Sahabatku, Penggoda Suamiku

Sahabatku, Penggoda Suamiku
Merasa Bersalah


"Mas, nanti pulangnya jemput aku ya! Ayolah Mas, kita puas-puasin dulu sebelum Jihan pulang. Nanti kalau Jihan sudah pulang, pasti Mas sulit aku ajak pergi. Jangan nolak, kalau tidak mau aku bongkar semuanya kepada Jihan! Aku tak peduli, meskipun nantinya Jihan akan mengusir aku dari rumahnya. Lantas, bagaimana kalau kamu? Apa kamu sudah siap, jika Jihan nantinya akan meminta cerai darimu? Tak ada wanita yang mau menjalani hubungan dengan laki-laki pengkhianat, meskipun awalnya wanita lain yang menggodanya." Pesan di kirim oleh Melisa kepada Wildan. Melisa tampak tersenyum, karena dia yakin Wildan saat ini pasti sedang gelisah.


"Setelah kau masuk ke dalam perangkapku, tak semudah itu kau akan terlepasnya. Karena aku akan mengikat kamu, dalam sebuah hubungan. Aku akan membuat kamu, pada akhirnya akan menikahi aku secara siri, dan lambat laun aku akan membuat kamu menjadi milik aku sepenuhnya," ucap Melisa dengan tersenyum licik.


Mendengar ponselnya berdering. Wildan langsung mengambil ponselnya. Dia mengira, kalau pesan itu berasal dari sang istri. Ternyata dia salah, pesan itu dari Melisa.


"Brengsek! Aku harus terikat dengannya! Bodoh, kamu benar-benar bodoh Wildan! Wanita ular itu, tak akan semudah itu melepaskan kamu. Tapi, aku tak ada pilihan lain. Selain menuruti permintaannya. Karena aku tak ingin Jihan tahu permasalahan ini. Aku sangat mencintai Jihan, dan aku tak ingin kehilangan dia. Aku tak ingin nantinya Melisa akan membongkar semua ini kepada Jihan," ucap Wildan. Wildan terlihat stres, dia tampak mengusap wajahnya dengan kasar, dan mengacak-acak rambutnya.


Melisa tersenyum, kala melihat pesan chat dari Wildan yang mengatakan kalau dirinya akan menjemput Melisa pulang kerja.


"Anak pintar!" Ucap Melisa dengan senyum penuh kemenangan. Dia begitu bangga, karena akhirnya perlahan Wildan jatuh ke pelukannya. Meskipun dengan cara yang salah.


Sejak sebelum dia pergi, dia sudah memiliki sebuah firasat akan terjadi sesuatu dalam hidupnya. Namun, sampai saat ini dia belum tahu. Apa yang sebenarnya telah terjadi. Dia berpikir, mungkinkah ini semua hanya pemikiran dan perasaannya saja yang salah. Ataukah semua ini memang sebuah pertanda, kalau ada sesuatu yang terjadi di hidupnya. Tetapi, dia belum mengetahuinya.


Jantung Wildan berdegup begitu cepat, saat melihat nama sang istri di layar ponselnya menghubungi dirinya. Perasaan yang sangat berbeda, karena kini dia telah memiliki kesalahan. Hingga rasa takut dan bersalah menghantui dirinya.


Jihan tampak mengerutkan keningnya, kala melihat perubahan yang terjadi pada suaminya. Dia merasakan gelagat aneh yang terjadi pada suaminya. Selama ini, suaminya tak pernah melakukan hal ini setiap dia pergi. Pagi ini sang suami belum juga menghubungi dirinya, dan bahkan saat dirinya menghubungi dirinya, sang suami tak menjawab telepon darinya.


Wildan menjadi tak karuan, dia belum memiliki kekuatan untuk mendengar suara istrinya. Rasa bersalahnya semakin besar, karena telah mengkhianati hubungan mereka. Kini sudah hadirnya Melisa di pernikahan mereka. Wildan memutuskan untuk mengirimkan pesan chat.


"Assalamualaikum. Sayang, maaf ya. Aku belum bisa menghubungi kamu, atau menerima panggilan telepon dari kamu. Aku sedang sibuk di kantor. Tadi pagi aku juga terburu-buru berangkat ke kantor. Nanti, kalau aku sudah senggang. Aku hubungi kamu ya! I miss you. Aku mencintai kamu." Tulis Wildan. Sampai-sampai Wildan meneteskan air matanya. Dadanya terasa sesak, membayangkan hal ini. Rasa cintanya kepada sang istri begitu besar, tapi dia harus dihadapkan pada situasi seperti ini.