
"Kok, ponselnya Melisa enggak aktif ya? Apa masih tidur ya? Kerja enggak ya dia hari ini? Sudah lama juga aku enggak bertemu dia. Daripada di rumah bete, main ah ke kosannya. Sekalian main ke Mall tempat Melisa kerja." Jihan bermonolog.
Jihan memutuskan untuk main ke kosan Melisa pagi-pagi, agar dia ada waktu mengobrol dengan Melisa. Sebelum Melisa berangkat bekerja. Kini Jihan sedang bersiap-siap sebelum berangkat. Dia sudah terlihat cantik, dan siap untuk berangkat.
"Bi, ibu berangkat dulu ya! Hari ini enggak usah masak lagi. Bapak pulang sore atau malam. Paling dia makan di jalan atau di rumah ibunya. Ibu juga nanti makan di luar. Bibi beli lauk matang saja ya, atau masak makanan untuk bibi sendiri saja yang penting," ucap Jihan dan Bi Sumi mengiyakan.
Jihan langsung melajukan mobilnya menuju kosan Melisa. Sedangkan Melisa saat ini masih tidur bersama Wildan, karena mereka baru saja berhenti jam 04.00 pagi. Keduanya kini tidur masih dalam keadaan polos, dan tubuhnya hanya di tutupi selimut.
"Aku langsung saja deh ke kosannya. Melisa pasti masih masih tidur jam segini," ucap Jihan. Jihan bicara seperti itu, karena dia tahu kalau Melisa selalu bangun siang sewaktu Melisa tinggal di rumahnya. Saat itu jam menunjukkan pukul 07.30 pagi.
Jihan sudah sampai di parkiran kosan Melisa. Dia bisa sampai lebih cepat, karena jalanan saat libur sangat lancar. Jihan terkejut, saat melihat mobil suaminya terparkir di parkiran kosan Melisa.
"Kenapa mobil Mas Wildan di sini ya? Katanya, Mas Wildan mau antar ibu pulang? Kok bisa di sini ya?" Berbagai macam pertanyaan terus menari di pikirannya. Jihan mencoba menghubungi nomor telepon suaminya, sayangnya tak aktif.
"Enggak aktif ponselnya. Ya sudahlah, nanti aku coba hubungi Mas Wildan lagi. Aku langsung ke kamar Melisa saja dulu," ucap Jihan.
Perasaan Jihan tiba-tiba saja tak enak. Biar masih merasa penasaran, mengapa mobil suaminya bisa terparkir di kosan sahabatnya. Apakah hanya sebuah kebetulan saja, ataukah? Jihan berusaha untuk menepisnya. Dia yakin, ini hanya sebuah kebetulan saja. Suaminya tak mungkin selingkuh dengan sahabatnya. Melisa pun tak mungkin mengkhianati dia.
"Apa Mas Wildan selama ini selingkuh, dan selingkuhannya tinggal di sini. Aku harus selidik nanti, aku mau coba tanya sama Melisa. Mungkin saja dia tahu." Perasaan Jihan semakin tak jelas, jantungnya berpacu semakin cepat. Dia menjadi berpikir buruk kepada suaminya.
"Mungkin, inilah jawaban dari Allah atas pertanyaanku selama ini. Tentang mengapa selama ini Mas Wildan berubah padaku. Ternyata, selama ini dia selingkuh." Jihan masih ingin menyelidikinya. Hatinya terasa sakit. Tetapi dia mencoba untuk menahan air matanya untuk tidak jatuh.
Kini Jihan sudah berada di pintu kamar Melisa. Benar saja, Melisa saat ini masih tidur. AC nya masih hidup. Jihan mencoba mengetuk pintu kamar Melisa, agar Melisa segera bangun, dan membuka pintu kamarnya.
Mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Dengan mata masih mengantuk, dia terbangun. Saat itu Wildan masih tertidur nyenyak. Setelah merasa puas setelah bercinta dengan Melisa. Melisa langsung memakai pakaian dengan asal, tak peduli kalau dia memakai terbalik.
Melisa langsung berjalan ke arah pintu, dan segera membuka pintu kamarnya. Mata Melisa membulat sempurna, saat melihat Jihan berada di hadapannya. Melisa begitu terkejut, sampai-sampai dia tak mampu bicara. Lidahnya terasa kelu.
Sama halnya dengan Melisa, Jihan pun merasa terkejut. Saat dia melirik ke dalam, dan melihat sang suami yang sedang tertidur nyenyak. Jihan langsung mendorong tubuh Melisa dengan kasar. Hatinya begitu sakit, karena dikhianati dua orang sekaligus. Orang yang selama ini dia percaya.
Jihan langsung membuka selimut yang menutupi tubuh suaminya, dan dia melihat tubuh suaminya yang tanpa sehelai benang pun. Amarah Jihan memuncak.
"Bangun!" bentak Jihan. Hingga akhirnya, Wildan pun membuka matanya. Alangkah terkejutnya dia, saat melihat istrinya berada di hadapannya. Dia pun langsung bangkit duduk, dan saat itu tubuhnya hanya di tutupi selimut.
"Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku, mas? Pantas saja, akhir-akhir ini aku merasa kamu berbeda. Ternyata, kamu selingkuh dariku, dan teganya kamu berselingkuh dengan sahabatku sendiri. Dasar pengkhianat kalian berdua! Bisa-bisanya kalian mengkhianati kepercayaan aku selama ini kepada kalian. Kalian begitu menjijikan."
"Kamu juga Mel! Aku benar-benar enggak menyangka, kamu begitu tega merebut suami sahabatmu sendiri. Aku minta sama kamu! Balikin semua uang aku, yang kamu pinjam! Aku enggak sudi, meminjamkan uangku kepadamu. Aku benar-benar kecewa sama kamu, Mel. Ternyata, kamu seorang wanita murahan yang menggoda suami sahabatnya sendiri," ucap Jihan sinis.
Wildan langsung berlutut di kaki Jihan. Meminta maaf, dan memohon agar Jihan tak menggugat cerai dia. Dia enggak mau kehilangan Jihan. Tapi, semuanya sudah terlambat. Jihan sudah sangat marah. Dia sudah sangat kecewa.
"Mas mohon, maafkan mas! Iya, mas salah sama kamu! Mas sudah mengkhianati cinta kamu! Mas terpaksa seperti ini, untuk menutupi kesalahan mas di awal. Saat Melisa menggoda mas, dan akhirnya mas sekarang justru terperangkap. Melisa hamil anak mas, dan kemarin mas menikahi dia secara siri. Tapi, sampai kapanpun. Rasa cinta mas kepada kamu, enggak akan pernah berubah. Mas janji, enggak akan menyakiti hati kamu lagi! Meskipun mas sudah menikah dengan Melisa, kamu tetap istri pertama mas. Setelah anak ini lahir, mas akan menceraikan Melisa," ucap Wildan membuat mata Melisa membulat sempurna. Dia tak menyangka, Wildan akan berbicara seperti itu.
"Aku tak butuh sandiwara kamu, mas! Lebih baik sekarang mas bangkit berdiri! Aku tahu, mas seperti ini karena mas takut kan aku ceraikan? Tapi sayangnya, tak akan mengubah keputusan aku untuk bercerai dari mas! Mungkin ini yang terbaik untuk aku. Aku bersyukur, karena akhirnya Allah menunjukkan padaku kebusukan kalian berdua. Aku tak sudi di madu, meskipun dengan sahabatku sendiri, dan aku tak akan pernah mau menerima anak dari hasil perselingkuhan suamiku. Aku akan urus perceraian kita! Urusan kita sudah selesai! Tolong sekarang kamu transfer uangku yang istrimu pinjam selama ini! Aku ingin meminta hakku!"
Jihan terlihat untuk kuat, tak ada satu tetes pun yang menetes dari matanya. Dia tak ingin terlihat lemah, meskipun hatinya begitu hancur, dan sakit. Apa yang dilakukan suaminya begitu fatal. Bukan hanya selingkuh saja. Mereka sudah menikah secara siri dan menghasilkan seorang anak dari perselingkuhan mereka.
"Cepat mas, mau apalagi? Cepat transfer! Waktuku tak banyak! Aku pun harus merapikan semua barang-barang kamu dan ibumu? Wah, kesampaian dong ibumu untuk memiliki cucu, dan kamu menikah dengan Melisa," sindir Jihan.