
Husna baru saja selesai menunaikan sholat subuh, ia kembali melipat sajadah dan meletakkan nya di dalam lemari kembali, niat hati ingin membangunkan suaminya tapi ia urungkan karena Husna masih teringat dengan kata-kata Mahesa yang menyuruh tidak usah mencampuri urusan nya.
Seorang istri mana tega melihat suaminya menuju jalan yang sesat, Husna memilih untuk membangunkan suaminya itu, dia tidak mau melihat Mahesa yang lalai akan ibadahnya.
Tiba Husna di tepi ranjang sebelah kanan ia sedikit mencondongkan tubuhnya melihat wajah Mahesa, tangan nya sudah ia letakkan di pangkal tangan Mahesa, antara takut dan tidak, Husna menghela nafas nya.
"Bismillah!" gumam Husna
"Mas bangun mas, kamu tidak sholat subuh dulu apa?" ujar Husna menahan rasa takut kalau di marahi Mahesa.
"Hmm!" racau Mahesa saat Husna menganggu tidur nya.
"Sholat subuh dulu!" ujar Husna
Dengan gerak cepat Mahesa menepis kuat tangan Husna, ia tidak ingin di ganggu tidurnya oleh siapapun.
"Saya sudah bilang jangan urus hidup saya!" bentak Mahesa
Husna menarik nafas dalam-dalam untuk meredakan rasa sakit di hatinya ini akibat di bentak oleh Mahesa.
"Kenapa kamu berubah lagi sih mas!" ujar Husna memilih berlari keluar kamar.
Mahesa yang sadar dengan apa yang ia perbuat jadi tidak bisa tidur, ia melihat Husna berlari keluar kamar.
"Apa yang aku perbuat?" lirih Mahesa
Mahesa tidak menyusul Husna ia terlalu gengsi untuk meminta maaf lagi kepada Husna, setelah meminta maaf dia pasti akan mengulangi perbuatannya ke Husna sampai seperti itulah terus menerus.
Husna duduk di sofa ruang tamu ia memegangi dadanya yang sempat sesak akibat di bentak oleh Mahesa.
"Apa salah aku menunjukkan suamiku ke jalan yang lurus?"
"Aku tidak mau melihat suamiku melalaikan kewajiban nya sebagai seorang hamba Allah, apakah aku salah membangunkan nya untuk sholat subuh?"
Husna memegangi perutnya yang terasa sakit ia meringis kesakitan, tangan nya mencengkram tepian sofa untuk menyalurkan rasa sakit nya.
"Astagfirullah alhazim kenapa sakit sekali!" lirih Husna
"Bik... bi-bibik tolong Uus!" teriak Husna
"Astagfirullah... sakit sekali!" ujar Husna mengucap istighfar
Husna mencengkram tepian sofa itu sangat kuat, bik Yatri tidak mendengar sorakan kesakitan nyonya nya itu karena bik Yatri sedang menggoreng ayam di dapur, jadi suara Husna tidak terdengar.
"Hiks... sakit sekali... mas Mahesa tolong Uus!" teriak Husna sekuat tenaga ia terus meminta pertolongan.
Mahesa masih tidur di atas kasur ia masih kepikiran bentakan nya terhadap istrinya tadi, Mahesa menggusar-gusar wajah nya.
Di lantai bawah Husna masih meringis kesakitan, perut bagian bawahnya terasa sakit sekali.
"Hiks... sakit... mas Mahesa tolong Uus!" teriak Husna sekuat ia bisa, suaranya tidak bisa keluar lagi karena menahan sakit di bagian perutnya.
Sayup-sayup Mahesa mendengar suara minta tolong, Mahesa beranjak dari tempat tidurnya ia merasa ada yang janggal karena suara minta tolong itu tidak asing di telinga nya.
"Husna!" lirih Mahesa berlari keluar kamar, Mahesa menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
Saat Mahesa tiba di bawah ia melihat Husna yang sedang kesakitan, Mahesa menghampiri Husna yang lagi kesakitan itu.
"Husna!" panik Mahesa
"Hiks... sakit mas perut Uus sakit!" beritahu Husna seraya terisak-isak.
Mahesa mengendong tubuh Husna ke ruang khusus seperti ruang di rumah sakit, Mahesa meletakkan Husna di atas brankar, karena sudah tau apa yang Mahesa lakukan ia cepat mengambil tindakan, walaupun Mahesa bukan dokter kandungan ia tau bagaimana cara tindakan yang harus di lakukan, Mahesa menyuruh Husna untuk merilekskan tubuh nya, Husna menurut saja dengan ucapan suaminya itu.
"Bagaimana, apa masih kram?" tanya Mahesa
Husna menggeleng-nggelengkan kepalanya ia sudah merasa mendingan untuk saat ini, Mahesa menghela nafas lega, tadinya Mahesa sangat panik dengan keadaan Husna yang mengalami kesakitan pada perutnya, ia pikir anak yang di kandung oleh Husna kenapa-napa, beruntung Mahesa mengambil tindakan cepat.
"Kamu jangan banyak pikiran dan jangan mengerjakan pekerjaan yang berat, bik Yatri ada yang mengerjakan pekerjaan rumah, seharusnya kamu duduk saja!" ujar Mahesa
Husna tidak menjawab yang membuat Husna banyak pikiran dan sampai stress seperti ini kan karena dia, karena Mahesa yang selalu membuat Husna banyak pikiran coba saja Mahesa bersikap baik dan perhatian mungkin Husna tidak akan stress dan banyak pikiran.
"Jangan ulangi lagi, saya tidak mau anak saya kenapa-napa!" ujar Mahesa
"Kan kamu membuat aku banyak pikiran dan stress!" ujar Husna mengungkapkan isi hatinya yang selalu di sakiti oleh Mahesa.
Mahesa langsung bungkam ia tidak bisa menjawab ucapan Husna yang ada benarnya itu, Mahesa memilih pergi dari sana karena ia tidak ingin berdebat lagi.
"Apa salahnya kamu bersikap baik pada ku mas, kalau kamu merasa jijik pada ku tapi kamu jangan juga mengabaikan anak yang aku kandung, kadang kamu perhatikan dengan anak yang aku kandung ini kadang kamu acuh saja!"
Mahesa pergi ke dapur mencari bik Yatri, ia melihat bik Yatri yang sedang mencuci piring, Mahesa menghampiri bik Yatri.
"Bik Yatri!" ujar Mahesa
Bik Yatri memberhentikan aktifitas mencuci piring nya ia berbalik menghadap tuannya yang memanggil diri nya, "iya ada apa tuan?" tanya bik Yatri
"Tolong kasih Husna air hanget untuk ia minum, di sekarang lagi di ruang tempat saya praktek!" ujar Mahesa
"Baik taun, tapi nyonya kenapa?" tanya bik Yatri
"Tadi Husna perutnya kram!" ujar Mahesa
"Ya Allah...!" kaget bik Yatri
Mahesa balik ke kamar nya sementara itu bik Yatri sudah membawakan Husna segelas air hangat yang di minta Mahesa tadi.
"Maafin bibik nyonya bibik tidak tau kalau nyonya sampai kram gini!" sesal bik Yatri
Husna tersenyum kecil saja, "tidak masalah bik, sekarang Uus sudah baik-baik saja, untung ada mas Mahesa yang nolong Uus, kalau tidak Uus tidak tau lagi kedepannya bagaimana bik!" ujar Husna
Selesai dari itu bik Yatri pamit undur diri ia masih banyak pekerjaan yang harus di kerjakan, Husna masih di dalam ruang praktek Mahesa itu, ia melihat di sekeliling ruang ini dengan dahi berkerut.
"Dokter apa sebenarnya mas Mahesa?"
Husna tidak pernah tau apa keahlian dari suaminya itu, ia hanya tau kalau Mahesa berprofesi sebagai dokter udah cuma itu saja yang ia tau.
"Punya suami dokter memang menyenangkan kalau kita sakit dia akan mengurus kita, tapi berbeda dengan ku, walaupun aku sakit dia mana peduli!" lirih Husna mengusap air matanya
Berkali-kali Mahesa menyakiti hati Husna, berkali-kali juga Mahesa tidak pernah peduli padanya, acuh itulah sifat Mahesa terhadap istri sirinya ini, tidak di anggap Husna sudah sering merasa seperti itu.
Entah kapan berakhir penderitaan yang di alami oleh Husna, entah kapan juga Mahesa bisa menerima Husna, entah mereka akan berpisah setelah Husna melahirkan anak ini, entah mereka akan tetap bersatu dengan cinta Mahesa untuk istrinya ini, kadang Husna merasa hidup nya ini tidak ada gunanya sama sekali.
"Kenapa aku terus merasakan kesedihan, kenapa aku tidak pernah merasa bahagia?"
Jadi kapan rasa bahagia itu akan menghampiri Husna?
...
Bersambung...
IG : purna_yudiani
Fb : purna yudiani