
Wildan sudah terlihat rapi. Dia berniat untuk berangkat pagi, agar bisa segera pulang. Wildan sudah berencana ingin mendatangi kosan Melisa, setelah pulang bekerja. Dia sudah berkata bohong kepada istrinya, mengatakan kalau dirinya lembur.
"Pagi ini aku enggak sempat masak buat sarapan. Jadi, tadi aku menyuruh Bi Sumi untuk membeli nasi uduk. Badan aku rasanya remuk banget, tapi nanti harus lembur. Pengennya si pulang cepat, biar bisa tidur," ucap Jihan kepada sang suami.
Mereka memutuskan untuk sarapan. Jihan menemani sang suami makan. Mereka menuruni anak tangan, bertepatan Melisa bangun dari tidurnya. Dia tampak merenggangkan tubuhnya, membuat Wildan menelan salivanya. Melihat payu*dara Melisa yang begitu menggoda, karena Melisa membusungkan dadanya.
Wildan berpura-pura cuek, dia memilih langsung ke meja makan. Sedangkan Jihan tampak mengobrol dengan sang sahabat, mengenai kepindahan Melisa nanti. Awalnya, Melisa menolak Jihan, yang hendak mengantarkan dia ke kosannya. Dengan alasan tak ingin merepotkan Jihan, tetapi Jihan tetap memaksa ingin mengantarkan Melisa ke kosannya. Membuat Melisa tak berkutik. Hingga akhirnya menerima tawaran Jihan.
"Mel, sarapan yuk bareng!" Ajak Jihan.
"Makasih, Ta! Tapi, aku belum laper. Aku nanti saja makannya. Kamu duluan saja! Temani suamimu makan," sahut Melisa.
Jihan langsung menemani sang suami sarapan. Mereka kini makan bersama. Mama Risma baru bangun tidur. Dia tak seperti orang berumur lainnya yang semakin rajin beribadah. Mama Risma justru, menjadi pemalas. Bahkan dia tak pernah sholat.
"Ma, sarapan! Bareng Ma, sini!" Ajak Jihan.
Tentu saja melihat sikap Mama Risma ke Jihan, membuat Melisa tersenyum puas. Karena dia yang menjadi pemenang dalam persaingan kali ini. Selama ini, Jihan yang selalu lebih unggul darinya. Saat ini, justru dia yang merasa menang bisa mendapatkan hati Wildan dan juga sang mama.
"Awas saja Mas Wildan! Berani-beraninya dia bermesraan sama Jihan di depan aku," umpat Melisa dalam hati. Dia merasa tak suka melihat Wildan bersikap mesra kepada Jihan, Melisa merasa cemburu. Harusnya, dia menyadari. Siapa dirinya. Dia hanyalah selingkuhan Wildan, dan Jihan adalah istri sahnya.
"Ya sudah, ya sayang! Aku berangkat dulu! I love you," ucap Wildan sambil melabuhkan kecupan di kening sang istri, dan Jihan tampak mencium tangan suaminya.
Jihan mengantarkan sang suami sampai sang suami masuk ke dalam mobil, dan pergi meninggalkan rumah. Setelah itu, Jihan masuk ke dalam menemui Melisa. Melanjutkan obrolan tadi. Mama Risma tampak memperhatikan Jihan yang saat itu dengan Melisa.
"Kamu belum tahu saja Jihan, sahabatmu itu penggoda suamimu. Kamu telah salah besar memasukkan sahabatmu ke rumah ini. Selamat datang kehancuran! Perlahan, Wildan akan meninggalkan kamu demi wanita yang kamu anggap sebagai sahabatmu. Kamu pasti akan sangat menyesal, karena telah membawa sahabatmu ke rumah ini," ucap Mama Risma dalam hati.
Jihan mengajak Melisa untuk segera bersiap-siap. Karena, setelah Jihan mengantarkan Melisa. Dia akan langsung berangkat bekerja. Malam ini dia lembur, pulang malam. Jihan masuk ke kamarnya, untuk mandi, dan bersiap-siap.
Sedangkan Melisa, justru mengambil kesempatan untuk berbincang dengan Mama Risma. Dia pamit untuk pindah ke kosan. Sebenarnya, Mama Risma merasa berat. Dia menjadi kesepian, jika sedang ingin mengobrol. Tapi, sampai saat ini dia masih merasa betah tinggal di rumah Jihan. Dia menganggap, kalau rumah itu rumah Wildan sang anak.