
Menangis pun tak ada artinya. Melisa hanya bisa meratapi hidupnya yang tak pernah bisa merasakan kebahagiaan. Kini dia sedang merapi-rapikan barang-barang mereka, karena mereka harus pindah ke kontrakan yang lebih murah. Gaji Wildan tak cukup untuk tetap kos di tempat itu.
Wildan pun merasa pusing, bisa-bisa mobilnya di tarik leasing karena tak sanggup membayar cicilan. Sisa bulan ini saja gajinya hanya dua juga, karena selama Ibunya di rawat. Wildan sering kali kasbon ke kantor untuk biaya sehari-hari. Dia benar-benar jatuh miskin, tak ada lagi Jihan yang membantu perekonomian mereka.
Kini Wildan hanya bisa menempati rumah petakan, sangat jauh dari kata mewah. Bahkan mereka hanya tidur di kasur lantai dan memakai kipas angin. Kehidupan Wildan setelah perceraian dengan Jihan, benar-benar terpuruk. Wildan jatuh miskin.
Hal ini, berdampak juga dengan kehidupan mamanya. Terpaksa sang mama harus menjual rumahnya, dan membeli rumah yang lebih murah. Uang sisa penjualan rumah, dia gunakan untuk kehidupan sehari-hari. Dia pun kini berjualan nasi uduk, untuk bertahan hidup.
"Mas, Ibu sudah menanyakan kapan Mas mau transfer untuk biaya Mawar dan Ibu di kampung?" Tanya Melisa.
"Kamu 'kan tahu, sisa gaji aku hanya 2 juta. Selama ini aku sudah sering kasbon. Ini saja aku lagi stres, aku harus cari uang ke mana untuk menutupi kebutuhan kita sehari-hari. Mobil saja enggak ke bayar, bisa di tarik leasing. Selama ini, aku selalu pinjam sama Mama. Tapi sekarang, Mama enggak ngasih. Sisa uang penjualan rumah, sudah sisa sedikit. Sampai-sampai, Mama harus berdagang nasi uduk. Maaf, aku enggak bisa biayai anak kamu dan Ibu kamu. Ibu kamu dagang saja! Dagang nasi uduk atau apa gitu, untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Rasanya, kepala aku mau pecah," ungkap Wildan.
"Mas kok gitu sih! Lepas tanggung jawab! Dulu, Mas bilang. Mas akan membiayai Mawar dan Ibu di kampung, setelah aku menikah dengan Mas. Aku sekarang lagi hamil, mana ada yang mau mempekerjakan orang hamil," protes Melisa.
"Mas jangan bicara seperti itu! Kalau Mas meninggal, bagaimana nasib anak ini. Masa iya, dia harus jadi anak yatim sejak dia masih dalam kandungan? Kenapa Mas enggak korupsi saja dikit-dikit? Kalau enggak banyak, perusahaan juga enggak akan tahu!" Melisa memberikan ide gila kepada Wildan. Menurut dia, korupsi adalah jalan pintas untuk mendapatkan uang yang banyak.
"Ngaco kamu! Kalau aku ketahuan, tamat riwayat aku! Bisa-bisa aku masuk penjara. Hidup aku tambah hancur saja!" ucap Wildan.
"Ya apa bedanya sama bunuh diri?" ucap Melisa.
"Tau deh! Aku pusing! Ini pasti mobil di tarik, kalau aku enggak bisa dapat pinjaman. Tambah menderita saja hidupku. Mana enggak punya motor, ke kantor harus naik umum. Naik gojek pulang pergi mahal. Aku benar-benar bingung, harus bagaimana." Wildan terlihat stres.
Setelah bercerai dari Jihan, kehidupan Wildan benar-benar hancur. Berbeda halnya dengan mantan istrinya, yang kini hidup bahagia. Hubungan Jihan dengan Affan semakin dekat. Bahkan mereka sudah resmi pacaran. Setelah masa iddah selesai, mereka akan bercerai. Affan sudah menyatakan siap menerima Jihan apa adanya, termasuk jika Jihan tak bisa memberikan keturunan. Dia bisa saja mengadopsi anak. Rasa cintanya Affan kepada Jihan begitu besar, dia sudah merasa yakin kalau Jihan adalah wanita yang pas untuknya.