
Husna terisak saat ucapan Mahesa itu menyakitkan hatinya, bahkan Mahesa tidak pernah memikirkan perasaan Husna yang baru melahirkan tapi Mahesa sudah membahas tentang perjanjian yang ia buat itu.
Benar-benar tidak punya hati! itulah yang Husna juluki suaminya itu, saat ini Mahesa tidak di kamar rawat Husna itu, setelah berbicara tentang perjanjian tadi ia langsung pergi ke tempat anaknya.
"Hiks... kamu jahat sekali dengan aku mas, aku pikir kamu sudah berubah ternyata kamu masih sama seperti dahulu, hiks... aku menyesal telah percaya dengan kamu mas hiks... kamu jahat pada ku hiks...!"
Gimana tidak kejamnya Mahesa, dia bertindak seolah-olah Husna sudah baik-baik saja, sejelas itu jika istrinya baru melahirkan belum genap satu hari Husna melahirkan tapi ia sudah berencana membawa anak itu pergi, makhluk macam apa dia itu?
Tidak memiliki perasaan dan tidak memiliki hati sekali dia!
Mahesa saat ini sedang di ruangan NICU itu, ia kini sedang menggendong putranya itu, dari tadi ia tak mempedulikan Husna yang ia pedulikan hanya bayi nya ini.
"Ikut sama ayah ya, kita akan pergi dari sini!"
Perawat masuk ke dalam ruangan NICU ini ingin membawa bayi Mahesa itu untuk di susui oleh ibunya karena jam segini untuk anak itu menyusu pada ibu nya.
"Permisi pak!"
"Bayinya saat ini harus di kembalikan kepada ibunya, karena sekarang waktunya bayi itu menyusu pada ibunya!" beri tahu perawat muda itu.
Mahesa mengangguk, "apa boleh saya gendong biar saya sendiri yang membawa bayi ini pada istri saya!" ujar Mahesa
Perawat itu tersenyum seraya mengangguk, "tidak masalah pak, memang harusnya begitu kok, suami istri itu harus saling membantu dalam merawat anak!" ujar perawat itu ramah.
Mahesa membawa bayi nya ke tempat Husna, di sepanjang perjalanan menuju kamar rawat Husna itu, Mahesa selalu mencium anaknya itu.
"Putra ayah sangat tampan ya!"
Sampailah Mahesa di depan pintu kamar rawat itu, ia membuka pintu kamar rawat itu seketika ia melihat Husna yang sedang menangis.
"Hekhem!" Mahesa berdehem untuk mengalihkan atensi Husna.
Husna melihat ke arah pintu ia cepat-cepat mengusap air matanya itu, "eh, anak bunda!" ujar Husna saat ia melihat Mahesa membawa bayinya itu ke sini.
Mahesa mendekati Husna lalu memberikan bayi itu pada Husna, "Dia harus menyusu pada ibunya!" ujar Mahesa dengan nada datar.
Husna membawa bayinya itu ke gendong nya, ia sangat senang bisa memeluk bayinya itu.
"Anak bunda haus ya!" ujar Husna seraya mengecup putra nya itu.
Mahesa duduk di kursi samping brankar Husna itu, ia melihat Husna yang belum juga menyusui anaknya itu, "kamu tidak mau menyusui nya?" tanya Mahesa.
Bukanya Husna tidak mau menyusui anaknya ini, hanya saja Mahesa masih ada di sini mana mungkin Husna mau menyusui anaknya di depan Mahesa.
"Kamu mau saya keluar dulu?" ujar Mahesa sudah tau maksud dan tujuan Husna itu.
Husna mengangguk kecil seraya tersenyum tipis, wajahnya sudah merona karena Mahesa yang kelihatan nya ingin menemaninya di sini saja.
"Tapi kali ini saya tidak akan mau menuruti kemauan mu!" ujar Mahesa karena ia juga pengen melihat anaknya itu menyusu pada ibunya itu.
"Tapi mas--! ucapan Husna langsung di potong oleh Mahesa.
"Saya ayah dari bayi itu!" ujar Mahesa
Mau tidak mau Husna menyusui bayinya itu di depan Mahesa, ia sangat malu sekali saat Mahesa berada di dekat nya, padahal Mahesa tidak melakukan apapun itu.
"Menurut kamu nama apa yang cocok buat anak saya?" tanya Mahesa
"Anak kita!" ralat Husna lebih tepatnya
"Iya, siapa namanya?" ujar Mahesa seraya memangku tangannya ke dada.
"Terserah kamu mas!" ujar Husna sepenuhnya memberikan izin kepada Mahesa agar dia saja yang memberi nama.
"Kamu saja!" ujar Mahesa keputusan nya tidak bisa di ganggu gugat alias final
Husna nampak berpikir sejenak untuk memikirkan nama apa yang cocok untuk putra pertama nya itu.
"Ansel putra Radyta!" ujar Husna
Mahesa mengangguk setuju, "Ansel nama yang bagus juga!" ujar Mahesa
"Mas, aku boleh minta tolong nggak!" ujar Husna
"Apa?"
"Boleh beliin aku makanan tidak, aku merasa lapar!" ujar Husna
Husna sengaja menyuruh Mahesa untuk membeli makanan, karena Husna malu jika Mahesa terus di dekat nya, apa lagi Mahesa sambil tersenyum melihat putra nya itu.
Ngeri bukan?
"Lapar?" ujar Mahesa
"Bukankah kamu baru selesai makan?" tanya Mahesa dengan menaikkan sebelah alisnya
"Ibu menyusui memang seperti itu tuan!" jawab bik Yatri yang baru masuk ke kamar rawat Husna ini.
Mahesa mengangguk lalu ia pergi keluar untuk membelikan makanan untuk Husna, yang menjaga Husna yaitu bik Yatri.
"Wah... dedek bayinya sangat lucu! ujar bik Yatri
"Makasih... bik Yatri...!" ujar Husna menirukan suara anak kecil.
Bik Yatri tersenyum bahagia melihat kebahagiaan nyonya nya ini, apa lagi bik Yatri melihat tuan nya itu sangat perhatian sama nyonya nya ini, nampak bik Yatri begitu tapi tidak dengan seperti itu, malahan mereka berdua saling bertengkar tadinya.
"Seperti nya tuan sudah mulai menerima nyonya ya, buktinya saja tuan mau menuruti keinginan nyonya, ah, bibik merasa senang! ujar bik Yatri
Husna tersenyum kecil dengan ucapan bik Yatri itu, andai saja bik Yatri tau kebenaran nya mungkin bik Yatri akan merasakan pedih yang dirasakan oleh Husna, di pisahkan dari anak yang kita lahirkan bagaimana tidak sakit rasanya.
"Maaf nyonya, bibik banyak bicara!" ujar bik Yatri tersenyum kikuk, karena bik Yatri tidak melihat raut kesenangan dari wajah nyonya nya itu.
"Aduh... apa bibik salah bicara ya?, seperti nya nyonya lagi bersedih tapi karena apa? batin bik Yatri
"Tidak masalah bik!" jawab Husna
...
Malam harinya bayi mereka itu di pindahkan di ruang rawat Husna karena keadaan bayi mereka sudah semakin sehat saja, bayi mereka itu sedang tidur nyenyak di dalam box bayi, sementara itu Mahesa sedang duduk di samping Husna.
"Tidur lah!" ujar Mahesa kepada Husna karena Husna menolak untuk tidur, ia sangat takut jika Mahesa membawa pergi anak itu tanpa sepengetahuan nya.
"Aku tidak ngantuk!" dusta Husna sedangkan matanya sudah merah menahan kantuk.
"Tidur saja, saya tidak akan membawa anak itu sekarang, kamu tidak perlu takut!" ujar Mahesa, ia tau isi pikiran Husna itu
Husna tidak percaya dengan ucapan suaminya itu, buktinya saja ia sering kena tipu muslihat dari suaminya itu.
"Tidur saja, kamu tidak usah takut!" ujar Mahesa sekali lagi.
"Aku tidak percaya dengan kamu!" ujar Husna sudah mulai berani melawan ucapan Mahesa, Husna berjanji pada dirinya jika ia tidak akan pernah mau lagi di injak oleh orang, walaupun itu suaminya sendiri.
"Keras kepala sekali kamu!" ujar Mahesa sudah mulai emosi.
"Ini kan gara-gara kamu!" ujar Husna sangat berani melawan ucapan Mahesa itu.
"Oh, mulai berani sama saya!" ujar Mahesa mendekatkan wajahnya pada wajah Husna, otomatis Husna menjauhkan wajahnya dari Mahesa.
"Berani kamu melawan saya, kamu akan rasakan akibatnya!" ancam Mahesa berbicara tepat di telinga Husna, seketika jantung Husna berdetak kencang.
...
Bersambung...
**Komentar, like, berserta vote nya ya!!!
Jangan jadi pembaca gelap saja.
jangan lupa mampir di cerita baru author yang tak kalah menariknya dari cerita ini, dengan judul (istri bercadar tak dianggap) mampir ya readers**.