihan. Ibunya Jihan langsung memberikan uang itu kepada Melisa. Besok pagi, Melisa akan kembali ke Jakarta. Melisa akan mengemas barang-barang milik Mawar. Baju, buku-buku, dan perlengkapan sekolah milik Mawar.


Barang-barang milik sang ibu, tak ada yang dia bawa. Semua dia serahkan ke ibunya Jihan, untuk diberikan ke tetangga yang mau.


"Maafkan Melisa bu, Melisa terpaksa menjual rumah ibu. Melisa butuh uang ini, untuk kehidupan Melisa dan Mawar selanjutnya. Uang pemberian Mas Wildan habis untuk membiayai pemakaman ibu. Do'akan Melisa, semoga Melisa bisa punya uang yang banyak. Nanti kapan-kapan, Melisa nengok makam ibu ya. Maafkan Melisa, yang belum bisa membahagiakan ibu," ucap Melisa.


Melisa tampak meneteskan air matanya. Dia merasa sangat sedih. Mengapa hidupnya selalu menderita. Tak pernah sekalipun dia merasa bahagia.


Melisa dan Mawar sudah bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta. Melisa mencoba menguatkan diri, untuk bisa bertahan hidup. Kini Melisa dan Mawar sang anak sudah dalam perjalanan menuju Jakarta, dengan menggunakan bus.


Hari ini juga, Jihan dan Affan akan kembali ke Jakarta, setelah melakukan perjalanan selama 7 hari. Menikmati masa-masa berbulan madu. Mereka tampak bahagia. Keduanya sedang asyik bercinta, sebelum mereka kembali ke Jakarta.


Affan semakin mempercepat permainannya, karena dia sudah mencapai kli*maks. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh keduanya. Hingga akhirnya, keduanya mengerang bersama. Affan menyemburkan cairan hangat ke rahim Jihan.


"Ini adalah hari terakhir kita, sebelum kita kembali ke Jakarta. Semoga Allah mengabulkan doa kita. Kita bisa segera mendapatkan kabar bahagia. Namun, apabila Allah belum mengabulkan doa kita. Itu tandanya, kita di suruh terus berjuang sampai akhirnya Allah mengabulkan doa kita. Aku akan selalu mencintai kamu, sampai napas ini terhenti," ucap Affan. Affan melabuhkan kecupan di pucuk kepala dan kening Jihan.