Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Kebaikan Jihan


"Sayang, aku berangkat dulu ya! Maaf aku harus meninggalkan kamu. Ingat ya! Hari ini kamu harus bicarakan masalah pekerjaan kamu! Jika pihak kantor tak mengizinkan, terpaksa kamu berhenti bekerja dulu ya! Nanti, setelah Anak-anak kita sudah mulai besar. Barulah kamu bekerja kembali! Aku ingin, kamu fokus dulu dengan Anak-anak," ucap Affan dan Jihan mengiyakan.


Jihan mengantarkan sang suami sampai teras depan rumahnya. Jihan mencium tangan suaminya, dan Affan mengecup kening Jihan. Mobil sang suami sudah pergi meninggalkan rumah. Ternyata, saat itu Melisa dan Mawar sudah menunggu di dekat rumah Jihan. Saat mobil Affan keluar meninggalkan rumah, Melisa dan Mawar langsung membalikkan tubuhnya. Menghindar dari Affan.


Setelah mobil Affan sudah pergi menjauh, mereka langsung mendekati rumah Jihan. Melisa meminta kepada sang penjaga, untuk bisa bertemu Jihan. Padahal waktu itu, Jihan sudah memperingatkan untuk tidak mendatangi rumahnya lagi. Dia tak mau berhubungan dengan Melisa kembali. Rasa sakitnya masih terasa. Kebaikan yang dia lakukan selama ini, justru di balas dengan pengkhianatan. Dengan teganya Melisa justru merebut Wildan darinya.


"Kamu itu tak dengar ya waktu Ibu Jihan bicara, kalau kamu tak diperbolehkan ke sini lagi sama beliau? Saya tak berani menyampaikannya. Saya takut Pak Affan akan marah kepada saya. Sebaiknya, kamu pergi dari sini! Jangan pernah ke sini lagi!" usir sang security.


"Tolong saya Pak, apa bapak gak kasihan? Saya sedang hamil besar, saya butuh pekerjaan. Anak saya ingin sekolah lagi. Semoga saja Ibu Jihan merasa kasihan kepada kami," ucap Melisa.


Saat itu Jihan keluar dari dalam rumahnya, dia hendak menyiram bunga di taman yang berada di depan rumahnya. Dia merasa jenuh, jika hanya diam saja di rumah. Padahal sang suami, sudah memperingatkan dia untuk tidak capek-capek. Baginya, itu tak capek, dan justru membuat dia merasa tak jenuh.


Kini pandangan Jihan mengarah ke security yang saat itu sedang berdiri di depan gerbang rumahnya, dan seperti sedang berbicara dengan orang lain di luar rumah. Melihat hal itu, Jihan langsung menghentikan kegiatan menyiramnya, dan berjalan mendekati sang security untuk mencari tahu siapa yang sedang berbicara dengan sang security.


Jihan terkejut, saat melihat Melisa dan Mawar 'lah yang datang. Ternyata, Melisa masih saja berani menemuinya. Akhirnya, Jihan ikut bicara ke Melisa. Jihan mengusir kembali Melisa, seperti yang dia lakukan waktu itu.


"Ta, aku mohon! Aku butuh pekerjaan, sampai Mas Wildan keluar dari penjara. Aku butuh biaya untuk bertahan hidup, dan Mawar bisa sekolah lagi. Dia terpaksa berhenti sekolah, karena aku tak mampu membiayai sekolahnya. Sebentar lagi, aku juga akan melahirkan. Aku perlu uang untuk persiapan melahirkan. Butuh uang untuk membeli perlengkapan bayi, dan biaya persalinan," ucap Melisa memohon.


Ada perasaan tak tega di benak Jihan. Sejatinya dia bukan tipe orang yang kejam, hatinya sering kali merasa iba terhadap seseorang. Hal itu yang membuat dia kerap di manfaatkan orang-orang yang berniat mengambil keuntungan darinya. Termasuk Wildan mantan suaminya. Dia selalu sabar, dan menerima berapapun yang Wildan berikan kepadanya. Jihan sering kali, merasa lemah.


Jihan memilih untuk pergi meninggalkan tempat itu, dan kembali ke dalam. Dia berusaha untuk tidak tergoda, mempekerjakan Melisa di rumahnya. Dia tak ingin memasukkan pengkhianat ke dalam rumahnya.


"Tante Jihan, Mawar mohon! Mawar ingin sekolah lagi, Mawar ingin jadi anak yang pintar. Agar Mawar bisa menjadi anak yang pintar, bisa sukses seperti Tante. Mawar berharap, Tante Jihan mau menyekolahkan aku. Aku akan berhutang budi sama Tante kalau Tante bisa menyekolahkan aku. Aku akan balas kebaikan Tante nanti, jika aku sudah dewasa, dan mendapatkan uang dari hasil aku kerja," teriak Mawar.


Hingga akhirnya, Jihan menyuruh sang security untuk membuka gerbang rumahnya, dan memperbolehkan Melisa dan Mawar masuk ke dalam rumahnya. Meskipun saat ini dia masih memendam rasa kecewa kepada Melisa.


"Tante, Mawar mohon! Mawar janji, tak akan mengecewakan Tante. Mawar akan belajar sungguh-sungguh, agar Mawar bisa menjadi anak yang pintar," ungkap Mawar memohon iba.


Dia berlutut di kaki Jihan. Melisa tampak menangis. Perasaan bersalahnya semakin besar. Gara-gara dia, harapan sang anak untuk sekolah hancur. Dia juga kehilangan sahabat yang begitu baik kepadanya, yang banyak menolongnya. Namun dia justru, merusak persahabatannya demi ambisinya menjadi orang kaya dengan cara instant.


Jihan dan Melisa saling pandang. Jihan masih terdiam. Dia mencoba berpikir, keputusan apa yang harus dia lakukan. Saat ini dia sedang hamil, dia dapat merasakan betapa beratnya menjadi Melisa hamil tanpa suami. Jihan berniat untuk bicara sama suaminya, agar sang suami mau membebaskan Wildan dari penjara. Yang dilakukan, bukan karena dia telah memaafkan kesalahan keduanya. Dia lakukan demi Mawar, dan anak dalam kandungan Melisa. Dia tak ingin kedua anak mereka menjadi korban.


"Maaf, aku tak bisa mempekerjakan kamu di rumah ini! Aku pun tak bisa menolong kamu, mengatasi masalah ekonomi kamu. Apa yang kamu lakukan dengan suaminya, sudah sangat keterlaluan. Selama ini, aku sudah sangat baik kepada kalian. Tapi, balasan yang kalian berikan begitu menyakitkan. Aku akan mencoba bicara dengan suamiku dulu, semoga dia mau membebaskan suami kamu dari tuntutan hukum. Agar dia bisa memberikan nafkah untuk kamu, dan anak kamu. Untuk Mawar, Tante Jihan akan mewujudkan keinginan kamu. Besok, kamu ke sini ya! Tante akan menyekolahkan kamu di sekolah negeri, dan Tante akan membiayai semua kebutuhan kamu untuk sekolah. Tante juga akan memberikan uang jajan untuk kamu setiap harinya. Asalkan kamu belajar sungguh-sungguh. Tunjukan prestasi kamu, agar kamu bisa menjadi anak yang membanggakan! Besok, kita sekalian beli perlengkapan kamu sekolah ya!" ucap Jihan.


Melisa dan Mawar langsung berlutut di kaki Jihan. Namun, Jihan menyuruh mereka bangkit. Dia tak butuh di sembah. Harapannya hanya satu, Jihan ingin Melisa berubah menjadi sosok yang lebih baik. Menjadikan kehidupannya sekarang, menjadi pengalaman yang begitu berharga.


"Makasih ya Ta, kamu memang wanita yang sangat baik. Hati kamu begitu luar biasa. Meskipun, aku menyakiti hati kamu. Kamu masih mau bersikap baik kepadaku. Terima kasih atas batuan kamu. Semoga Allah membalas kebaikan kamu, dan aku bisa membalas budi kepadamu," ucap Melisa di iringi isak tangis. Dia merasa sangat sedih, karena dia merasa bersalah, dan menyesal.


"Aku tak butuh itu! Kamu tak butuh membalasnya, hanya satu pintaku kepadamu! Jangan pernah ganggu kehidupan aku dengan suamiku, meskipun aku bersikap baik kepadamu! Apa yang aku lakukan ini, hanya untuk Anak-anak kamu. Bukan karena aku telah memaafkan kesalahan kalian berdua!" ucap Jihan tegas. Jihan tak akan memberikan ruang untuk Melisa masuk kembali di kehidupannya.


"Iya, aku sangat paham. Luka yang aku dan Mas Wildan goreskan di hati kamu begitu dalam. Kamu seperti ini saja, aku sudah merasa bersyukur. Hati kamu seperti seorang malaikat. Semoga kamu selalu hidup bahagia dengan suami kamu, dan kalian bisa mendapatkan momongan. Aamiin," ujar Melisa. Jihan mengaminkan ucapan Melisa. Namun, dia masih ingin menutupi kehamilannya dari Melisa. Dia tak ingin, kalau nantinya Melisa akan bersikap jahat kepadanya. Bagaimanapun, dia butuh waspada. Kondisi kehamilannya saat ini masih sangat rawan. Jihan sangat ingin menjaganya dengan baik.


"Ya sudah, aku mau melanjutkan lagi. Sebaiknya kamu sekarang pulang. Besok tolong kamu antarkan Mawar ke sini, kamu pun boleh ikut bersamaku besok. Bagaimanapun, kamu adalah ibunya Mawar. Kamu yang harus mengurus administrasinya. Kamu siapkan semuanya sekarang! Untuk biaya sekolah dan jajan Mawar sekolah, nanti aku berikan kepadamu! Tolong kamu amanah, jangan pergunakan untuk yang lain! Jika sampai kamu salahgunakan, aku tak akan lagi percaya kepada kamu! Sudah cukup dua kali aku memberikan kesempatan kepadamu. Untuk masalah suami kamu, berdoa saja semoga ada kebaikan dari suamiku. Besok, suami kamu bisa bebas. Jika suamiku mau, menghentikan tuntutan hukuman suami kamu," ucap Jihan dan Melisa mengiyakan.


Melisa dan Mawar pamit pulang. Mawar tampak mencium tangan Jihan, membuat Jihan semakin merasa tak tega kepada Mawar. Semoga, keputusan yang dia ambil tak salah. Untuk menyekolahkan Mawar, dan membiayai semua yang dibutuhkan Mawar untuk sekolah.