
Husna lagi di dapur bersama art yang lain, sementara itu ansel bersama dengan neneknya, amor baru saja datang setelah Mahesa berangkat ke rumah sakit tadi, Husna sedang membantu bik yatri yang sedang memasak. Romlah dan Siti juga ada di sana mereka sedang melakukan tugas mereka masing-masing.
"Lihatlah pengasuh tuan muda itu, ia kenapa begitu dekat dengan bik yatri ya?" tutur Romlah kepada Siti
"Mana saya tau, mungkin saja dia lagi mengambil hati bik yatri!" ujar Siti
Mereka berdua pasti suka begitu sangat kepo dengan urusan orang lain, tidak pernah bosan kepo dengan kehidupan orang lain.
"Nyonya istirahat saja!" lirih bik yatri
"bik, panggil nama Uus saja, jangan panggil nyonya nanti mereka bisa dengar gimana, Uus tidak mungkin istirahat bik yang ada mereka pada curiga sama Uus!" tutur Husna
Bik yatri langsung menutup mulutnya seraya nyengir, "maaf, nyo-- eh Husna lupa" tutur bik yatri
...
Amor turun dari lantai dua itu seraya menggendong ansel, amor pergi ke dapur untuk mencari Husna, Husna mendengar suara tangis putra nya itu, Husna menoleh kebelakang ternyata amor sedang menggendong putranya itu.
"Owek... owek... owek..."
"Owek... owek... owek..."
Tangis putranya itu semakin kencang, amor tidak bisa menenangkan cucunya itu
"Sudah ya cucu nenek jangan nangis lagi"
Husna langsung mengejar ke arah nyonya besar nya itu, "kenapa dengan tuan kecil, nyonya?" tanya Husna
"Saya juga tidak tau dia kenapa, mungkin dia haus, kamu susui saja dulu!" tutur amor, Husna mengambil putranya itu dari gendongan amor itu. Tiba di gendongan Husna itu putranya itu langsung reda tangisannya.
Amor menyipitkan matanya karena ia heran dengan cucunya itu, tiba di gendongan Husna itu tangis bayi itu langsung reda, amor sedikit menaruh curiga dengan pengasuh cucunya itu.
"Kenapa Ansel tangisnya langsung reda?" tutur amor
"Mungkin tuan kecil sudah mulai nyaman dengan Husna, nyonya, makanya tuan muda langsung diam!" ujar bik Yatri
"Seperti nya begitu!
Husna membawa bayinya itu ke kamar ia mulai menyusui bayi itu di kamar itu, Husna tersenyum melihat putra nya itu.
"Anak bunda kenapa hah? kenapa nangis sama nenek tadi?"
...
Sore harinya Mahesa pulang begitu cepat, katanya dia sudah di gantikan oleh Hendri jadinya ia bisa pulang lebih dulu, Mahesa menghela napas kasar karena dari tadi ia tidak bisa berdekatan dengan Husna, amor masih di sini makanya Mahesa menjauh dari Husna, mereka berdua bagaikan majikan dan pembantu jadinya.
Sekali-kali Mahesa mencuri pandang wajah Husna, sebenarnya ia sangat ingin berbicara dengan Husna tapi keadaan yang tidak mendukung akhirnya ia pendam dulu.
"Mama kapan pulang?" tanya Mahesa
Amor memelototi matanya pada Mahesa, "eh, kamu mau mengusir mama?" ujar amor, Mahesa mengaruk-garuk kepalanya.
"Bukan begitu ma, nanti papa cariin mama lho!" tutur Mahesa menjual nama papa nya agar mamanya ini mau pulang.
"Papa kamu sudah tau kalau mama ke sini, yang antar juga papa kok mama ke sini tadi!" tutur amor
Mahesa menghembuskan napasnya kasar, ia menggusar-gusar wajah lalu ia pergi dari kamar putra nya itu, sementara itu Husna hanya mengerutkan keningnya heran.
"Ya sudah, nenek pulang dulu ya, nanti kakek kamu nyariin nenek lagi!" tutur amor lalu memberikan Ansel kepada Husna.
"Nyonya mau balik sekarang?" tanya Husna
Amor mengangguk kecil sebagai jawaban nya, "saya antar ke depan ya nyonya!" usul Husna
"Tidak usah, kamu di sini saja, temani Ansel!" ucap amor
Setelah amor pergi Husna menyusui putra nya itu.
Mahesa bersungut-sungut di kamarnya itu, Mahesa turun dari tempat tidur nya itu, lantas ia pergi ke pintu penghubung itu untuk mengintip apakah mamanya itu masih ada di sini atau tidak, Mahesa tersenyum kecil karena ia tak menemukan mamanya lagi.
"Asikkk...!" sorak Mahesa dalam hati
Mahesa membuka pintu penghubung itu lalu ia secara pelan-pelan menghampiri Husna yang sedang menyusui bayi mereka itu.
"Anak ayah lagi nyusu ya!" sahut Mahesa langsung membuat Husna terperanjat.
"Kamu!" gerutu Husna
Mahesa pura-pura tidak mendengar gerutu Husna itu malahan dia meletakkan dagunya di bahu Husna, ia melihat putra kecilnya itu yang lagi menyusu dengan rakus nya.
Wajah Husna sudah memerah karena ulah Mahesa ini, ingin dia menghilang dari sini secepatnya. Mahesa dapat melihat jika wajah Husna memerah.
"Wajah kamu kenapa?" tanya Mahesa, Mahesa malah bertanya seperti itu alhasil Husna tambah malu jadinya.
"Tuan, tolong pegang Ansel dulu, saya mau keluar?" tutur Husna
Mahesa menatap Husna dengan tatapan dingin, kenapa dia memanggil Mahesa dengan sebutan tuan lagi?
"Ulangi!" titah Mahesa
"Apa?"
"Ulangi!"
"Iya, apa yang harus di ulang?" tanya Husna
"Ck! decak Mahesa.
Husna menautkan kedua alisnya.
"Tuan? emang saya tuan kamu?" tanya Mahesa
Husna tersenyum kecil, "memang seharusnya saya memanggil tuan dengan sebutan tuan, karena saya hanya pengasuh anak tuan saja!" tutur Husna membuat Mahesa tambah menatapnya dengan tatapan dingin.
"Saya bukan tuan mu, sudah berulang kali saya ucapkan jika saya bukan tuan mu, atau kurang jelas?" sergah Mahesa
"Lalu aku siapa kamu mas? aku istri kamu bukan, bukankah kamu mengakui ku di depan semua orang jika aku ini ibu dari anak ini!" tantang Husna.
Hatinya juga sakit saat semua orang tidak mengakui nya sebagai ibu dari anak ini, sudah sering kali ia di perlakukan layak nya seperti seorang pembantu, tidak di anggap tidak di pedulikan, kini dia mau meminta keadilan itu.
"Apa maksud kamu?" tanya Mahesa
"Jangan berkilah mas, aku juga ingin di anggap, aku capek seperti ini mas!" tutur Husna mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia tahan.
"Tolong jangan seperti ini Husna, kamu mau apa dari saya hah?" tanya Mahesa dengan nada sedang agar pertengkaran ini usai.
"Aku hanya ingin mendapatkan keadilan mas!" pinta Husna
"Keadilan seperti mana yang kamu mau?"
"Mengakui ku di depan semua orang jika aku ini istri kamu dan ibu dari anak ini!" ujar Husna
Mahesa menghela napas, sampai saat ini ia masih menyimpan rahasia pernikahan nya ini, lalu bagaimana caranya ia mau mengakui Husna di depan semua orang terutama orang tua nya.
"Jangan mengada-ngada! sergah Mahesa
"Jadi aku apa mas? memang seharusnya aku ini memanggil diri mu itu tuan, karena aku ini hanya pembantu di sini, dari awal juga seperti itu, aku hanya pantas memanggil kamu tuan bukan yang lain!" ujar Husna menghapus air matanya yang sempat keluar tadi.
Mau sampai kapan pun itu Husna meminta keadilan pasti Mahesa tidak akan mengabulkan nya, sampai saat ini saja pernikahan siri itu masih tertutup rapat, hanya saja kedua orang tua nya sudah menerima cucu dari pernikahan siri anaknya itu.
...
Malam harinya mereka berdua saling diam tidak ada yang berbicara sedikit pun, putra mereka itu sudah tidur sementara itu Husna mau merebahkan tubuhnya di kasurnya itu tapi di tahan oleh Mahesa.
Husna masih diam dia menepis tangan Mahesa itu, Mahesa juga sama ia juga diam tapi ia tetap memganggam kuat tangan Husna itu.
Husna menghela napas, "lepas!" cetus Husna
"Ikut saya!" ujar Mahesa
"Lepas, saya tidak mau ikut dengan anda!" bentak Husna, Mahesa tidak mendengarkan permintaan Husna untuk di lepaskan itu, Mahesa mengendong tubuh Husna ke kamar nya.
"Kamu apa-apa sih?" bentak Husna
Mahesa menatap Husna lalu ia mencengkram kuat kedua bahu Husna itu, "ini yang kamu minta kan!" ujar Mahesa lalu membawa Husna ke atas ranjang nya.
"Lepas, kamu apa-apa sih!" teriak Husna namun sayang sekali Mahesa membungkam mulut Husna itu.
Husna menangis terisak-isak saat Mahesa memperlakukan dirinya layaknya seperti wanita tidak baik-baik.
"Lepas mas... hiks... hiks..!" tangis Husna
"Diam!" sergah Mahesa
Malam ini merupakan malam yang pernah sama yang di alami oleh Husna, Husna menangis membelakangi Mahesa itu, sangat kejam sekali Mahesa rasanya saat ini, gara-gara meminta keadilan kepada suaminya itu tapi malam ini ia mendapati malam yang pernah ia lalui dengan Mahesa dulu, sudah lama Mahesa tidak menyentuh nya kini Mahesa mengulangi lagi.
...
Bersambung...
Jangan jadi pembaca gelap saja, tinggalkan jejak kalian, tidak ada komentar maka author tidak akan update cerita ini.
Komentar nya jangan next sama lanjut aja dong, coba komentar isi cerita nya, yang panjang kek komentar nya, jangan satu kata saja🤔🙄🤨