Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Mengapa Wajahnya Tak Seperti Kamu?


Akhirnya, Bi Sumi merasa tak tega. Dia langsung mengajak Mawar ke dapur, dan memberikan sepiring nasi lengkap dengan sayur dan ayam goreng. Dia juga memberikan Mawar air minum. Mawar makan begitu lahap, karena dia memang belum makan dari tadi. Di rumahnya, tak ada apapun. Melisa belum mendapatkan uang dari Wildan, dan tiba-tiba saja tadi perutnya mulas. Dia tak ingat belum menyediakan apapun di rumah.


Jihan baru saja bangun tidur. Perutnya sudah terasa lapar. Dia melirik ke arah sang suami yang masih tertidur nyenyak. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari cemilan ke lantai bawah. Sang ART kerap membuatkan dia puding, salad buah ataupun salad sayuran. Selama dia hamil, Affan sering kali melarang dia memasak.


"Mawar?"


Jihan terkejut saat melihat Mawar berada di dapur. Mawar yang saat itu sedang makan, langsung terhenti. Dia terlihat ketakutan. Tubuhnya gemetar, mendengar Jihan memanggilnya. Dia takut, kalau Jihan akan marah padanya. Padahal tadi, dia ingin sekali bertemu Jihan.


"Iya, Tante," sahut Mawar dengan terbata-bata.


"Sejak kapan kamu di sini? Kamu kenapa? Di mana mama kamu?" tanya Jihan sambil menengok ke kanan ke kiri mencari keberadaan Melisa. Namun, tak dia temukan.


Mawar langsung menjelaskan kepada Jihan, apa yang terjadi padanya. Jihan tak menyangka, kehidupan mantan sahabatnya dan mantan suaminya begitu menderita. Meskipun demikian, dia tak akan menolongnya. Karena semua itu sudah menjadi pilihan mereka berdua. Seharusnya, sebelum mereka melakukan itu. Harusnya, mereka berpikir panjang dulu.


"Maaf ya Tante, aku jadi merepotkan Tante. Aku lapar, gak bisa menahannya lagi. Tadi saja aku sempat pingsan, saat sampai di sini. Aku boleh gak Tante kerja di sini? Agar aku punya uang, untuk aku makan. Aku tak ingin menyusahkan mama dan Papa Wildan. Papa Wildan sepertinya, tak menyukai aku," jelas Mawar.


"Maaf ya, Tante gak bisa! Tante gak mau ada masalah di kemudian hari, karena mempekerjakan kamu. Kalau kamu ingin makan, kamu boleh makan di sini. Tanpa harus bekerja. Tante ikhlas membantu kamu, memberikan kamu makan. Sekarang, lebih baik kamu fokus sama sekolah kamu! Agar kelak kamu bisa menjadi anak yang sukses. Bisa mengangkat derajat orang tua kamu," sahut Jihan.


"Iya, Tante. Tak apa-apa. Aku mengerti. Terima kasih, sudah mau baik sama aku," ucap Mawar kepada Jihan.


Di tempat lain, Mama Risma tampak bingung. Dia sedang berbicara kepada Wildan. Mengapa wajah anak yang baru dilahirkan Melisa tak mirip dengan Wildan dan Melisa.


"Wildan juga bingung Ma, kenapa anak kami tak ada kemiripan dengan kami," sahut Wildan. Wajahnya terlihat kebingungan. Tiba-tiba saja dia teringat, akan laki-laki yang pernah menghampiri Melisa dan dia waktu itu.


"Apa benar yang dikatakan laki-laki itu dulu? Kalau anak itu adalah anaknya. Aaahhh, gak mungkin! Awas saja kau Mel, kalau kamu bohongin aku! Aku tak akan pernah memaafkan kamu," ucap Wildan.


"Ada apa, Wil? Apa anak itu bukan anak kamu?" tanya Mama Risma dengan wajah penuh tanda tanya.