Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Kebaikan Jihan Kepada Mawar


Sesuai janjinya kepada sang istri, hari ini Affan akan menutup kasusnya Wildan. Agar Wildan bisa dibebaskan dari tuntutan hukum. Namun sebelumnya, Affan akan memperingatkan Wildan untuk tidak mengusik kehidupan Jihan lagi. Dia juga akan memberikan surprise kepada Wildan, tentang kehamilan Jihan. Dia akan mengatakan hal itu nanti dengan bangganya.


"Sayang, aku berangkat dulu ya! Kamu hati-hati ya, dan ingat jangan capek-capek! Nanti kamu pergi sama supir saja ya, jangan menyetir mobil sendiri! Ingat, menolong orang itu boleh! Tetapi, jangan berlebihan! Pikirkan juga diri sendiri!" ucap Affan dan Jihan mengiyakan, karena ucapan suaminya itu memang benar.


Dia pernah merasa sangat kecewa. Orang yang ditolong, justru menghancurkannya. Merebut suaminya. Tapi sekarang Jihan sudah mengikhlaskannya, justru dia sangat bersyukur. jika dia masih bersama Wildan. Dia tak akan bisa merasakan kebahagiaan hidup bersama Affan, hidup bergelimang harta tanpa harus bekerja, dan memiliki mertua sangat baik.


Bukan itu saja, seumur hidupnya dia akan di cap wanita mandul yang tak bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Saat bersama suaminya yang sekarang, Allah memudahkan dia memiliki keturunan. Menjadikan dia sebagai wanita yang sempurna, bisa merasakan hamil, menyusui, dan melahirkan. Allah begitu baik kepadanya, rencana Allah lebih indah dari rencana dirinya dulu. Allah menunjukkan apa yang terbaik untuknya, dan yang buruk untuknya.


"Makasih ya, Mas! Maaf sudah merepotkan kamu," ucap Jihan kepada sang suami, sambil mencium tangan suaminya.


"Jika bukan kamu yang meminta, mungkin aku akan membiarkan dia membusuk di penjara. Ya sudah, aku berangkat dulu ya biar cepat selesai. Soalnya, habis Zuhur aku ada pertemuan dengan klien aku. Doakan terus suami kamu ya! Agar pekerjaannya diberikan kelancaran," Affan berkata kepada sang istri. Kemudian Affan berjongkok, hendak mencium perut sang istri yang masih terlihat rata.


"Papa kerja dulu ya, Sayang! Kalian sehat-sehat ya di perut mama! Jangan menyusahkan mama ya! Papa sayang sama kalian," ucap Affan sambil mencium perut sang istri, dan mengusap perut Jihan dengan penuh kelembutan.


Jihan mengantarkan sang suami, sampai sang suami masuk ke dalam mobil. "Aku berangkat ya, Sayang! I love you. Assalamu'alaikum," ucap Affan dari dalam mobil.


"Waalaikumsalam. Hati-hati, Mas," ujar Jihan. Affan menganggukkan kepalanya.


Jihan tampak melambaikan tangannya, sampai mobil sang suami pergi meninggalkan rumah. Affan sudah pergi meninggalkan rumah. Jihan langsung menghampiri sekuritinya.


"Pak, nanti kalau ada wanita yang sedang hamil datang bersama anaknya. Suruh masuk aja ya dulu ke dalam! Saya soalnya mau siap-siap dulu! Itu Pak, yang kemarin orangnya datang ke sini," ucap Jihan kepada sang sekuriti.


"Iya Bu, saya ingat! Baik Bu, saya akan laksanakan!" sahut sang sekuriti.


Jihan masuk ke dalam rumah, dan langsung menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap. Tak lama kemudian Melisa datang bersama Mawar. Kali ini sang sekuriti bersikap baik kepada mereka, dia memperbolehkan Melisa dan Mawar masuk ke dalam. Kini Melisa dan Mawar menunggu Jihan di ruang tamu.


"Rumah Tante Jihan mewah banget ya, Ma? Kapan ya kita bisa seperti Tante Jihan? Hidupnya selalu beruntung. Tante Jihan begitu sempurna. Sudah cantik, kaya, pintar, orangnya baik juga. Meskipun mama dan Papa Wildan sudah jahat kepadanya, dia masih mau menolong aku. Dia mau menyekolahkan aku. Aku tak akan pernah lupa jasa dia kepadaku. Semoga kelak, aku bisa membalas semua kebaikan dia. Tak seperti mama yang justru membalasnya dengan seperti itu. Aku tak ingin seperti mama," Mawar berkata kepada sang mama. Melisa hanya diam, mendengar semua ucapan sang anak.


"Kamu memang selalu beruntung dari dulu. Selalu lebih unggul dariku, dan selalu meraih kebahagiaan. Tak seperti aku, yang selalu hidup menderita," ucap Melisa dalam hati.


"Kenapa sih, ibu masih bersikap baik sama wanita ib*lis ini. Mengapa membawa wanita ini lagi di kehidupannya ibu? Nanti yang ada dia menusuk lagi. Bisa-bisa dia merebut Pak Affan dari ibu. Dia itu wanita ular, licik," ucap Bi Sumi dalam hati.


"Awas ya, kalau kamu berani coba-coba mengusik kehidupan Ibu Jihan lagi! Dasar wanita tak tahu diri! Masih berani mendekati Ibu Jihan. Ibu Jihan benar-benar bodoh, masih mau menerima kamu di kehidupannya," ucap Bi Sumi ketus.


"Sia*lan ini pembantu! Berani-beraninya dia berkata seperti itu kepadaku," ucap Melisa dalam hati. Melisa memilih tak menjawab ucapan Bi Sumi.


Tak lama kemudian Jihan turun dari kamarnya, dia sudah terlihat cantik. Meskipun wajahnya terlihat sedikit pucat, karena sedang mengidam.


"Bi, kamu siap-siap ya sekarang! Antarkan Ibu! Ibu mau mencari sekolah untuk Mawar dan membeli semua kebutuhan sekolah Mawar," ucap Jihan.


Jihan bersikap waspada, sehingga dia mengajak Bi Sumi untuk menemaninya. Melisa menunjukkan wajah tak suka, karena Bi Sumi ikut dengannya. Tapi, dia tak mungkin menolaknya. Dia tak berkuasa dalam hal ini, Jihan yang berkuasa.


Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju sekolah negeri yang letaknya tak jauh dari tempat tinggal Melisa. Jihan bertanya kepada Melisa, tempat tinggalnya. Agar Melisa mudah mengantarkan Mawar, atau Mawar pergi ke sekolah sendiri.


Dari segi penampilan, tentu saja Jihan dengan Melisa sangat berbeda. Jihan wanita yang berkelas, dia memakai hijab. Harga pakaian Jihan pun pastinya jauh sangat mahal, dari pakaian dikenakan Melisa. Melisa kerap melirik ke arah Jihan, melihat penampilan Jihan yang menggunakan barang-barang branded. Mulai dari pakaian, sandal yang dikenakan Jihan, dan juga tas jinjing yang dikenakan Jihan. Ada perasaan iri dibenak Melisa. Tapi, dia harus bersyukur. Karena Jihan, sang anak bisa sekolah lagi.


"Makasih ya Tante Jihan yang cantik, akhirnya Mawar bisa bersekolah lagi. Semoga Allah membalas semua kebaikan Tante Jihan. Aamiin," ucap Mawar.


"Aamiin. Mawar sekolahnya yang pintar ya! Harus rajin belajar. Biar Mawar nantinya bisa menjadi orang sukses. Kalau Mawar sekolahnya pintar, nanti Tante Jihan akan sekolahkan Mawar sampai bangku kuliah. Agar Mawar bisa jadi sarjana," ucap Jihan.


"Serius, Tante? Tante gak bohong 'kan sama aku?" Mawar bertanya kembali, untuk meyakinkan. Dia terlihat sangat senang.


"Iya, Tante gak bohong. Ngapain juga Tante harus bohong. Tapi ingat, semua akan Tante lakukan. Kalau nilai kamu baik sampai SMA nanti. Kalau nilai kamu gak bagus, Tante gak akan mau menyekolahkan kamu sampai ke jenjang perguruan tinggi," jelas Jihan.


"Iya, Tante. Mawar janji, akan belajar sungguh-sungguh. Mawar gak mau mengecewakan Tante," ucap Mawar.