Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Memilih Mengakhiri Hidup


"Lebih baik aku mati saja!"


Adel mulai menyayat tangannya dengan benda tajam. Hingga akhirnya, dia nekat memotong nadinya. Dia terlihat menggigit bibir bawahnya, untuk menahan rasa sakit. Saat itu darah segar mulai mengalir.


Perasaannya kala itu begitu hancur. Seakan dunianya terhenti. Hingga dia gelap mata, memilih mengakhiri hidupnya. Perlahan, kesadarannya berkurang. Hingga akhirnya Adel jatuh pingsan tak sadarkan diri. Kondisinya semakin melemah.


Saat itu, Teman-teman satu sel belum ada yang menyadarinya. Mereka masih tertidur nyenyak. Darah terus mengalir, tak terhenti. Nyawanya, akhirnya tak bisa terselamatkan lagi. Dia menghembuskan napas terakhirnya.


Beberapa jam kemudian, situasi sel penjara menjadi ramai Seorang napi saat itu hendak buang air kecil. Namun, pintu kamar mandi terkunci dari dalam. Dipanggil-panggil, tak ada jawaban dari dalam. Kamar mandi pun sangat sepi, seperti tak ada orang di dalam.


Hingga akhirnya mereka mendobrak pintu kamar mandi, dan mereka menemukan Adel sudah terbujur kaku di dalam. Mereka berteriak memanggil petugas kepolisian. Pihak kepolisian akhirnya membawa Adel ke rumah sakit Polri, untuk dilakukan tindakan otopsi.


Berita kematian Adel sampai juga ke telinga Affan. Pihak kepolisian menghubungi Affan, untuk memberitahukan berita kematian Adel. Kini beritanya, sudah ramai menjadi perbincangan awak media. Beritanya sudah terbit di media elektronik dan media cetak.


"Benar-benar gila ini cewek. Nekat banget. Gak tahan mental, tapi berulah mencari sensasi. Bagus deh dia meninggal. Jadi gak ganggu aku lagi," ucap Affan dalam hati.


"Siapa Mas yang telepon?" tanya Jihan yang mendengar percakapan suaminya. Dia menyadarkan lamunan Affan.


"Pihak kepolisian yang menangani Adel. Dia memberitahuku, kalau Adel bunuh diri. Nyawanya tak tertolong lagi. Dia sudah meninggal," jelas Affan kepada sang istri.


"Innalilahi wainnailaihi rojiun. Kok nekat banget sih itu orang, sampai bunuh diri gitu?" ucap Jihan.


Affan memilih langsung mandi, karena dia harus bersiap-siap berangkat ke kantor. Setelah Affan memakai pakaiannya, mereka langsung sarapan pagi bersama.


Keduanya tampak baru selesai sarapan. Affan pamit untuk berangkat. Jihan langsung mengantarkan sang suami sampai depan, kemudian mencium tangannya. Affan pun tak lupa mencium pucuk kepala dan kening sang istri.


"Aku berangkat dulu ya, Yang! Jaga diri kamu baik-baik di rumah! I love you," ucap Affan.


Jika dia tak mengingat harus bekerja, karena ada klien baru yang hendak menggunakan jasanya. Kini Affan sudah dalam perjalanan menuju kantornya.


Rasa sayang Affan semakin besar kepada Jihan. Affan baru saja sampai di kantor. Sebelum bekerja, dia hendak menghubungi istrinya terlebih dahulu.


Affan menolak untuk memberikan keterangan ke media. Dia sudah tak ingin berurusan apapun tentang Adel. Affan selalu bersikap tegas. Karakternya sangat berbeda, jika sedang bersama istrinya. Dia selalu bersikap romantis kepada istrinya.


"Ya udah, aku kerja dulu ya Sayang! Nanti kita lanjut lagi ya!" Affan berkata kepada sang istri.


"Iya, Mas. Selamat bekerja! Semangat ya, Mas!" ucap Jihan kepada suaminya.


Affan bersiap-siap untuk bertemu dengan kliennya. Dia selalu bersikap profesional dalam bekerja. Jihan memilih bersantai. Sebenarnya, dia merasa jenuh harus berdiam diri di rumah. Namun, suaminya tak mengizinkan dia bekerja.