Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Firasat


Malam begitu indah, bintang-bintang bertaburan di langit. Sebagai penerang di malam itu. Semakin lama, udara di luar semakin dingin. Saat itu, Affan dan Jihan sedang duduk berdua di balkon kamarnya.


"Besok pagi Mas mau eksekusi mantan suami kamu sama tim kepolisian ke kantornya," ungkap Affan kepada sang istri.


"Iya, Mas. Lakukan saja, Mas! Mungkin sudah saatnya, Mas Wildan menerima balasan atas apa yang dia lakukan selama ini. Agar dia bisa menyadari, kalau apa yang dia lakukan itu salah," sahut Jihan dan Affan mengiyakan.


"Ya sudah! Kita masuk saja yuk ke dalam! Udara di luar sudah sangat dingin, aku tak ingin kamu sakit. Apa aku boleh menghangatkan kamu?" ucap Affan sambil memainkan alisnya. Dengan malu-malu Jihan pun akhirnya menganggukkan kepalanya.


Affan langsung menggendong sang istri, dan Jihan langsung melingkarkan tangannya di leher suaminya. Affan membaringkan tubuh sang istri di ranjang dengan sangat hati-hati.


"Mas tutup pintu dulu ya, sama mau membersihkan milik Mas dulu," ucap Affan dan lagi-lagi Jihan hanya menganggukkan kepalanya.


Di saat sang suami membersihkan senjatanya, Jihan langsung membuka semua pakaian yang dia kenakan. Tubuhnya kini sudah dalam keadaan polos. Affan tampak tersenyum, tak kala melihat sang istri yang sudah menyambutnya.


"Terima kasih, Sayang!" ucap Affan.


Affan langsung merangkak naik ke ranjang, dia pun sudah terlihat polos. Tanpa basa-basi, dia langsung mencumbu sang istri dengan penuh kelembutan. Perlahan, ciuman mereka semakin bergairah. Lidah mereka saling membelit satu sama lain, tangan Jihan tampak melingkar di leher Affan.


Mereka menghentikan ciuman mereka, disaat pasokan oksigen hampir habis. Kini lidah Affan bermain di leher sang istri, perlahan turun hingga akhirnya sampai di bukit kembar sang istri yang begitu menggoda. Dia mulai menghisapnya secara bergantian.


Desa*han pun keluar dari bibir Jihan. Dia sudah terhanyut dengan permainan suaminya. Terlebih kini tangan sang suami bermain di area sensitifnya. Membuat dirinya tak mampu menahannya lagi. Dia menginginkan yang lebih.


Affan tampak tersenyum, tak kala tangan sang istri memegang miliknya yang sudah menegang. Sentuhan tangan Jihan, membuat libi*do Affan semakin meningkat. Dia sudah tak sabar, untuk mempertemukan miliknya dengan milik istrinya.


Dia langsung menghentikan aktivitas menyusunya, dan mengarahkan miliknya ke mulut sang istri. Meminta sang istri untuk memanjakan miliknya. Mata Affan sudah terlihat merem melek, menikmatinya.


Jihan langsung menghentikannya, karena Affan akan memulai percintaannya. Dia mulai melebarkan kedua pangkal paha sang istri, dan mengarahkan miliknya ke milik sang istri. Keduanya terdengar mende*sah, saat benda tumpul Affan sudah membenam dengan sempurna.


Affan mulai memompanya secara perlahan. Dia pun langsung menyerang bibir sang istri kembali. Keduanya hampir mencapai titik kli*maks. Hingga akhirnya, Affan semakin mempercepatnya. Tak lama kemudian, akhirnya mereka mendapatkan pelepasan. Affan ambruk di atas tubuh sang istri. Keringat bercucuran membasahi wajah dan tubuh keduanya. Affan mencoba mengatur napasnya yang masih terengah-engah. Jantungnya pun masih berpacu begitu cepat.


"Makasih ya, Sayang! Mas bahagia. Terima kasih sudah hadir di hidup Mas!" ucap Affan. Dia langsung melabuhkan kecupan di kening sang istri.


Setelah itu, dia langsung mencabut senjatanya, dan membaringkan tubuhnya di sebelah sang istri. Affan langsung beranjak turun dari ranjang, untuk membersihkan sisa-sisa percintaan mereka. Jihan pun melakukan hal yang sama, bergantian dengan sang suami.


"Kita tidur yuk! Besok Mas harus bangun pagi, untuk persiapan," ucap Affan kepada Jihan.


Jihan membaringkan tubuhnya di ranjang, Affan pun ikut naik bersama sang istri. Matanya sudah mulai mengantuk. Tak butuh waktu lama, mereka kini sudah tertidur nyenyak.


Berbeda halnya dengan Affan dan Jihan yang sudah tertidur nyenyak. Wildan justru merasa gelisah, perasaannya sejak tadi tak enak. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Dia justru merasa khawatir dengan kondisi sang mama. Berharap, sang mama akan baik-baik saja, dan ini hanya perasaan yang tak beralasan.


"Ya Allah, aku mohon! Tolong lindungilah Mama ku ! Aku sangat menyayanginya," ucap Wildan dalam hati. Dia melirik ke arah sang istri yang sudah tertidur nyenyak.


"Maafin aku, Mel! Aku benar-benar kecewa sama kamu. Jika anak yang ada dalam kandungan kamu, bukanlah anak ku. Aku tak akan pernah memaafkan kamu!" ucap Wildan dalam hati.


Wildan mencoba untuk tidur kembali. Berharap, semua itu hanyalah ketakutan dia saja. Hal serupa yang dirasakan sang mama. Perasaannya tiba-tiba saja tak enak. Dia menjadi teringat sang anak.


"Ya Allah, aku mohon! Tolong lindungilah anakku! Aku sangat menyayanginya!" ucap Mama Risma.