Pernikahan Siri Seorang Dokter

Pernikahan Siri Seorang Dokter
part 77. Surprise For My Wife


Seperti biasa Husna selalu di sibukkan oleh suaminya itu, pagi ini ada-ada saja yang harus di cari saat semuanya sudah kepepet, masa Mahesa tidak tau dimana letak kunci mobil yang semalam ia bawa kini tidak tau dimana ia letakkan.


Padahal pagi ini ia harus ke rumah sakit untuk mengoperasi pasien nya.


Husna sampai geram dengan suaminya itu, kalau seperti ini terus yang ada Mahesa akan terlambat.


"Dimana sih kamu taruh kunci mobil kamu?" sela Husna saat ia membongkar sprei kasur nya itu, semuanya sudah berserakan di lantai karena Husna mencari nya di kasur ini, siapa tau kunci mobil itu terselip di antara kasur nya itu.


"Tidak tau sayang, kamu tolong cariin ya!" ujar Mahesa.


Mahesa tidak membantu Husna mencari kunci mobil nya itu, malahan dia hanya diam memperhatikan Husna.


"Aakh... mas Mahesa gimana sih, kenapa tidak bantuin cari juga, kamu malah berdiri bagaikan patung aja, gimana caranya ketemu coba!" protes Husna


"Kamu aja yang cari, kalau aku ikut cari nanti malah nyusahin kamu aja!" sanggah Mahesa


"Ya Allah.... mas Mahesa... dari tadi kamu sudah nyusahin aku, sekarang siapa yang harus merapikan tempat tidur ini!" tutur Husna sambil menunjuk kasur yang sudah berantakan.


Mahesa mengangkat kedua bahunya, ingin sekali Husna mencubit ginjal suaminya itu.


"Dimana kamu taruh mas?" tanya Husna


"Tidak tau sayang, kalau tau mana mungkin aku minta tolong cariin!" jawab Mahesa


Untung saja pagi ini kedua anak mereka belum bangun, kalau sudah bangun yang ada Husna tambah repot.


"Bawa mobil yang lain aja deh!" sambung Mahesa


Husna melebarkan matanya ingin memakan suaminya itu hidup-hidup, kalau tau dia mau bawa mobil lain, tak akan mau Husna mencari kunci mobil nya itu.


"Masya Allah... tabarakallah mas... aku mau pingsan aja deh!" rengek Husna menjatuhkan tubuhnya di atas kasur itu.


"Maaf!" ucap Mahesa tanpa dosa


"Lebih baik kamu pergi kerja aja mas, dari pada bikin aku pusing aja!" saran Husna mengusir Mahesa secara lembut dan halus


"Kamu ngusir suami kamu?" ujar Mahesa


"Tidak, iya!" jawab Husna sambil tersenyum


"Belanja bulanan di potong!" ancam Mahesa


"Lho kok gitu? anak-anak kita keperluan nya banyak mas!" protes Husna


"Bilang i love you dulu baru aku tarik ancaman ku tadi!" seru Mahesa


"Ana uhibbuka fillah!" tutur Husna sambil mengambil tangan Mahesa untuk ia salami sebelum Mahesa berangkat kerja.


"Ahabbaka Lladzii Ahbabtanii!" balas Mahesa


"Ancaman di tarik!" lanjut Mahesa, mendapat anggukan dari Husna


Husna mengantarkan suaminya itu sampai keluar rumah.


"Aku berangkat dulu, kalau terjadi sesuatu pada kamu ataupun anak-anak kita jangan lupa hubungi aku!"


Husna mengangguk, "nanti jadwalnya Aksa untuk di imunisasi mas!" beritahu Husna


"Ya, nanti aku akan mendaftarkan Aksa ke dokter anak, kamu nanti ke rumah sakit di antar mang Udin ya, jangan lupa bik Yatri juga ikut bersama kamu!" ujar Mahesa


"Iya mas!"


Lalu Husna mencium punggung tangan Mahesa itu, dan Mahesa akhirnya berangkat ke rumah sakit.


Hari-hari Husna selalu di kelilingi oleh orang baik.


...


Siang harinya Husna sudah sampai di rumah sakit dimana suaminya itu bekerja, mereka sudah masuk ke ruang dokter anak itu, Mahesa juga ada di sana.


"Mirip sama dokter Mahesa ya, lucu lagi!" tutur dokter Adriani


"Ya pastilah, bapaknya kan tampan!" seloroh Mahesa


"Iya deh iya!"


Aksa di berikan imunisasi pertama nya, bayi itu merengek saat jarum suntik menembus kulit nya itu.


"Anak ayah sama bunda kan pintar, jadi jangan nangis ya, ssst....!" Mahesa menenangkan bayi nya itu.


Ansel dari tadi duduk anteng di kuris yang ada di ruangan itu, ia sedang meminum susu dari dot nya itu, bocah itu tau saja jika bunda nya lagi repot mengurus adik nya, jadinya ia duduk anteng bersama bik Yatri itu.


"Dek yi angis bik!" sela Ansel dengan suara cadel nya itu.


"Iya adek nya nangis!"


Selesai mereka memeriksa kesehatan anak-anak mereka itu, kini Mahesa mengantar anak dan istrinya itu ke parkiran mobil.


...


Hari-hari terus saja berlanjut, tak terasa sudah banyak hal yang ia lalui saat Mahesa mengakui dirinya di depan umum, Husna jadi lebih sering tersenyum dan ia lebih bahagia dari hari-hari biasa nya. Ya walaupun dia kadang merasa jengkel juga dengan Mahesa yang selalu mengerjai dirinya itu.


Contohnya pada saat ini Mahesa habis-habisan mengerjai istri nya itu, karena hari ini hari ulang tahun Husna, ia mengerjai Husna. Mahesa pura-pura pingsan untuk memberikan sebuah kejutan kepada Husna.


"Hiks... mas bangun jangan begini, hiks... mas...!" pekik Husna sambil menangis menguncang tubuh Mahesa itu.


Semua art rumah ini sudah berkumpul melihat keadaan tuan mereka itu.


"Mas Mahesa.... jangan gini mas hiks... jangan tinggalin aku sama anak-anak hiks... mas bangun hiks...!" tangis Husna


Karena Mahesa kasihan dengan suara tangisan istrinya itu, ada baiknya ia mengakhiri sandiwara nya itu.


"Surprise for my wife!" kejut Mahesa membuka sebuah kotak cincin di hadapan Husna yang sedang menangis itu, Mahesa mengusap air mata Husna itu.


"Maaf sudah membuat kamu menangis!" lirih Mahesa tidak segan-segan mengecup pipi Husna di hadapan para art nya itu.


Gara-gara Mahesa pura-pura pingsan itu Husna jadi nangis histeris oleh nya, ia pikir Mahesa benar-benar pingsan dan ia berpikir kalau Mahesa memiliki penyakit yang serius, jadinya Husna menangis saat Mahesa pura-pura pingsan itu.


"Hiks... jahat banget sih ngerjain orang segitu nya hiks...!" tutur Husna sambil memukul tangan Mahesa tangis nya pun sudah hampir reda.


"Aku pikir kamu kenapa hiks... jahat banget sih mas, hiks... kamu pikir dengan cara pura-pura pingsan itu bikin aku bahagia? enggak mas, malahan bikin aku sport jantung!" tutur Husna melayangkan protes kepada Mahesa


Mahesa hanya tertawa kecil tanpa dosa saja, iya tindakan nya itu memang salah, apa salahnya ia memberi suprise yang romantis kepada Husna, tidak seperti ini, bikin semua orang panik.


"Owalah... tuan bisa aja ya bikin kita-kita ini jantungan!" ujar bik Yatri


"Iya, tuan bikin kita jantungan aja!" timpal Romlah


"Syukurlah kalau tuan tidak kenapa-napa!" ucap Siti


"Aduh... saya pikir tadi itu benaran!" ujar mang Udin


"Lain kali jangan begitu lagi tuan!" saran bik Yatri


Mahesa nyengir kuda sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, gara-gara aksinya itu membuat semua orang geger termasuk amor dan Radyta yang akan datang sebentar lagi.


Sempat-sempatnya bik Yatri menelepon tuan besar nya itu mengabari kalau Mahesa jatuh pingsan tanpa tau akibat nya.


"Maaf tuan, mungkin sebentar lagi akan ada ribut-ribut lagi, tapi ributnya kali ini akan tambah besar!" beritahu bik Yatri


Mahesa dan Husna mengerutkan keningnya.


"Saya sempat menelepon tuan besar kalau tuan jatuh pingsan!" sambung bik Yatri dengan tertawa kecil


Keduanya sama-sama menepuk jidat mereka, tidak bisa di bayangkan entah apa yang akan terjadi sebentar lagi.


"Gara-gara kamu mas!" salah Husna


"Kenapa jadi aku? kan kamu ulang tahun!" sergah Mahesa


"Kan kamu yang bikin sandiwara gini!" sela Husna membantu Mahesa untuk berdiri


"Tapi kan aku cuma pura-pura!" kilah Mahesa


"Mana Husna tau, mas sendiri yang bikin semua geger!"


Semua orang bubar dari ruang tengah itu, termasuk Husna yang juga ikut pergi meninggalkan Mahesa.


"My wife are you mad?"


"Yes I'm angry!"


"Sorry my wife!"


"No apologies!"


Husna benar-benar marah dengan sandiwara Mahesa itu, sebentar lagi pasti mertua nya itu akan protes kepada suaminya.


"Take care of yourself my husband!"


...


Bersambung...


Maaf baru bisa update sekarang, author sebenarnya sedikit malas untuk up karena semakin hari semakin sedikit aja yang mau baca, mungkin cerita ini kurang menarik lagi bagi kalian!.


Mungkin kalian mau mampir di cerita baru author yg berjudul (ibu mertua, aku tidak mandul)


Silahkan mampir ya bagi yang penasaran sama cerita baru author ituπŸ˜€πŸ™