Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Menyayangi Jihan, tetapi selingkuh


Wildan menepikan mobilnya, dia terpaksa harus menurunkan Melisa di gerbang perumahannya. Karena dia tak ingin Jihan nantinya akan mencurigai hubungan dia dengan Melisa.


"Maaf ya! Aku terpaksa harus menurunkan kamu di sini! Aku tak ingin Jihan curiga dengan hubungan kita," ujar Wildan dan Melisa mengiyakan. Mau tak mau, Melisa terpaksa menerimanya. Dia harus sadar, posisinya saat ini. Oleh karena itu, dia sudah tak sabar menanti saatnya Wildan menikahi dirinya.


Dengan langkah terpaksa Melisa turun dari mobil Wildan. Dia juga harus berjalan kaki, untuk sampai di rumah Jihan. Besok pagi Melisa akan pamit kepada Jihan. Mulai besok dia akan pindah ke kosan, dan mulai besok juga dia bisa bebas merayu Wildan.


Wildan baru saja sampai di rumah. Dia akan berakting, agar sang istri tak marah padanya, dan percaya dengan apa yang akan dia ucapkan. Wildan memasuki rumah, suasana rumah tampak sepi. Karena sang istri memang sudah tertidur nyenyak.


"Wildan, baru pulang kamu?" Tegur Mama Risma yang keluar dari kamarnya secara tiba-tiba. Membuat Wildan tersentak kaget, mendengar suara sang mama yang memanggil dirinya.


"Mama? Bikin aku kaget saja!" protes Wildan.


"Berarti kamu lagi melamun. Istri kamu sudah pulang tuh tadi sore," ucap sang mama.


"Iya, Ma. Makanya, aku ingin segera ke kamar menemui Jihan. Pasti dia sudah menunggu aku sejak tadi. Terlebih, aku tak jadi menjemputnya di bandara," jelas Wildan.


Tak lama kemudian, Melisa pun datang. Keringat bercucuran membasahi wajahnya. Dia terlihat begitu kesal.


"Kamu habis ngapain, Mel? Mengapa keringatan seperti itu?" Tanya Mama Risma kepada Melisa.


Wildan membuka pintu kamarnya secara perlahan, dan melihat sang istri yang sudah tertidur nyenyak. Dia memutuskan untuk segera mandi, tubuhnya terasa lengket. Karena tadi dia sempat bercinta dengan Melisa.


"Tadi, motor ojeknya mogok. Jadinya aku terpaksa turun, dan berjalan kaki dari gerbang perumahan," ucap Melisa berbohong. Padahal, kenyataannya tak seperti itu.


Melisa pamit untuk mandi, sedangkan Mama Risma berniat untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


"Giliran ada istrinya, lupa deh sama aku. Keluar lagi sikap sombongnya," gerutu Melisa.


Wildan baru saja selesai mandi, dia kini hanya menggunakan celana boxer dan juga kaos oblong. Wildan berjalan mendekati ranjang, tempat sang istri tertidur nyenyak. Kemudian duduk di tepi ranjang.


"Maafin aku sayang! Aku terpaksa melakukan ini, karena aku tak ingin kehilangan kamu," ucap Wildan dalam hati. Dirinya kini sudah terjebak dalam perangkap Melisa. Terhanyut dalam permainan Melisa.


Tidur Jihan menjadi terusik, saat sang suami mengusap kepalanya dengan lembut. Hingga akhirnya Jihan membuka matanya, dan menatap ke arah suaminya yang kini menatap dirinya. Jihan merasa ada sesuatu yang terjadi pada Wildan, dia bisa melihat dari mata suaminya itu. Jihan langsung bangkit duduk.


"Mas pulangnya sudah lama? Maaf aku ketiduran, karena merasa lelah menanti kamu. Sebenarnya, kamu ke mana si Mas? Kenapa tiba-tiba saja menghilang, tak ada kabar? Seharusnya, Mas kabarin aku kalau memang tak bisa jemput aku! Jangan buat aku menunggu yang tak jelas. Tak sepertinya Mas seperti ini padaku. Memangnya ada apa si?" Tanya Jihan menyelidik, membuat wajah Wildan berubah pucat.