Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Rencana Memasukkan Mawar ke Pesantren


"Mas, aku mau menemui Mawar dulu ke kontrakannya. Aku ingin membicarakan kepadanya, rencana memasukkan dia ke pesantren. Besok aku tak tinggal mencari pesantren untuknya, dan ke sekolah dia. Kasihan. Kalau bukan aku, siapa lagi yang mengurusnya," ucap Jihan kepada suaminya.


"Aku gak ngasih kamu ke kontrakannya. Suruh saja Mang Diman sama Bi Sumi ke kontrakan si Mawar. Bawa dia kesini! Kamu bicara di sini saja sama si Mawar. Besok pun, yang mengurus ke sekolah Mawar. Bi Sumi aja, jangan kamu! Aku tak ingin kamu capek mengurusnya. Kita cukup membiayainya. Tak usah turun langsung! Ingat, pikirkan anak kita. Maaf ya, jika kata-kataku membuat kamu tersinggung. Aku seperti ini, karena aku mencintai kamu. Cari pesantren anak yatim yang biasa aja, tak usah yang bagus. Yang penting kita ada itikad baik menolongnya. Biar dia mikir, bukan berpikir mencari kesempatan seperti ibunya dulu," ucap Affan tegas.


"Ya sudah. Aku temui Mang Diman sama Bi Sumi dulu ya Mas," sahut Jihan dan Affan mengiyakan.


Dia terlihat sedang sibuk. Sejak tadi tatapannya mengarah, ke arah laptopnya. Jihan harus memahami sikap tegas suaminya itu. Dia langsung keluar menemui Bi Sumi dan Mang Diman.


"Nanti Bibi tanya saja sama orang di daerah sana. Kita juga belum tahu sih ya kontrakan Mawar," jelas Jihan. Karena waktu itu mereka hanya menurunkan di depan gang kontrakan Melisa.


"Iya, Bu. Nanti Bibi sama Mang Diman nanya-nanya deh, sekalian lihat-lihat," ujar Bi Sumi.


Jihan menunggu Mawar di rumahnya. Bi Sumi dan Mang Diman sudah berangkat ke kontrakan Mawar, untuk menjemput Mawar membawanya ke rumahnya. Jihan akhirnya masuk kembali ke kamar.


"Sudah jalan Bi Sumi sama Mang Diman?" tanya Affan saat Jihan masuk ke dalam kamar.


Dia bersikap tegas. Namun, begitu perhatian dengan istrinya. Dia memang sangat mencintai Jihan.


"Iya, udah Mas," sahut Jihan.


Affan mematikan laptopnya, dan memanggil istrinya. Meminta Jihan duduk di atas pangkuannya. Jihan mengikuti saja, dia pun membahagiakan suaminya.


"Kamu tahu gak sih, kalau Mas sangat mencintai kamu? Maaf ya, kalau akhir-akhir ini banyak adu argumen sama kamu. Mas kesalnya bukan sama kamu. Kesal sama orang yang mengganggu ketenangan kamu. Selama ini dia sudah menyakiti hati kamu, masih saja tak tahu malu meminta tolong kamu. Hati kamu benar-benar mulia. Meskipun mereka jahat sama kamu, kamu mau memaafkan kesalahan mereka," ucap Affan yang kini memeluk tubuh istrinya.


"Iya, Mas tak apa-apa. Aku paham. Terima kasih sudah mengingatkan aku!" sahut Jihan.


Affan melepaskan pelukannya. Kini netra mereka saling bertemu. Affan merapikan poni Jihan, dan perlahan mencium bibir Jihan secara perlahan.


Mawar langsung ikut dengan Bi Sumi dan Mang Diman ke rumah Jihan. Mereka sudah sampai. Bi Sumi mengetuk pintu kamar Jihan, untuk memberitahu. Kalau Mawar sudah datang. Jihan dan Affan terpaksa menghentikan aktivitas ranjangnya.


"Ganggu kesenangan orang saja! Mas jadi kentang ini. Padahal tadi udah mau keluar," ucap Affan kesal.


"Iya, Mas maaf. Jadi harus terhenti dulu. Nanti lagi ya Mas dilanjut. Aku mau menemui Mawar dulu ke luar," ucap Jihan sambil memakai pakaiannya kembali.


Dia juga merapikan penampilannya. Setelah itu, barulah dia keluar dari kamarnya menemui Mawar. Bi Sumi sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Mawar, Tante Jihan baru dapat kabar dari Papa Wildan. Katanya Mama Melisa masuk rumah sakit jiwa ya? Sabar ya Mawar! Tante ikut prihatin. Do'akan terus, semoga Mama Melisa bisa segera sembuh, dan bisa berkumpul sama kamu lagi. Jadi begini, tadi Tante sudah bicarakan sama Papa Wildan tentang kepengurusan kamu. Sayangnya, dia menolak mengurus kamu. Mengingat keadaan ekonominya yang tak memungkinkan. Atas dasar kemanusiaan, Tante berniat menolong kamu. Tante ingin memasukkan kamu ke pesantren. Nanti Tante yang akan membiayai kamu selama di sana, kamu hanya fokus saja sama pendidikannya. Tante berharap, kelak kamu akan menjadi anak yang sholehah. Kamu di sana tak akan merasa kesepian. Di sana kamu akan memiliki banyak teman. Kamu mau ya? Daripada kamu sendiri di kontrakan," ucap Jihan kepada Mawar.


"Iya, Tante. Mawar mau. Maafin Mawar ya Tante. Kehadiran Mawar jadi merepotkan Tante. Andai saja nenek masih ada sampai sekarang, Mawar tak akan sendiri seperti ini. Semua ini gara-gara Mama, yang sudah berbuat jahat sama Tante Jihan. Bahkan orang-orang di kampung, tak menyukai keluarga kami. Saat nenek terkena serangan jantung, tak ada yang mau menolong nenek. Mawar saat itu sampai memohon kepada tetangga terdekat. Akhirnya, mereka mau menolong Mawar membawa nenek ke rumah sakit. Tapi sayangnya, nyawa nenek tak dapat tertolong lagi," ungkap Mawar di iringi isak tangis.


Jihan sebenarnya tak tega melihat anak sekecil itu harus menghadapi jalan hidup yang begitu menyedihkan. Tapi, dia tak ingin. Kalau nantinya dia menjadi bertengkar sama suaminya. Ini keputusan yang terbaik untuk Mawar.


Mawar menyuruh menyiapkan semua barang-barang miliknya. Mawar meminta tolong kepada Jihan. Dia ingin menitipkan pakaian sang Mama di kontrakan. Agar, kalau sang Mama sudah sembuh. Bisa mengambilnya di rumah Jihan. Melisa tak memiliki barang-barang berharga. Barang-barang yang lainnya terpaksa akan Mawar berikan kepada orang lain. Dia khawatir sang Mama sembuh dalam waktu lama, dan tak bisa membayar uang sewa kontrakan.


"Besok Bi Sumi akan ke sekolah kamu, mengurus pemberhentian kamu di sekolah itu. Setelah selesai, Tante akan langsung membawa kamu ke pondok pesantren itu. Kamu sudah siap 'kan? Lebih cepat lebih baik. Agar kamu tak sendirian di kontrakan. Biar Tante tenang, kalau kamu di pesantren," jelas Jihan kepada Mawar, dan Mawar mengiyakan.


Sebelum Bi Sumi mengantarkan Mawar kembali, Jihan menyuruh Mawar makan dulu. Dia juga menyuruh Bi Sumi menyiapkan makanan untuk Mawar makan sore nanti. Setelah Mawar selesai makan. Bi Sumi dan Mang Diman langsung mengantarkan Mawar kembali ke kontrakannya. Sebenarnya, Jihan merasa tak tega menyuruh Mawar pulang. Namun, dia harus menghargai suaminya.


Setelah Mawar pulang, Jihan kembali ke kamarnya. Dia melihat suaminya yang sedang tertidur nyenyak. Dia tak ingin mengganggu suaminya tidur. Jihan memilih untuk mandi.


Affan mendengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Dia yakin, kalau istrinya sedang mandi. Affan pun akhirnya beranjak turun dari ranjang. Setelah istrinya selesai mandi, kini giliran dia yang mandi.