
"Ya udah, iya deh!" sahut Adel dengan perasaan kesal. Dia harus menerima, meskipun dia merasa tak suka.
Makanan sudah datang. Namun, saat Affan ingin mulai makan. Affan mulai merasa panas di tubuhnya. Dia mulai merasa tak nyaman. Keringat mulai bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Adel tersenyum puas, dia yakin reaksi obat perang*sang itu mulai bekerja.
"Kamu kenapa, Mas? Kamu sakit? Mengapa wajah kamu menjadi pucat, dan menjadi berkeringat seperti itu?" Adel berpura-pura, bertanya kepada Affan.
"Entahlah. Saya pun gak paham. Tiba-tiba saja, tubuh saya merasa tak enak. Panas banget. Saya pulang saja deh ke hotel, mau coba beristirahat," sahut Affan.
"Kondisi seperti ini, gak mungkin bisa fokus makan," jelas Affan lagi.
Pikirannya mulai kacau, pandangannya ke Adel pun mulai berbeda. Mulai bergairah. Miliknya pun mulai mengeras.
"Sh*it! Mengapa jadi begini sih? Apa Adel yang memasukkan obat perang*sang di minuman aku?" Affan bermonolog.
Adel mencari kesempatan, dia mencoba mendekati Affan. Berniat memberikan sentuhan lembut, agar gairah Affan bertambah. Berpura-pura ingin menolongnya.
"Jangan mendekat! Menjauh dari saya! Saya pulang sekarang. Ini uang untuk membayar makanan yang saya pesan," ucap Affan.
Affan langsung menepis tangan Adel dengan kasar. Dia sadar, kondisinya saat ini sedang kacau. Dia mencoba mencegah segala hal yang akan terjadi. Sebenarnya, dia ingin sekali menuntaskan hasratnya. Namun, Affan masih sadar meskipun kondisinya seperti itu.
Affan sempoyongan, Adel langsung menangkapnya. Jarak mereka sangat dekat.
"Aku tahu, apa yang kamu inginkan saat ini? Aku akan membantu kamu. Kamu tak perlu khawatir, tak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti dengan kita. Gimana?" bisik Adel sesensual mungkin.
"Jangan gila kamu! Apa jangan-jangan ini jebakan yang kamu buat? Kamu yang memberikan obat perang*sang di minum saya? Saya tak mungkin seperti ini, jika buka kamu yang melakukan semua ini. Jangan main-main kamu sama saya! Jika sampai hal ini terjadi, saya tak akan segan-segan memasukkan kamu ke jeruji besi! Kamu pikir, saya akan tergoda dengan kamu? Kamu salah besar! Sedikitpun saya tak tergoda. Saya batalkan kerja sama kita! Saya tak ingin nantinya rumah tangga saya akan hancur, karena berhubungan dengan kamu," Affan terlihat sangat marah. Wajahnya terlihat memerah. Dia sudah tak kuat menahannya. Rasanya dia sudah ingin pingsan.
Affan langsung meninggalkan Adel. Dia merasa sangat kecewa. Ternyata kebaikannya, dibalas seperti ini. Situasi di sana menjadi ramai. Affan meminta pertolongan, dan mengatakan kalau Adel menjebaknya. Dia tak peduli, kalau nantinya kejadian ini akan viral. Mengingat Adel seorang publik figure. Sekuat tenaga Affan menahan diri. Dia terus mengingat wajah istrinya, dalam kondisi seperti saat itu. Dia berjuang demi wanita yang dia cinta.
"Dasar wanita murahan, menyesal aku mengenal kamu!" umpat Affan.
"Tolong bantu saya, tolong bawa saya ke rumah sakit! Saya butuh penawar obat lak*nat ini!" pinta Affan.
Daripada dia harus melakukan hubungan terlarang dengan Adel, ataupun menggunakan jasa wanita malam. Affan lebih memilih tersiksa, harus menahan hasratnya. Dia lebih memilih, diantarkan ke rumah sakit. Untungnya ada orang yang menolong.
Tim medis mulai melakukan pertolongan, berdasarkan informasi yang diberikan oleh orang yang menolongnya. Karena rasa sakit yang dia rasa luar biasa, karena harus menahan hasratnya yang menggebu-gebu. Affan akhirnya jatuh pingsan.
Dokter pun memberikan obat penenang, agar Affan tertidur. Jika tidak, Affan pasti akan mengalami sakit kepala yang luar biasa, karena tak tersalurkan. Sejak tadi miliknya pun sampai mengeluarkan sper*ma dengan sendirinya. Affan terpaksa harus di rawat, sampai kondisinya stabil.
"Di mana aku?" Affan baru saja membuka matanya. Reaksi obat penenang sudah selesai. Kepalanya terasa sakit.
Affan melihat sekeliling ruangan tempat dia berada, dan melihat tangannya yang sangat ini di infus. Affan merasa miliknya lengket. Membuat dirinya merasa jijik sendiri.
Perlahan dia pun bangkit, dan duduk. Dia hendak ke kamar mandi, membersihkan miliknya. Affan ingin segera pulang, karena wangi yang dikeluarkan dan rasa yang begitu lengket membuat dia merasa sangat tak nyaman.
"Breng*sek, dia menjebak aku! Untungnya, aku bisa terlepas dari dia. Jika tidak, hancur sudah rumah tanggaku dengan Jihan. Jihan pasti akan langsung meminta cerai dariku. Sepertinya, aku harus lebih hati-hati memilih klien wanita. Bisa-bisa aku kehilangan Jihan," ucap Affan. Affan tampak mengepalkan tangannya. Affan akan segera kembali ke Jakarta, dan berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan Adel.
"Suster! Saya ingin segera pulang! Apa ada yang bisa membantu saya, mengurus administrasi kepulangan? Saya sudah merasa tak nyaman," ucap Affan ketiga sang perawat datang melihatnya.
"Apa Bapak sudah merasa enak kembali?" tanya sang perawat untuk memastikan.
"Saya sudah merasa normal. Saya sudah kotor sekali, tak nyaman saya. Tolong urus kepulangan saya segera dari rumah sakit!" titah Affan.
Dokter jaga datang memeriksa kondisi Affan, untuk memastikan sebelum Affan pulang. Akhirnya, dokter menyatakan Affan boleh pulang. Affan ingin segera kembali ke Jakarta, dia sudah tak sabar bertemu istrinya. Ini adalah pengalaman berharga baginya. Affan harus menjelaskan semuanya kepada Jihan. Tak ingin sedikitpun yang ingin dia rahasiakan sama istrinya.
Affan langsung memesan tiket pesawat, untuk kembali ke Jakarta. Dia terpaksa tak bisa mewujudkan keinginan istrinya, untuk membawakan oleh-oleh. Namun, dia sudah meminta bantuan perawat di sana. Untuk membelikan oleh-oleh kue khas Bali, nantinya akan di paketkan secara express ke alamatnya.
"Terima kasih ya Sus, sudah menolong saya! Ini imbalan, karena sudah menolong saya, dan ini uang untuk membeli oleh-olehnya. Secukupnya saja!" ujar Affan kepada perawat yang menolongnya.
Affan langsung kembali ke hotel. Penampilannya saat itu terlihat acak-acakkan, dan mengeluarkan bau tak sedap pastinya. Dia baru saja sampai di hotel, dan langsung menuju kamar hotelnya untuk packing barang-barang, dan mandi membersihkan miliknya dan juga tubuhnya.
Affan sengaja tak memberi kabar tentang kepulangannya kepada sang istri. Dia ingin memberikan kejutan kepada Jihan. Kini dia sudah terlihat segar, dan siap berangkat menuju bandara.
"Semoga hal ini tak akan pernah terjadi kembali di hidupku. Aku sangat mencintai istriku. Aku mohon ya Allah, lindungi aku dari godaan setan yang terkutuk. Yang berniat menghancurkan aku! Aamin," doa yang Affan ucapkan.