
Sesampainya di kamar hotel, Affan langsung menghubungi sang istri. Mereka melakukan panggilan video, agar dia bisa melihat wajah istrinya.
"Kalau kamu ada di sini, enak Mas ada yang menemani. Gak kesepian seperti ini," ungkap Affan kepada sang istri.
Meskipun sedang berada di Bali, Affan tak terpikir untuk jalan-jalan. Dia justru memilih bermalas-malasan di hotel, sambil melakukan panggilan video dengan istrinya. Besoknya, dia akan mulai mengurusnya. Setelah urusannya selesai, dia akan langsung pulang ke Jakarta. Tujuan dia ke Bali memang bukan semata-mata ingin berlibur. Dia mendatangi pulau dewata Bali, hanya urusan pekerjaan.
"Yang, udah dulu ya! Klien aku, menghubungi Mas. Mas angkat telepon dari dia dulu ya," ucap Affan dan Jihan mengiyakan. Affan langsung mengakhiri panggilan telepon dengan Jihan. Kemudian menerima panggilan telepon dari Adelia.
"Assalamualaikum. Ya, Mbak. Ada apa ya? Maaf ya, saya lama angkat teleponnya. Soalnya tadi lagi telepon istri saya," Affan berkata kepada Adelia.
Jika mereka saat ini melakukan panggilan video, Affan pasti bisa melihat gimana wajah Adelia. Dia terlihat kesal, mendengar Affan menyebut nama istri. Sebenarnya, dia sudah cukup lama tergila-gila dengan Affan. Sampai akhirnya, takdir mempertemukan pengacara yang pernah menangani kasus sepupunya di Kalimantan.
"Waalaikumsalam. It's Ok. Tak masalah. Mas Affan jangan panggil aku Mbak dong. Panggil saja Adel. Kalau dipanggil Mbak, aku serasa tua banget," sahut Adelia dengan manja.
"Oh gitu ya, Mba? Del, maksud saya. Sebenarnya, saya rada sungkan memanggil nama Adel. Bagaimanapun, kamu 'kan klien saya. Meskipun usia kamu masih di bawah saya," jelas Affan.
"Sama aku santai saja, Mas. Gak perlu sungkan-sungkan. Oh iya, ngomong-ngomong. Malam ini Mas ada acara gak? Kita makan di luar yuk, sekalian temani aku jalan-jalan. Mau gak, Mas?" rayu Adel.
"Gimana ya? Kalau sekadar makan sih, gak masalah. Sekalian saya makan juga. Tapi, kalau jalan-jalan. Maaf, saya gak bisa. Saya khawatir, jadi salah paham. Apalagi, Adel 'kan lagi proses perceraian. Nanti yang ada, pihak suami Adel menduga kalau Adel selingkuh. Bisa saja menuduh saya sengaja membantu perceraian Adel sama suaminya, karena saya menginginkan Adel. Adel juga 'kan seorang artis, pasti nanti akan menjadi sorotan. Kalau kedekatan kita, mencuat ke media gimana? Saya juga sangat menjaga perasaan istri saya. Bisa saja nanti dia salah paham. Meskipun sebenarnya, kedekatan kita hanya sekadar klien dengan pengacaranya. Bukan pasangan kekasih yang sedang berlibur di Bali. Maaf ya Mbak, untuk itu saya gak bisa. Ini demi kebaikan kita berdua. Saya juga sedang malas kemana-mana. Lebih memilih beristirahat di kamar hotel, sambil menghubungi istri saya," Jelas Affan panjang lebar.
Namun, Adel tetap saja tak mengerti. Justru hal ini yang dia inginkan, yaitu menghancurkan rumah tangga Affan. Bukan sekali dua kali dia seperti ini. Dia kerap menjadi pelakor, merebut laki-laki yang sudah beristri.
"Ayolah Mas, kali ini aja! Besok 'kan Mas nya pulang kembali ke Jakarta. Lagian, kita memang mau ngapain. Hanya sekadar jalan-jalan dan makan. Daripada di kamar terus. Mumpung lagi di Bali, 'kan jarang-jarang juga," Adel masih saja terus merayu.
"Baiklah, tapi tidak lama. Sekalian saya ingin membelikan istri saya oleh-oleh Bali. Dia sangat suka kue khas Bali. Setelah sholat magrib, kita bertemu restoran Jimbaran Bali," Affan akhirnya menyetujui pertemuan mereka. Dia teringat, kalau istrinya memesan oleh-oleh kue khas di Bali.
Setelah sholat magrib, Affan langsung bersiap-siap untuk bertemu Adel. Dia terlihat tampan, penampilan sangat berbeda. Dia memakai pakaian casual. Memakai celana jeans panjang dan kaos berkerah, dan memakai sandal. Namun, sebelum pergi. Dia hendak menghubungi istrinya dulu. Menanyakan, apa yang di inginkan istrinya. Sekalian dia ingin memberitahu, kalau dia mau makan malam dengan kliennya.
"Iya. Tapi, kamu jangan khawatir! Hanya sekadar makan malam saja, tak lebih. Setelah makan, aku langsung membelikan pesanan kamu. Sudah ya jangan berpikir macam-macam! Aku cinta sama kamu, gak terpikir sedikitpun untuk menyakiti hati kamu. Ya udah, aku jalan sekarang ya. Biar tak terlalu malam. Jadi, aku bisa segera kembali ke hotel," jelas Affan dan akhirnya Jihan mengerti.
"Tunggu ya, Del! Saya baru mau keluar dari hotel," balas Affan.
Ternyata, Adel sudah sampai lebih dulu di sana. Dia sudah menunggu Affan datang. Dengan liciknya, dia memasukkan obat pera*ngsang di minuman yang sudah dia pesan untuk Affan. Tak lama kemudian, Affan datang.
"Maaf ya, telat!" ucap Affan.
"Justru, itu bagus. Jadi, ada kesempatan untuk aku memasukkan obat perang*sang ke minuman kamu," ucap Adel dalam hati. Tentu saja dia tak akan bilang.
"Iya, gak apa-apa. Kebetulan, letak hotel aku dekat sini. Tadi juga sekalian bareng teman aku, dia mau ke club sama kekasihnya. Pulang dari sini, kita ke club yuk! Aku yang bayar deh," ucap Adel. Affan mulai tak merasa nyaman. Terlebih pakaian Adel semakin malam, semakin seksi. Sampai-sampai Affan tak berani menatap, dia lebih memilih menunduk, atau membuang muka.
"Maaf, Saya gak bisa Del! Saya gak bisa menemani kamu. Setelah makan, saya ingin langsung membeli oleh-oleh untuk istri saya. Kita langsung pesan saja ya! Takut keburu malam soalnya. Saya juga ingin segera kembali ke hotel," jelas Affan.
"Aku ingin lihat setelah ini. Apa kamu masih akan menolak aku," ucap Adel dalam hati. Dia tersenyum licik.
"Ini minuman kamu, tadi sekalian aku pesan. Ya udah, kita pesan makanan sekarang," Adel berkata kepada Affan.
Tanpa rasa curiga, Affan langsung meminum minuman yang Adel pesan. Adel bersorak dalam hati. Dia yakin, rencananya akan berhasil. Malam ini mereka akan melewati malam panjang bersama.
"Kita pesan makanannya yang bisa untuk berdua aja. Gimana? Aku takut gak habis soalnya. Tapi, ingin macam-macam," ujar Adel.
"Maaf Del, kayanya gak enak deh kalau seperti itu. Takut orang yang melihat menjadi salah paham. Lebih baik, kamu pesan sekuatnya kamu saja! Kita pesan makanan masing-masing saja. Kita bukan pasangan suami istri, tak baik seperti itu. Makan berduaan begini saja, sebenarnya tak boleh. Makanya, tadi saya izin dulu ke istri. Tak ingin dia salah paham. Saya benar-benar ingin menjaga perasaan dia banget. Apalagi, sekarang dia sedang hamil. Perasaannya pasti sensitif banget," jawab Affan.
"Selalu saja menolak. Apa aku kurang menarik dan seksi? Sehingga kamu tak tergoda sedikitpun kepadaku?"