Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Meminta maaf (Adelia)


Pihak polisi menghubungi Affan, untuk segera datang, dan memberitahu kalau pengacara Adel meminta penangguhan kliennya. Dia meminta agar kliennya tak dipenjara. Pihak Adel meminta jalur damai, ingin meminta maaf kepada Affan. Dia siap memberikan klarifikasi di depan publik. Ini yang terbaik, daripada dia harus mendekam di penjara. Meskipun dia harus malu.


"Cih! Enak saja, semudah itu aku bebaskan. Rasanya, belum puas aku. Jika tak membuat dia jera. Menyadari atas kesalahannya, dan berjanji tak akan mengulanginya lagi," ucap Affan dalam hati.


"Kamu mau ke mana, Mas?" tanya Jihan saat melihat sang suami yang sudah terlihat rapi.


"Ayo ikut, kalau kamu mau ikut aku! Biar aku tunjukkan sama dia, wanita yang aku cinta. Kamu juga bisa dengar langsung penjelasan dari dia, agar kamu tahu yang sebenarnya. Sekalian kita jalan-jalan, setelah dari sana. Pasti kamu jenuh, sehari-harinya di rumah terus."


Sebagai seorang istri, pastinya Jihan senang mendengarnya penuturan suaminya. Dia menyesal, telah berburuk sangka kepada sang suami.


"Mas, maafin aku ya! Aku sempat berburuk sangka kepada kamu," ungkap Jihan. Menunjukkan wajah penyesalannya.


"Iya, gak apa-apa. Itu tandanya kamu cinta sama aku. Makanya, cemburu," ucap Affan. Affan langsung memeluk tubuh sang istri dan memberikan kecupan di kening istrinya.


"Ya sudah, siap-siap ya sekarang! Kita segera ke sana, agar cepat selesai urusannya. Kita 'kan mau jalan-jalan!"


Jihan langsung bersiap-siap. Sedangkan Affan tampak menuggu sang istri, sambil memainkan ponselnya. Dia begitu sabar menunggu sang istri. Setelah sang istri selesai bersiap-siap, mereka langsung pergi meninggalkan rumah menuju kantor polisi.


"Nanti dia mau kamu apakan, Mas?" tanya Jihan kepada sang suami.


"Pengennya sih aku masukin penjara, biar dia merasa jera. Gak berani mengusik kehidupan aku lagi. Biar dia tahu juga, dia sedang berhadapan dengan siapa. Aku juga ingin meminta dia klarifikasi di depan publik, agar publik bisa mengetahui yang sebenarnya," jelas Affan.


Jihan menyerahkan semuanya kepada sang suami. Dia yakin sang suami bisa memilih yang terbaik. Mereka baru saja sampai di kantor polisi tempat Adelia berada. Pihak kepolisian terpaksa menahan Adelia sampai menunggu Affan mengiyakan, untuk mencabut gugatannya kepada Adel.


Affan dan Jihan sudah menunggu Adel di ruang tunggu. Adel di bawa menemui Jihan dan Affan dengan tangan terborgol. Awalnya, Adel sangat marah. Dia merasa tak terima, diperlakukan seperti itu.


Sejak awal datang bertemu Jihan dan Affan, Adel sudah merasa kesal dalam hati. Dia merasa cemburu, melihat Affan membawa Jihan menemui dia. Kini mereka sudah berhadapan. Adel saat itu di temani kuasa hukumnya.


"Saya, selaku kuasa hukum Adelia. Ingin meminta maaf kepada bapak dan ibu. Klien saya sudah menyadari kesalahan yang dia perbuat. Kami memohon, agar bapak mau mencabut gugatan terhadap klien saya atas kasus pencemaran nama baik," jelas kuasa hukum Adel kepada Affan.


"Yang dia lakukan sudah sangat keterlaluan. Bukan hanya ingin menjebak saya ke dalam perangkap dia. Tetapi, dia juga berniat menghancurkan rumah tangga saya dan juga kepercayaan kedua orang tua saya dan juga kedua orang tua istri saya. Saya ingin dia merasa jera, dan tak akan pernah berniat mengusik kehidupan saya. Saya ingin dia mendekam di penjara dulu. Biar dia merasakan dinginnya lantai jeruji. Agar dia sadar, dengan siapa dia berurusan!" ucap Affan tegas.


"Aku mohon Mas, tolong cabut gugatan kamu! Saya siap melakukan apapun yang Mas mau. Termasuk, klarifikasi ke publik tentang yang sebenarnya. Saya menyesal, Mas. Kalau saya sampai di penjara, karier saya bisa hancur," ucap Adel di iringi isak tangis.


"Saya tak butuh tangismu! Kamu yang memulai peperangan ini. Seharusnya, sebelum bertindak kamu pikir lebih dulu! Oh ya, satu lagi. Jangan panggil saya Mas, karena saya bukan Mas kamu! Kamu harus menanggung resiko, atas apa yang kamu perbuat!" ucap Affan tegas.